Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
148. Mereka tidak akan mendengarkan junior sepertimu


__ADS_3

Setelah Anastasia beberapa langkah meninggalkan Ana yang sudah dikerumuni oleh laki-laki, gadis itu bertemu dengan Titin.


"Akhirnya kau datang!" Anastasia berseru dengan senang.


"Ini yang kau minta." Kata Titin menyerahkan sebuah bungkusan kecil pada Anastasia.


"Oh astaga,, kau benar-benar kaya, kau menyediakan obat untuk Ana dan juga obat untuk pria-pria itu, sekarang kau memberikanku suplemen kecantikan dari DX. Terima kasih,," Anastasia tidak menunggu waktu dia langsung membuka bungkusan itu dan menelan 1 buah pil yang ada di dalam bungkusan.


Melihat itu, Titin tersenyum menyengir, 'Nikmatilah obat itu, setelahnya kau juga akan mencari laki-laki untuk memuaskanmu sama seperti Ana. Jadi pada akhirnya yang tertinggal hanyalah aku, hanyalah aku yang akan dipilih oleh Kak Caludio!' gumam Titin dengan licik.


"Titin, mana yang kau berikan untuk kami?" Mona merasa cemburu.


"Tenang saja, aku masih punya banyak di kamar. Kalian bisa mengambilnya nanti." Jawab Titin membaut Mona bersorak kegirangan.


"Hei, jangan lupa menambah bagian ku juga!" Anastasia kembali berseru ketika mendengar pembicaraan kedua gadis di depannya.

__ADS_1


"Tenang saja, selama rencana kita berjalan dengan lancar dan besok pagi Ana menjadi orang yang paling memalukan, Aku akan memberikanmu lebih banyak lagi." Titin berbicara dengan senyum aneh terukir di wajahnya, tetapi Anastasia tidak terlalu mempedulikannya, dia pikir senyum itu ditunjukkan untuk menghina Ana.


"Bagus,," Anastasia melihat kearah mana suara laki-laki sedang bercakap-cakap.


Para lelaki itu sedang memperebutkan siapa yang pertama dan siapa yang terakhir.


"Ck,, mereka benar-benar seperti singa kelaparan! Sebaiknya kita pergi dari sini." Kata Anastasia hendak berjalan pergi ketika Titin menahannya.


"Ada apa?" Tanya Anastasia menatap Titin yang menahan lengannya.


"Baiklah," Anastasia berkata sambil berjalan kearah sebuah bangku yang tak jauh dari mereka.


Melihat itu, Milan berbisik di telinga Titin "Apa kau yakin kita harus tinggal? Bagaimana kalau pria pria yang sudah memakan obat itu malah menjerat kita dan,,," Milan tidak bisa meneruskan kata-katanya karena kecemasan sudah memenuhi pikirannya.


"Tenanglah, aku sudah mengatur semuanya." Jawab Titin dengan suara yang lebih pelan lalu dia berjalan ke arah Anastasia dan duduk disamping gadis itu.

__ADS_1


"Langit begitu cerah, aku harap ini adalah pertanda baik untuk rencana kita supaya berjalan dengan lancar." Titin memandangi laut di depan mereka, cahaya bulan terpantul di atas air laut yang yang tertiup angin malam.


"Tenang saja, aku yakin semuanya akan berjalan lancar." Jawab Anastasia mengabaikan suara-suara pria yang mulai berkelahi karena tidak menemukan keputusan yang tepat tentang siapa yang lebih dulu menyentuh Ana.


"Aku harap begitu," kata Titin sembari dari sudut matanya dia melihat gerakan Anastasia yang mulai aneh.


Gadis di sampingnya mulai menggesekan kakinya mungkin karena obat yang diberikan oleh Titin telah beraksi.


"Mengapa aku mulai gerah, ini aneh,," tiba-tiba gerutu Anastasia membuat Titin langsung berdiri.


"Sebaiknya kau pergi lihat di sana, bagaimana kalau para pria itu itu malah berkelahi dan menggagalkan rencana kita?" Titin berkata pada Anastasia.


"Benar juga, mereka tidak akan mendengarkan junior sepertimu. Aku pergi dulu." Anastasia berjalan ke arah pada pria yang mulai berkelahi.


"Ayo tinggalkan tempat ini." Titin berkata kepada kedua temanya saat melihat Anastasia sudah membawa dirinya sendiri ke malapetaka.

__ADS_1


__ADS_2