Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
139. Gemetaran karena kedinginan


__ADS_3

Setelah menunggu sekitar 10 menit, Siro sudah kembali membawa 3 buah payung di tangannya.


Satu payung digunakan untuk menangkal hujan yang jatuh. Sementara dua payung lainnya terlipat dengan rapi di tangannya yang lain.


Tapi ketika pria itu mendekati Ana, dia mengernyit melihat adanya Claudio di samping Ana.


Meski jarak mereka cukup jauh tapi pria itu tetap menggertakkan giginya dan tidak menyukai pemandangan itu.


"Kak Siro datang." Kiora berseru dengan senang sembari berdiri menarik Ana lalu keduanya meninggalkan Claudio yang masih duduk memandangi mereka.


"Bukankah kau bilang kau tidak menyukai Kak Siro karena dia selalu menganggapmu sebagai orang asing? Mengapa kau jadi senang ketika dia datang?" Ana bertanya.


"Hmm, meskipun dia menganggapku sebagai orang asing, tapi dia tidak pernah membentakku dan tidak pernah mengatakan sesuatu yang sangat buruk kepadaku. Tidak seperti orang lain yang baru saja berbicara dengan kita!" Suara Kiora tidak pelan jadi Claudio yang berada di belakang kedua gadis itu bisa mendengarnya.


Diam-diam, Claudio tersenyum sinis dengan ucapan Kiora.


Beraninya gadis itu,,, dia pikir dirinya siapa?!


"Kau tidak boleh berkata seperti itu, bagaimana kalau dia membencimu?" Ana bertanya dengan khawatir.

__ADS_1


"Bodoh amat! Aku tidak perduli! Yang penting aku tidak menyukainya!" Jawab Kiora disertai suaranya yang judes.


Ana tidak mengatakan apapun lagi dia terus berdiri menunggu Siro yang berjalan perlahan kearah mereka.


"Nona Muda, ini payungnya." Siro menyerahkan 2 payung pada masing-masing gadis di depannya.


Baru saja Ana dan Kiora membuka payungnya ketika Titin dan kedua temannya sudah datang mendekati Claudio yang berada tak jauh dari mereka.


"Sial..! Ayo cepat pergi dari sini, kalau tidak kita akan ketularan oleh bakteri dari kecoa terbang!" Kiora berkata dengan kesal lalu segera menarik Ana dan ketiganya pergi meninggalkan tempat itu.


"Huh...! Dasar orang-orang miskin yang sombong!" Milan berkata dengan kesal ketika melihat ketiga orang itu telah pergi.


Sementara 3 orang yang sudah meninggalkan tempat itu, ketiganya segera tiba di parkiran.


Ana membalas senyum Kiora lalu dia dibantu Siro memegang payungnya sebelum masuk ke dalam mobil dengan aman.


Siro juga masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Ana di kursi kemudi.


Ana memperhatikan Siro, baju pria itu telah basah kuyup karena sudah menerjang hujan yang lebat hanya untuk mengambil payung bagi mereka.

__ADS_1


"Kak Siro, maaf merepotkanmu." Katanya penuh rasa bersalah.


"Ini sudah tugas saya." Siro menjawab dengan acuh tak acuh sembari menghidupkan mesin kendaraan lalu memajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.


Sementara mobil berjalan, Ana mengulurkan tangannya dan menyalahkan pemanas dalam mobil supaya mereka tidak terlalu kedinginan.


Siro memperhatikan Ana dan mengetahui bahwa tubuh gadis itu juga sedikit basah karena tadinya ketika mereka meninggalkan kampus angin bertiup membuat titik-titik air hujan mengenai baju Ana.


"Apakah Nona baik-baik saja?" Tanya Siro.


Pertanyaan Siro yang tiba-tiba membuat Ana terkejut saat gadis itu menatap Siro dengan bingung.


"Baju Nona juga basah. Kaki Nona pun,,"


"Tidak apa, bahkan kau jauh lebih basah daripada aku." Ana berkata dengan santai sebelum gadis itu kembali tertunduk sebagai sikap untuk mengakhiri pembicaraan mereka.


Ia akan menjadi sangat malu ketika dia mengeluh karena basah sedikit sementara pria disampingnya sudah seperti orang yang habis tercebur di air kolam.


Awalnya Ana bisa menahan, tetapi perjalanan ke kediaman Dewa membutuhkan 40 menit lebih, jadi semakin lama, dia semakin menggigil di dalam mobil.

__ADS_1


Wajahnya yang putih bersih dalam sekejap berubah menjadi pucat saat tubuhnya yang memang sensitif menjadi tak bisa menahan dinginnya air yang menyerap di pakaiannya.


Tubuhnya sedikit gemetaran karena kedinginan.


__ADS_2