Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
81. Istilah Ulat bulu pincang


__ADS_3

Siro menyusul Andra ke arah mobil dan pria itu baru akan memasuki mobil ketika Andra berbalik menatapnya.


Andra menatap ke pintu rumah dan melihat istrinya sudah masuk ke dalam rumah, lalu pria itu menatap Siro.


"Dapatkan ikan mujair betina untukku, harus ada di hadapanku sebelum jam 6 dan ikan-ikan itu harus dalam kondisi hidup." Ucap Andra lalu pria itu segera naik ke atas mobil yang akan membawa mereka ke tepi pantai.


Tidak ada rasa bersalah pada Andra setelah membebankan tugasnya pada Siro.


Siro menelan air liurnya sebelum berjalan ke mobil yang lain menyerahkan alat pancing milik Andra pada beberapa pengawal yang akan mengikuti mobil itu.


'Apakah aku ayah dari anak yang dikandung oleh nyonya? Mengapa harus aku yang repot memenuhi permintaan Nyonya?' Siro mengeluh dalam hati.


Dengan berpeluh keringat, Siro memasuki mansion putih lebih tepatnya ke ruang kendali.


Pria itu melihat asisten Samudra berada di sana dan langsung menghampirinya.


"Apa kau tahu dimana mendapatkan ikan mujair yang paling dekat dari sini?" Tanyanya.


"Mujair? Kau bisa mendapatkannya di negara tetangga. Tapi untuk apa ikan mujair?" Tanya Axia.


Axia adalah asisten pribadi Samudra selama pria itu berada di pulau putih. Dia mengetahui segala hal yang berhubungan dengan pulau putih dan negara AS.


"Berapa lama perjalanan ke sana?" Tanya Siro.

__ADS_1


"Menggunakan pesawat jet kau bisa sampai dalam waktu 10 menit." Jawab Axia.


"Bagus, aku perlu pesawat jet dan beberapa kru. Aku harus membawa ikan ikan mujair hidup dari sana dan-"


"Tapi yang ada di sana adalah ikan mujair kering yang diimpor dari AF. Aku pikir kau-"


"Ikan kering?!" Siro memijat keningnya dengan frustasi.


"Aku butuh ikan mujair hidup dalam waktu 3 jam! Lebih parahnya lagi jenis kelaminnya harus betina!" Ucap Siro melihat jam tangannya.


"Kenapa kau tidak bilang? Kalau begitu kau bisa pergi ke AF, tapi kau setidaknya membutuhkan waktu selama 5 jam, karena negara itu adalah negara berkembang dengan fasilitas minim.


"Meski kau menggunakan pesawat jet untuk tiba di sana, kau perlu menggunakan helikopter untuk pergi ke perkampungan yang menjual ikan mujair hidup.


"Aku akan pergi!" Ucap Siro segera mengambil rentetan kartu akses di atas meja lalu meninggalkan Axia.


"Ikan mujair? Untuk apa ikan murahan itu?" Ucap Axia dengan bingung sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu, Andra dan Dewa yang berada di dalam mobil menuju ke tepi pantai, kedua pria itu terlihat sangat tenang.


Andra duduk memejamkan matanya seolah-olah pria itu sama sekali tidak kuatir dengan misi yang diberikan kepada Siro.


"Tuan, kita sudah sampai." Ucap sang supir ketika mereka tiba lalu kedua pria itu segera turun dari mobil dan menaiki Cuddy Cabins Boats.

__ADS_1


Perahu membawa mereka segera tiba di tempat memancing yang sering mereka datangi saat Andra masih kecil.


Keduanya memasang alat pancingnya dan mulai memancing bersama.


Sembari menunggu pancingan mereka di lirik oleh ikan-ikan, Andra kemudian memanfaatkan kesempatan itu melirik pada kakeknya yang dengan tenang menatap lautan luas.


"Kakek, Apa yang membuat mata kakek tertutup hingga bisa mengencani ulat bulu pincang?" Tanya Andra.


Pertanyaan Andra membuat Dewa mengeryit saat pria itu menatap cucunya dengan bingung.


"Ulat bulu pincang?" Tanya Dewa tak mengerti.


Apakah itu istilah terbaru untuk seorang perempuan?


Mengapa dia tidak tahu?


Padahal selama ini dia sudah berusaha mencari istilah-istilah anak muda di internet dan mempelajarinya. Tapi dia tidak pernah mendengar istilah ulat bulu pincang.


@Interaksi



Kenapa? Mbak Monica juga mau sama Dewa? Kalo gak mau, nanti tak jodohin...

__ADS_1


__ADS_2