Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
49. Perasaan yang rumit


__ADS_3

Di dalam kamar Angkasa dan Leora.


"Sayang duduklah." Ucap Leora memaksa suaminya duduk di tepi ranjang lalu Leora mengambil kursi meja rias dan meletakkannya di depan Angkasa sebelum duduk di situ.


"Ada apa?" Tanya Angkasa.


Leora tersenyum dan menatap suaminya dengan rumit.


"Sayang," ucap Angkasa meraih tangan Leora dan menggenggamnya dengan erat melupakan rasa sakit pada tangannya yang sudah digunakan untuk menghajar Samudra.


"Aku rasa kemungkinan besar Putri kita mengalami hal yang sama dengan yang pernah kita alami. Kau ingat masa-masa awal pernikahan kita? Sangat rumit dan penuh dengan kesakitan.


"Aku bahkan tidak berani mengingatnya karena terlalu menyakitkan. Tap-" belum selesai Leora mengungkit masa lalu mereka saat Angkasa sudah menariknya ke pangkuannya dan memeluknya dengan erat. (Ranjang balas dendam S1)


Seketika, bulir-bulir airmata dari mata perempuan itu jatuh membasahi pipi saat ia memeluk suaminya dengan erat.


"Putri kita juga merasakan hal yang sama, tapi kita tidak boleh mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi." Ucap Leora.


"Maaf,, maaf sayang. Aku minta maaf." Ucap Angkasa.


Dia juga menyesal akan kejadian masa lalu mereka, tapi entah kenapa, saat ini dia benar-benar tidak bisa memaafkan Andra.

__ADS_1


"Aku tidak melarang saat kamu ingin hukum Andra karena dia memang pantas mendapatkannya. Tapi aku setuju dengan Samudra, jangan mencoba memisahkan mereka kecuali mereka berdua benar-benar ingin berpisah." Ucap Leora.


"Baiklah baik,, Aku akan mendengarkan mu." Ucap Angkasa kembali mengeratkan pelukannya pada istrinya.


Selama bertahun-tahun, dia masih terus merasa bersalah pada istrinya karena apa yang pernah ia perbuat di masa lalu.


Jadi itu menjadi salah satu alasan kenapa ia tidak pernah bisa membantah Leora bahkan ketika perempuan itu menginginkan sesuatu yang berada di luar kehendaknya, dia akan melakukan apapun untuk mewujudkan sebuah kemustahilan.


Sementara di luar kamar.


"Jangan murung, Ibu pasti sedang membujuk ayah." Kata Giang ketika ia melihat adiknya sangat murung saat Angkasa dan Leora telah masuk ke dalam kamar mereka.


*Aku tidak bisa membantah ayah, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan perasaan ku. Aku takut kalau ayah sampai berniat memisahkan aku dengan Andra.* Jawab Sarah.


Meski bibir Giang berkata bahwa dia mendukung hubungan Sarah dengan Andra, tapi di sisi lain hatinya juga bergejolak bahwa dia teramat mencintai perempuan didalam pelukanya itu.


*Apakah Kakak punya ide yang mungkin bisa menjadi kekuatanku untuk mempertahankan pernikahanku tanpa harus membantah ayah?* Tanya Sarah.


"Ada, kalau kau mengandung anak dari Andra maka ayah akan memikirkan nasib cucu-" Giang belum selesai berbicara ketika Sarah sudah melompat dan perempuan itu berlari ke kamar.


Merasa aneh, Giang mengikuti adiknya dan menemukan perempuan itu sedang membongkar sebuah tas berwarna hitam.

__ADS_1


"Apa yang kau cari?" Tanya Giang.


'Ini!' gumam Sarah sambil tersenyum sembari memperlihatkan sebuah tespack di tangannya.


"Periksalah." Ucap Giang membiarkan perempuan itu memasuki kamar mandi.


'Adikku, mengapa dalam hati kecilku Aku berharap supaya hanya ada satu garis merah pada testpack itu? Hah,," Giang memijat keningnya lalu pria itu duduk di tempat tidur milik Sarah.


'Ini tidak benar, aku tidak boleh menginginkan adikku sendiri.' Gumamnya kembali mengingat momen ketika ayah dan ibunya masih hidup.


"Putraku, kalau suatu saat kalau kau jatuh cinta, kau harus memperjuangkan cintamu. Kalau ada yang menghalanginya, kau bisa mengatakannya pada ayah dan ibu dan juga pada ayah Angkasa dan ibu Leora." Ucap Anggara yang merupakan ayah kandung Giang.


"Benar, apa lagi kalau gadisnya secantik Ibu!"


"Atau secantik aku!" Ucap gadis kecil yang tak lain adalah Sarah.


"Hnnnngg..!!!" Lamunan Giang pada masa lalunya langsung terhenti ketika mendengar suara teriakan dari kamar mandi.


Pria itu segera berlari membuka pintu kamar mandi.


@Interaksi

__ADS_1



Bintangnya cuma satu. Tapi karena dulu otor begitu marah sama Reder yang sok jago mau ngalain keganasan Otor, maka tanpa sengaja bintangnya otor remas hingga hancur. abis itu otor tebarkan puing-puingnya di langit biar menemani bulan yang kesepian..👀👀 eh,, tenyata yang rusak itu malah menarik perhatian mahluk bumi🤭🤭 seleramu itu..!


__ADS_2