
Sementara Ana yang mendengar suara kakeknya, Gadis itu kembali memunculkan kepalanya dan melihat Dewa.
"Cucuku, apa yang terjadi?" Suara Dewa begitu lembut, berbeda ketika dia berbicara dengan Shiro.
Namun begitu, semua orang masih tertekan saat mendengar suara lembut pria itu seolah dunia yang ditempati Ana dan Dewa sangat berbeda dengan dunia yang mereka tempati.
Dunia Dewa dan Ana dipenuhi cahaya hangat, sementara dunia mereka dipenuhi kegelapan dan kekelaman.
"Kakek, mereka ingin memeriksa, tapi aku sungguh baik-baik saja, Aku tidak mau diperiksa oleh dokter!" Ucap Ana dengan tegas meski di telinga semua orang suara Gadis itu tidak terdengar tegas karena Ana benar-benar diberkahi kelembutan pada suaranya dan pada seluruh ekspresi tubuhnya.
Dewa tersenyum hangat pada cucunya "Kakek mengerti, kembalilah tidur dan Kakek akan menangani orang-orang ini." Ucap Dewa lalu pria itu segera berbalik menatap semua orang sebelum keluar dari kamar Ana.
Dia lega karena ternyata cucunya baik-baik saja, hanya Siro saja yang tidak menjalankan perintah dengan baik.
Dokter dan 2 orang asisten yang mengikuti Siro, semuanya mengeluarkan keringat dingin begitu mendapat bentakan dari Dewa.
Namun apa yang bisa mereka lakukan, mereka sudah berada di sana dan tidak mungkin tiba-tiba menghilang seperti embun yang terkena cahaya matahari.
Begitu tiba di luar kamar Ana dan pintu ditutup, Dewa langsung memandangi keempat orang yang kini berdiri di depannya.
"Kalian! Beraninya kalian memaksa cucuku untuk diperiksa?! Apa yang membuat kalian begitu berani?!" Suara Dewa seperti iblis penuh kemarahan yang baru saja terbangun dari tidurnya, siap untuk melakukan balas dendam.
__ADS_1
"Maaf Tuan, say-"
"Maaf lagi, maaf! Kau belum mengerti juga, Aku paling benci dengan orang yang terus berkata maaf!" Ucap Dewa membuat ketiga orang yang berada di samping Siro langsung bergetar ketakutan.
Siro bisa merasakan mereka berdiri dengan tidak stabil namun tetap memaksa diri untuk berdiri.
Sementara Siro, pria itu hanya bisa menghela nafas.
Tadi ketika dia berada di ruangan Dewa, pria itu mengancamnya jika tidak ada catatan medis maka dia akan dipecat, tapi sekarang,
Bahkan dia menyuruhnya untuk memaksa Ana mau diperiksa jika Gadis itu tidak mau diperiksa, tapi sekarang,,,, mengapa dia malah dimarahi?
Padahal, dia tidak pernah memaksa Ana untuk diperiksa, dia hanya bertanya.
Dewa yang melihat keempat orang di depannya hanya diam, pria itu benar-benar kecewa.
"Sesuai dengan apa yang aku katakan tadi, jika kau tidak berhasil mendapatkan catatan medis Ana, maka kau segera tinggalkan tempat ini!" Ucap Dewa pada Siro.
Siro mengangkat wajahnya, itu pertama kalinya ia menatap dewa, tapi detik berikutnya dia tidak tahan melihat mata itu dan kembali menundukkan kepalanya.
Benar 'kan, pria itu hanya menjebaknya, pria itu hanya mau menjelekkan dirinya di depan keluarga Anderson.
__ADS_1
"Tuan, tolong beri saya kesempatan sekali lagi. Saya janji tidak akan pernah mengulangi kesalahan saya." Ucap Andra.
"Kesempatan? He,," Dewa mencibir. "Kau pikir kau layak mendapatkan kesempatan?! Tidak layak sama sekali!" Ucap Dewa lalu pria paruh baya itu meninggalkan Siro.
"Lalu bagaimana dengan kam-" sang dokter yang berbicara langsung menghentikan ucapannya ketika Dewa menghentikan langkahnya dan kembali menatap mereka.
"Satu orang diantara kalian berempat akan dipecat." Ucap Dewa dengan dingin lalu pria itu kembali meninggalkan keempat orang yang kini berdiri gemetaran.
Siro melihat kepergian Dewa, satu orang diantara mereka, maka itu artinya mereka berempat masih bisa berunding tentang siapa yang akan dipecat.
Artinya, dia masih punya kesempatan.
"La,, la,, lalu,, si,, si,, siapa,, yang akk,, akan di,, pecat?" Salah seorang pria langsung berbicara ketika dia menyadari bahwa diantara keempat orang itu dia lah yang memiliki jabatan paling rendah.
Sang dokter yang mendengar ucapan bawahannya langsung menoleh pada Siro, jelas-jelas yang mendatangkan masalah adalah Siro, jadi seharusnya, pria itulah yang benar-benar dipecat, apalagi tadi dia sudah mendengar bahwa Siro tidak punya kelayakan untuk mendapatkan kesempatan.
Tapi, posisinya masih jauh di bawah Siro, jadi apakah dia berhak mengatakannya?
Dia tidak mungkin menang bukan?
@Interaksi
__ADS_1
Insyaf,, coba tanya reder, kapan mereka insyaf? Saat itu jugalah waktu otor tiba.