Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
98. Apa yang terjadi?


__ADS_3

Dewa terus mengunci Ririn dalam pelukannya seolah tidak ada orang di sana, para pelayan yang kebanyakan terdiri dari perempuan muda, wajah mereka semua memerah dan sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa.


Beberapa yang memegang peralatan di tangan mereka merasakan tangan mereka menjadi lemas, tapi mereka tidak boleh menjatuhkan barang-barang di tangan mereka bukan?


Dewa memperdalam ciumannya mencari lidah Ririn.


Dengan segenap tenaga Ririn berusaha menjauhi lidah Dewa, tangannya mendorong pria itu tapi apalah daya nya bahwa tenaganya tidak jauh lebih kuat daripada Dewa.


"Mmh!" Tiba-tiba suaranya ketika Dewa kembali menggigit lidahnya yang belum sembuh gigitan itu sangat keras sekolah lidahnya hendak putus.


"Nngghh!!!" Wajah Ririn memerah dan seluruh tubuhnya terlihat pucat, keringat memenuhi keningnya dan air matanya secara tidak terkontrol keluar dari sudut matanya membasahi pipinya dan turun ke dagunya.


Para pelayan perempuan yang diam-diam melirik dari sudut mata mereka melototkan matanya ketika melihat kejadian itu.


"Jalan melihat!" Ucap pelayan paling tua pada perempuan perempuan itu.


Meski dia memperhatikannya, dia juga merinding melihat wajah Ririn yang sangat memerah dan kesakitan dan tangan perempuan itu mencengkram kuat baju Dewa lalu perlahan-lahan melemas dan Ririn terjatuh diperlukan Dewa.


"Ah!" Tiba-tiba pekik seorang perempuan saat melihat bukan hanya air mata yang memenuhi dagu perempuan itu, tapi darah juga sudah mengalir di wajah mereka.


Semua orang menoleh pada pelayan yang memekik itu lalu mengikuti pemandangan pelayan itu melihat bagaimana Dewa mencium Ririn.

__ADS_1


Darah, darah memenuhi ciuman mereka!


Samudra langsung menghalangi tatapan Ana dan Laila sementara Angkasa juga menghalangi tatapan istrinya.


Andra memeluk erat Sarah dan melihat Dewa yang belum menghentikan ciumannya meski perempuan di pelukannya sudah pingsan.


'Astaga,, bagaimana cara mereka berciuman hingga, tunggu,,," Siro menahan nafasnya yang tersengal. 'Apakah ini yang dinamakan ciuman berdarah? Lalu bagaimana dengan percintaan yang berdarah?' Gumamnya tak habis pikir.


Para pelayan yang terus melihat darah bercucuran membasahi pakaian kedua orang itu akhirnya, kaki mereka melemas dan masing-masing terjatuh dengan nafas tersengal.


Siro mengalihkan pandangannya dari Dewa karena dia juga tidak sanggup melihat hal seperti itu, lalu dia terkejut melihat para pelayan perempuan mudah yang sudah tersungkur di tanah karena lemas.


'Aku bisa memastikan kalau mereka tidak akan pernah berciuman seumur hidup mereka!' Gumam Siro merasa prihatin dengan perempuan perempuan muda itu.


Bukan...! Ini bukan berciuman, lebih tepatnya menyiksa!


Dewa merasakan semua pandangan orang yang mengarah pada mereka namun dia bersikap acuh tak acuh lalu kembali menggigit lidah Ririn hingga ia merasakan sebuah daging telah putus.


Barulah dia merasa puas dan meninggalkan potongan lidah Ririn di dalam mulut perempuan itu sebelum melepaskan pelukannya dan membiarkan Ririn terjatuh di tanah.


Siro menelan air liurnya melihat Dewa mengelap bibirnya yang penuh darah.

__ADS_1


Bukan manusia!


"Bawa dia pergi." Tiba-tiba perintah Dewa pada Siro membuat pria itu gemetaran dan tubuhnya terkunci, tidak bisa melakukan apapun.


Dia baru saja terasuki, tapi apa yang merasukinya?


"Kau tuli?!" Lagi bentak Dewa membuat Siro yang menahan nafas langsung terengah-engah lalu berjalan mendekati Ririn dan membawa perempuan itu pergi.


Baru saja dia membelakangi semua orang ketika dia bingung 'kemana aku membawanya?'


"Buang dia!" Suara Dewa yang terdengar tegas dari belakang membuat pria itu kembali mengerjapkan matanya sebelum berlari membawa Ririn.


Melihat Siro telah menghilang dari pandangan mereka, Dewa menoleh pada para pelayan.


"Lanjutkan panggangannya. Aku mau itu selesai dalam 30 menit. Dan semua bahan makanan yang ada di dapur beserta yang ada di meja makan, buang semuanya itu." Katanya seperti tidak terjadi apapun sebelum pergi meninggalkan taman.


"Apa yang terjadi?" Sarah yang begitu kepo langsung berucap ketika mendengar suara langkah kaki dewa telah pergi.


"Bukan apa-apa." Jawab Andra.


@Interaksi

__ADS_1



Di sini tempat yang bersih, Jangan Bicara Kotor!!!!


__ADS_2