Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
154. Mati tanpa penerus


__ADS_3

"Bagaimana?" Dewa bertanya pada orang kepercayaannya yang baru saja memasuki ruangan di mana dia sedang menyendiri memikirkan masalah yang sedang dihadapi cucunya.


"Kami sudah menemukan semua orang yang terlibat dalam masalah ini." Jawab pria itu membawa dokumen hasil penyelidikannya pada Dewa.


"Jadi kelurga Rohan terlibat?" Dewa membaca sepintas.


"Benar Tuanku, otak dibalik terjadinya insiden ini adalah putri dari keluarga Rohan. Dia yang menggunakan kekuasaan ayahnya untuk mengambil obat di farmasi DX lalu memberikannya pada temannya yang bernama Anasta kemudian disuntikkan pada tubuh Nona Muda. Mereka berniat melecehkan Nona Muda dengan menyediakan 10 pria-"


Brak...!


"Apa?! Melecehkan?! Dasar binatang..!" Dewa berteriak dengan keras.


"Lalu, pengawal mana yang lalai menjalankan tugasnya hingga insiden ini bisa terjadi?" Andra tiba-tiba memasuki ruangan karena ia mendengar suara teriakan Dewa dari ruangan.


"Saya minta maaf, sebenarnya ini juga adalah kesalahan saya, salah satu pengawal yang saya tugaskan untuk menjaga Nona Muda adalah pengawal baru yang belum berpengalaman. Dan ketika Nona Muda diculik, pengawal itulah yang bertugas menjaga pintu kamar Nona muda." Jawab pria kepercayaan Dewa.


"Kau..! Binatang!!" Dewa sangat marah.

__ADS_1


Bagaimana bisa orang kepercayaannya melakukan kesalahan bodoh seperti itu?!


"Tu,, tuan,, ini semua salah saya,, saya pikir Nona Mud,,"


"Diam kau binatang!" Teriak Dewa membuat bawahannya menjadi semakin ketakutan.


Dewa berjalan ke arah pria itu untuk memukulnya.


"Kau pergi lah." Perintah Andra ketika dia sudah muak melihat kemarahan Dewa.


Andra menoleh pada Dewa yang sedang berada dalam kekacauan nya "Aku baru saja menghubungi ayahku, dia bilang dia akan segera kemari, tetapi dia memutuskan bahwa siapapun yang sudah menolong Ana, maka pria itulah yang akan ditugaskan untuk menyembuhkan Ana." Kata Andra.


"Siapa lagi? Lagi pula aku sudah menyetujui kalau Ana menikah dengan Siro." Jawab Andra.


"Apa katamu?!" Dewa langsung berdiri menghadap Andra dan menatap dengan tatapan marah.


Berani-beraninya cucunya itu berpikir untuk menjodohkan Ana dengan seorang pengawal rendahan?! Tidak mungkin..!

__ADS_1


"Ayah dan ibuku juga sudah menyetujuinya." Kata Andra dengan santai.


"Mereka tidak berhak memutuskan siapa yang boleh menyentuh Ana! Hanya aku yang bisa memutuskannya karena Ana adalah penerusku, suaminya kelak akan menjadi pendampingnya mengelola segala sesuatu yang kumiliki! Aku tidak mungkin membiarkan orang rendahan memimpin perusahaanku!" Kata Dewa dengan tegas.


"Benarkah? Bagaimana kalau aku dan ayahku tidak mengizinkan Ana meneruskan usaha Kakek?!" Andra mencibir.


"Apa katamu?! Beraninya kau membantah kakekmu!!" Dewa sangat marah.


"Sepertinya kakek tidak tahu, Ana tidak akan merepotkan dirinya mengurusi milik Kakek! Dia bercita-cita menjadi penulis buku anak-anak, bukan menjadi pebisnis!" Jawab Andra.


"He, penulis? Apa yang didapat dari pekerjaan itu?! Tidak menghasilkan uang..!" Geram Dewa.


"Lalu kakek sendiri, apa yang Kakek dapat dari pekerjaan kakek?! Hanya kekuasaan materi, lalu apakah itu sudah cukup untuk menemani kakek ketika kakek menua dan mati?! Lihat sekarang, bahkan kakek sudah mulai pusing bagaimana cara mengelola semua harta kakek ketika kakek sudah mati nanti! Jadi kakek jangan berpikir kalau Ana akan bernasib sama dengan kakek, aku tidak mengijinkannya!" Tegas Andra.


"Lalu, kau mau kalau aku mati tanpa penerus? Bagaimana bisa kau,,,!!"


"Mati ya mati saja, jangan merepotkan orang yang masih hidup untuk mengurusi warisan Kakek." Kata Andra lalu pria itu segera keluar meninggalkan Dewa dalam keadaan marah.

__ADS_1


Lebih baik mengurusi Ana daripada berdebat dengan pria keras kepala itu, hanya mementingkan kepentingannya sendiri!



__ADS_2