
Setelah rapat dengan pemegang saham selesai, Andra kembali bekerja menyelesaikan segala urusan, tapi nampaknya keberuntungan tidak berpihak padanya.
Harga saham di kedua perusahaan terus merosot dan dia hanya sendirian menanganinya hingga dia menjadi kewalahan.
Dia sudah lembur dua hari di kantor dan pada pukul 2 subuh tenaganya sudah habis, pria itu lalu berjalan ke tempat tidur untuk istirahat selama 1 jam.
Karena terlalu kelelahan, pria itu tertidur sangat lama. Pikirannya yang terus-menerus merindukan Putri membuatnya bermimpi bertemu putri di dalam mimpinya.
"Sayang," panggil seorang perempuan dengan gaun serba putih di mana perempuan itu terlihat sangat memukau.
"Putri," Andra berlari menghampiri kekasihnya dan memeluk perempuan itu sembari menatap wajah Putri dengan seksama.
"Aku bisa melihat, aku bisa melihatmu!' ucap Andra penuh haru. Ia sangat senang dan tersenyum sampai ke dunia nyata.
Dia masih menikmati kebahagiaannya kala tiba-tiba saja tubuh Putri berubah menjadi cahaya yang sangat putih dan menyilaukan mata Andra.
"Putri..!" Teriak pria itu langsung terbangun dari mimpinya kala ia langsung duduk dan terkejut melihat Siro sementara berdiri di depannya dengan ekspresi paling terkejut.
"Siro!" Ucapnya mengerjapkan matanya saat ia tak percaya bahwa matanya telah sembuh.
__ADS_1
Namun detik berikutnya, tatapannya tertuju pada sebuah foto besar yang berada di belakang Siro.
"Tu,, tu,, tuan sudah bisa melihat?" Tanya Siro saat pria itu membulatkan matanya menatap Andra.
"Foto di belakangmu?" Ucap Andra mengabaikan pertanyaan Siro karena dia lebih fokus pada wajah perempuan di dalam foto pernikahan di belakang Siro.
"Aah, jadi Tuan sudah bisa mengenali Putri? Itu foto pernikahan Tuan dengan Putri. Maksudku, dengan Nyonya Sarah." Ucap Siro dengan santai.
"Apa katamu?!" Andra mengeryit.
"Ya,, selama ini semua orang sudah mengatakan pada Tuan Kalau Putri adalah orang yang sama dengan Sarah. Tapi Tuan tidak pernah mau mempercayainya. Sekarang karena Tuan sudah bisa melihat maka saya tidak perlu menjelaskan apapun lagi." ucap Siro dengan senyuman terukir di bibirnya seolah pria itu mengejek Andra.
Saat itu, Samudra, Laila dan Ana sedang berlibur di sebuah pantai yang tak jauh dari ibu kota. Hanya 2 jam perjalanan menggunakan mobil.
"Ada apa?" Tanya Samudra yang sedang memandangi istri dan anaknya yang sedang berfoto-foto di pinggir pantai yang sepi.
Samudra memang sengaja menyewa seluruh area pantai itu supaya tidak ada seorangpun yang mengganggu liburan mereka.
Apalagi tentang kabar kebangkrutan perusahaan mereka, pastilah akan menarik banyak perhatian orang saat melihat mereka sementara berlibur di tengah kekacauan keluarga mereka.
__ADS_1
"Tuan, tuan muda sudah bisa melihat, dan saat in-" suara Shiro terputus.
"Ayah! Mengapa kau membohongiku berkali-kali?! Mengapa tidak mengatakan kalau Sarah adalah Putri?!" Tanya Andra disertai nada kemarahan pria itu.
"Apa lagi, bahkan ibumu saja tidak dapat kau percayai, apalagi ayah?" Ucap Samudra dengan suara mengejek sebelum terdengar nada sambungan yang diputuskan.
"Akhirnya dia bisa melihat." Ucap Samudra tersenyum lalu pria itu berjalan mendekati kedua perempuan yang sedang melihat foto-foto mereka.
"Ayo kembali, Andra sudah bisa melihat dan Ayah harus menangani masalah perusahaan." Ucap Samudra mengagetkan dua perempuan itu.
"Apa?! Jadi?!"
"Ya,, ayo." Kata Samudra lalu ketiganya segera meninggalkan pantai di mana mereka berlibur.
@Interaksi
BAB selanjutnya diceritain ya... Tapi kalo soal menggantung, otor gak niat gantung leher, lebih suka gantung hati sih...
__ADS_1