Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
160. Buat apa kasihan?!


__ADS_3

"Ayah,, akhirnya kamu datang, cepat keluarkan kami dari sini!" Kata Titin pada Ayahnya.


Para pengawal membiarkan Ayah dan Ibu Titin masuk ke dalam ruangan lalu kedua orang tua itu memeluk Putri mereka.


"Sayang, apa yang terjadi?" Nyonya Benta melihat sekeliling terutama pada keadaan yang sangat kacau, pria yang diikat dan sudah babak belur karena dipukuli.


"Ibu, sesuatu terjadi dan para pengawal itu berani-beraninya menyeret Putri Ibu kemari! Mereka hendak memukuli kami semua!" Titin langsung mengadu pada ayah dan ibunya.


"Benar, kami hanya tidak sengaja melukai Seorang Gadis miskin Dan mereka sampai marah seperti ini." Mona membenarkan Titin.


"Benar Tante, kami sangat takut tadi, mereka memperlihatkan wajah garang mereka pada kami." Milan menambahkan sembari memperlihatkan wajah ketakutannya menatap pada dua pengawal yang masih berjaga di depan pintu.


"Sudah, sudah,,, sekarang ayo kita pergi dari sini." Tuan Rohan menarik putrinya agar mereka meninggalkan tempat itu.


Namun, mereka terkejut ketika dua pengawal yang berjaga tidak mengijinkan mereka keluar.


"Apa yang kalian lakukan?! Tidak tahukah kalian siapa aku?!" Tuan Rohan berteriak pada kedua pengawal itu..


Kedua pengawal yang mendengar teriakan itu sama sekali tidak menanggapinya dan hanya berdiri di sana sembari membuat pagar betis.


"Apa Kalian tuli?! Ayahku sedang berbicara dengan kalian!" Titin mendengus kesal.

__ADS_1


"Kami berasal dari keluarga Rohan, sebaiknya kalian membuka jalan untuk kami atau kami tidak akan segan-segan lagi untuk bertindak!" Tuan Rohan kembali memberi peringatan pada dua pengawal yang masih bersikukuh tidak mengizinkan mereka meninggalkan ruangan itu.


Tapi dua pria itu benar-benar tidak bereaksi, mereka hanya menahan ketika Tuan Rohan berusaha menerobos.


Sementara Annastasia yang tertidur di pojok ruangan, dia akhirnya mengerjapkan matanya setelah dia terganggu dengan suara keluarga Rohan yang terus memarahi para pengawal.


Ia mengerjapkan matanya sembari berusaha menggerakkan tubuhnya yang kesakitan di sana-sini hingga terlalu kaku untuk digerakkan.


"Ahh, sakit.." Annastasia menggerutu sembari menyesuaikan penglihatannya dengan tempat yang terang itu.


Baru saja dia membuka matanya dan melihat sekelilingnya dimana para pria yang dia undang melecehkan Ana sedang terikat satu sama lain dan memandanginya dengan tatapan marah.


"Ahhh...!!" Teriaknya segera duduk dan menyembunyikan tubuhnya di Bali kain tipis kecil yang menyelimutinya.


"Kenapa begini??" Tubuhnya gemetaran dan dia memandang marah pada setiap orang yang berada di dalam ruangan.


"Cih, dia sudah sadar," Mona berdecak kesal ketika melihat Anastasia yang menggila di sudut ruangan.


"Oh,, kasihan sekali,, Apakah dia pikir kalau dia masih bisa bersama dengan Caludio setelah apa yang terjadi?" Milan ikut mengejek sembari memperhatikan keadaan Anastasia di mana perempuan itu telah menangis dengan hebat dan matanya dipenuhi ketakutan.


"Ya,, setelah orang-orang orang tuaku datang menyingkirkan para pengawal yang sok tahu ini, kita akan bebas dari sini dan seseorang yang lain mungkin akan,,," Titin tidak melanjutkan ucapannya tapi dari raut wajahnya semua orang dapat menebak kelanjutannya.

__ADS_1


"Kalian,, kalian..! Kalian menjebakku!!" Suara kemarahan Titin begitu serak dan bergetar karena ketakutannya.


"Oho,,, sebenarnya kaulah yang menjebak dirimu sendiri. Kami bahkan tidak tahu mengapa kami berada di sini? Padahal kami bahkan tidak berada ditempat kejadian." Titin berkata tanpa rasa bersalah.


"Kalian,,, aku akan mencakar kalian,, para penghianat,,!"


"Oh, cobalah, datanglah kemari dan sentuh kami. Berdirilah..!" Milan mencibir perempuan yang terus memperbaiki kain kecil yang menutupi tubuhnya.


"Hiks,, hikss,," suara Anastasia sangat memilukan tapi tidak ada satupun orang yang merasa kasihan dengan perempuan itu.


Semua orang hanya melihatnya dengan tatapan mencibir, mereka tidak akan berada di tempat itu dengan luka-luka di sekujur tubuh mereka seandainya Anastasya tidak mengundang mereka ke sana untuk menikmati pesta yang malah berujung kekacauan.


Jadi,,buat apa kasihan?!


@Interaksi



Suka banget gosipin otor di kolom komentar he....


__ADS_1


__ADS_2