
Di kota FF, orang kaya dan orang miskin di kotak-kotakkan dengan sangat apik sehingga dengan mudah dapat dilihat yang mana yang kaya dan yang mana yang miskin.
Keluarga kelas menengah ke atas memiliki sekolah yang berbeda dengan keluarga kelas menengah ke bawah. Begitupun rumah sakitnya, perusahaan dan segala-galanya di kota FF.
Bisa dibilang, pemerintah tidak ada artinya di kota FF karena semua tempat itu telah dikuasai oleh para bangsawan kelas atas dan pemimpinnya adalah Dewa, pria pemimpin DX yang terkenal kejam dan merupakan orang paling kaya di tempat itu.
Sekarang, Ana berada di rumah sakit terbaik dan sedang ditangani oleh dokter.
Siro menunggu di luar ruangan sembari memegang tas Ana dan tiba-tiba ponsel di dalam tas Ana bergetar.
Pria itu bisa menebak bahwa yang menelepon pastilah teman ana.
'Astaga, harusnya Aku tidak membawa gadis itu, sekarang dia tahu bahwa aku membawa Ana ke rumah sakit ini.' Shiro memejamkan matanya lalu mengambil ponsel milik Ana dari dalam tas dan mengangkat panggilannya.
"Halo? Dimana kau? Aku tertinggal di lobby, aku juga tidak diizinkan memasuki lift." Ucap gadis dari seberang telepon.
"Ini saya, sebaiknya Nona kembali saja, saya yang akan menangani segala urusan yang berhubungan dengan Nona muda." Ucap Siro.
Kiora "..."
Mereka datang bertiga dan dia ditinggalkan begitu saja? Dia bahkan sudah meninggalkan kuliahnya demi menemani Ana, tapi sekarang,,
__ADS_1
"Apa? Tapi ak."
Tut Tut Tut..
Kiora melototkan matanya mendengar suara panggilan yang diputuskan.
"Dasar pengawal sialan! Aku hanya ingin menemani Ana dan dia malah melakukan hal ini padaku?! Haiiissss..!!" Kiora menggerutu dengan kesal.
"Maaf nona jangan berteriak-teriak di rumah sakit." Resepsionis yang sedari tadi memperhatikan anak mengingatkan gadis itu.
"Maaf," Kiora membungkukkan badannya pada resepsionis lalu Gadis itu segera pergi meninggalkan tempat itu.
Kiora meninggalkan rumah Sakit, sementara Ana masih dirawat di ruangan dokter.
"Kenapa kau menggunakan sembarangan krim? Bukan ke aku sudah memberitahumu bahwa kulitmu sangat sensitif jadi tidak boleh sembarang menggunakan krim yang tidak jelas." Dokter berbicara sembari melakukan perawatan pada kulit anak.
"Maaf Dok, aku tidak sengaja." Ana menunjukkan wajah penyesalannya dan dipenuhi kesedihan "Apakah wajahku baik-baik saja? Apakah krimnya akan membuat wajahku menjadi,,, jelek?" Tanya Ana.
"Tenang saja, kau akan baik-baik saja. Tapi aku mengatakan lagi padamu, jangan sembarangan menggunakan kosmetik termasuk kosmetik dari farmasi DX.
Bahkan jika kosmetik dari sana sangat baik, tetapi takaran bahannya sudah diatur untuk masing-masing orang.
__ADS_1
Dan kosmetik yang kau gunakan ini, sangat tidak cocok dengan kulitmu yang sensitif." Dokter terus berbicara menyalahkan Ana.
"Saya mengerti Dok, maaf." Ucap Ana menghela nafas.
Paling tidak dia sudah baik-baik saja jadi tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.
Sang dokter menghela nafas, dia masih ingin memberikan banyak omelan pada gadis di depannya tapi dia menyadari seperti apa identitas gadis di depannya jadi dia tidak boleh sembarangan berbicara.
Sudah cukup apa yang dia katakan, selanjutnya terserah gadis itu saja mau menurutinya atau tidak.
"Setelah perawatan ini selesai, kau tidak boleh membasuh wajahmu sampai besok pagi dan besok pagi-pagi sekali kau harus datang kemari supaya aku memberikan perawatan tambahan.
Juga, untuk satu minggu kedepan kulitmu tidak boleh terkena cahaya matahari." Dokter mengatakan pesan terakhirnya pada anak sebelum meninggalkan gadis itu, membiarkan Ana beristirahat.
@Interaksi
Kenapa? Ngiri?
Kalo kamu yang jalan-jalan kesana pasti gak balik-balik lagi dari sana, tapi kalo otor,,,, bebas lah ya...
__ADS_1