
Andra selesai memakai baju dan bersiap ke kantor saat pria itu keluar dari kamar dan tidak mendapati Ririn menyambutnya.
"Bibi!" Ucap pria itu setengah berteriak disusul Bibi Nia yang segera berlari ke lantai 2.
"Maaf tuan, Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bibi Nia.
"Panggil Ririn untuk menemuiku di lantai bawah." Perintah Andra.
"Baik Tuan." Jawab Nia lalu wanita paruh baya itu segera meninggalkan Andra dan berlalu ke kamar Ririn.
Tok tok tok...
Bibi Nia mengetuk pintu kamar Ririn.
Setelah menunggu beberapa saat, tidak ada yang menjawab dari dalam kamar. Ia kembali mengetuknya sampai tiga kali sebelum perempuan paruh baya itu turun ke lantai 1 menemui Andra yang sudah duduk di ruang tamu.
"Maaf Tuan, sepertinya Nona Ririn belum bangun karena saya sudah mengantuk sebanyak 3 kali dan tidak ada yang menyahut dari dalam kamar." Ucap Bibi Nia.
Wajah Andra tetap datar tanpa ekspresi saat pria itu kemudian berkata "Pergi ke ruang kerjaku dan ambil beberapa berkas yang ditumpuk di atas meja."
"Baik Tuan." Jawab Bibi Nia lalu perempuan itu segera naik ke lantai dua.
Mendapatkan berkasnya dan kembali ke lantai 1, Bibi Nia memberikan berkas berkas itu pada Andra lalu pria itu segera keluar dari rumah.
__ADS_1
Namun, begitu ia akan menaiki mobil, Andra menghentikan langkahnya.
"Apakah perempuan licik itu masih tidur?" Tanya Andra membuat Bibi Nia kebingungan.
Yang mana yang perempuan licik? Kalau dari sudut pandangnya, jelas Ririn yang merupakan perempuan licik karena perempuan itu dengan tidak tahu malu tinggal di rumah orang yang sudah menikah, bahkan merebut kamar Sarah.
Tapi bagaimana dengan Andra? Bibi Nia begitu takut jika dia sampai salah mengira.
"Saya rasa nona Ririn masih tidur, sementara Nyonya Sarah dia juga masih tidur di kamar lantai 1." Jawab Bibi Nia.
Tidak mengatakan apapun Lagi, Andra segera menaiki mobil lalu pria itu meninggalkan kantor.
Saat Andra meninggalkan rumah, ponsel Bibi Nia yang sedari tadi diletakkan di sakunya tiba-tiba berdering.
Pria itu tidak pernah menghubunginya, biasanya Laila yang menghubunginya untuk menanyakan keadaan Andra.
"Katakan apa yang terjadi di rumah Andra." Langsung ucap Samudra dari seberang telepon.
"Itu, maaf Tuan besar, tadi malam Tuan membawa sekretarisnya ke rumah dan Nona Ririn menginap di rumah ini. Tapi, tadi pagi ketika saya bangun dan saat mengepel lantai saya menemukannya Sarah keluar dari kamar Andra. Sepertinya mereka berdua tidur bersama." Jawab Bibi Nia.
Begitu lama terjadi keheningan setelah Bibi Nia berbicara.
"Halo Tuan Besar?" Bibi Nia ragu-ragu berbicara ke dalam telepon.
__ADS_1
"Baiklah, jaga Sarah dengan baik." Ucap Samudra dari seberang telepon lalu ditutup dengan suara sambungan telepon yang terputus.
Samudra yang baru saja mematikan panggilan itu menyimpan ponselnya dan berjalan ke arah istrinya.
"Sayang," ucapnya memberi sebuah kecupan di pipi Laila.
"Ada apa hmm?" Tanya Laila menarik suaminya supaya pria itu duduk di sampingnya.
"Sepertinya pernikahan Andra dan Sarah tidak berjalan dengan baik. Hari ini Andra membawa Ririn ke rumahnya untuk tinggal di sana." Ucap Samudra membuat Laila terkejut dan menatap suaminya dengan tajam.
"Bagaimana bisa?! Lalu bagaimana dengan Sarah?" Tanya Laila.
"Dia belum berhasil mengatakan pada Andra kalau dia adalah putri yang dikenal Andra di negara Mr. Aku sudah berbicara dengan Putra kita, tapi kau tahu dia tidak akan mempercayaiku." Ucap Samudra.
"Anak itu! Aku akan pergi menemuinya ke kantornya." Ucap Laila segera berdiri lalu perempuan itu bersiap-siap untuk pergi ke kantor Andra.
Samudra memperhatikan istrinya 'Maaf istriku, dari dulu sampai sekarang semua urusan yang menyangkut Andra harus kau tangani sendiri karena aku tidak pernah berhasil menangani anak kita itu.' Gumam Samudra menghela nafas.
@Interaksi
Otor rasa kamar mandi masih jauh lebih baik dari pada menyalahkan otor yang gak tahu apa pun..! Masih polos lah,,, blm nikah..!
__ADS_1