Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
67. Surat perjanjian


__ADS_3

"Sayang, Apa kau yakin kau benar-benar akan memisahkan mereka?" Leora bertanya pada Angkasa kala mereka berdua sedang berada di ruangan VIP memperhatikan dua orang yang berpelukan di dalam kamar Andra.


"Aku belum puas memberinya pelajaran." Kata Angkasa karena pria itu sangat tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Andra pada Sarah.


Meski putrinya sangat mencintai pria itu, tapi bukankah pria itu harus menerima hukuman yang sangat berat sebelum dimaafkan?


"Sayang?! Bahkan dulu ketika kau melakukan kesalahan seperti itu, sekali pun aku tidak pernah berniat menghukummu. Mengapa sekarang kamu jadi seperti ini?" Tanya Leora.


"Aku dan Andra adalah pria yang berbeda, selamanya aku bisa memperlakukanmu dengan baik setelah menyadari kesalahan ku, tapi bagaimana dengan Andra? Apa kau yakin dia bisa bersikap sepertiku?" Tanya Angkasa pada Leora.


"Aku juga yakin bahwa dia bisa melakukannya. Buat saja surat perjanjian, suruh Andra menandatanganinya. Dengan begitu kita bisa yakin kalau pria itu benar-benar tidak akan pernah mengecewakan Sarah." Ucap Leora di mana perempuan itu sangat tidak tega jika melihat Sarah kembali terluka karena harus berpisah dengan Andra untuk yang kedua kalinya.


Angkasa berpikir sejenak, di dalam hatinya dia meyakini bahwa semua yang dikatakan istrinya adalah benar, tetapi menurut logikanya, apa yang dialami Andra belum sepadan dengan penderitaan yang dialami oleh putrinya.


"Sayang kumohon. Saat ini anak kita sedang hamil, kalau dia sampai stres karena memikirkan dirinya yang harus berpisah dengan Andra, apa kau pikir cucu kita bisa bertahan di dalam kandungan putri kita?" Kata Leora membujuk suaminya.


Angkasa memejamkan matanya memikirkan ucapan Leora


"Baiklah," ucap Angkasa memeluk erat istrinya sebelum melepaskan pelukan mereka dan membiarkan Leora tetap tinggal bersama Laila dan Ana, sementara pria itu keluar dari ruangan.

__ADS_1


Dalam sekejap, surat perjanjian yang dibuat oleh Angkasa telah selesai dicetak lalu pria itu berjalan ke kamar Andra, pria itu bertatapan dengan Samudra sebelum memasuki ruangan dan duduk di salah satu sofa kosong.


Sarah melihat ayahnya, perempuan itu tersenyum pada Andra "Kau tidak boleh kalah dari ayahku." Bisik Sarah di telinga Andra.


Andra memperhatikan Sarah kala


perempuan itu turun di pangkuannya lalu Sarah berjalan meninggalkannya dan perempuan itu duduk di samping Angkasa sembari menyelipkan tangannya di lengan angkasa.


'Maaf,' gumam Andra.


Andra menatap dengan tatapan nanar penuh penyesalan, seandainya dia tidak pernah berjanji pada Angkasa untuk meninggalkan Sarah setelah minta maaf.


'Aku tidak boleh menyesal, ini adalah hukuman ku karena sudah membuatnya begitu terluka. Dan mungkin saja dia akan lebih bahagia ketika dia tidak bersamaku lagi, karena mungkin selama bersamaku dia akan kembali mengingat semua kelakuanku padanya.' gumam Andra memejamkan matanya.


Dia harus merelakan Sarah demi kebahagiaan perempuan itu.


Sementara Angkasa yang merasakan selipan tangan Sarah di lengannya dan perempuan itu memegang lengannya dengan sangat erat , dia bisa tahu bahwa putrinya sedang memohon.


Memohon supaya Sarah dan Andra tidak dipisahkan.

__ADS_1


"Aku sudah memutuskan. Anak kita akan berpisah." Ucap Angkasa mengagetkan dua orang di ruangan itu,


Samudra mengeryit menatap Angkasa, sementara Sarah mencengkram erat lengan ayahnya dan dengan nafas tersengal ia menatap ayahnya.


"Ayah," ucapnya dengan air mata sudah menggenangi kelopak matanya siap untuk terjun bebas ke pipinya.


Angkasa menatap Putrinya, pria itu mengulurkan tangannya memperbaiki rambut Sarah yang sedikit berantakan.


'Benar kata istriku, memisahkan mereka sama saja dengan membuat penderitaan putriku semakin panjang. Dan juga cucuku,,' Angkasa menghela nafas lalu menoleh pada Andra yang terlihat tenang.


Pria itu duduk dengan wajah datar sembari memejamkan matanya dan Angkasa bisa menebak bahwa pria itu sedang menyembunyikan gejolak amarah di dalam hatinya.


"Anak kita akan berpisah kalau kalian tidak menyetujui dokumen ini." Ucap Angkasa meletakkan dokumen yang ia bawa di atas meja membuat tiga orang langsung menoleh pada dokumen itu.


Samudra tidak bergerak sedikitpun, pria itu hanya menoleh kearah anaknya, membiarkan anaknya bertindak.


@Info.


Maaf baru up, tadi siang kegiatan padet benget sampe lupa napas karena terlalu sibuk. Semoga malam ini otor masih kuat begadang demi kalian... ok terima gaji..

__ADS_1


__ADS_2