Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
141. Siro menelponmu untuk mendapatkan Restu


__ADS_3

Mereka akhirnya tiba di apartemen Ana, Siro tidak meneruskan perjalanan mereka menggunakan jalur bawah tanah ke kediaman Dewa karena pria itu takut semakin lama Ana ditangani keadaannya akan semakin memburuk.


Pria itu membawa Ana ke lantai 13 di mana apartemen palsu Ana berada.


Apartemen itu selalu bersih meski tidak dihuni karena ada petugas kebersihan yang selalu menjaga kebersihannya.


Begitu tiba, para petugas kesehatan yang ia telepon sudah menunggu di sana jadi Siro langsung membawa Ana ke tempat tidur dan membaringkan gadis itu sembari menyelimutinya.


"Periksa keadaanya." Siro menyerahkan Ana pada dokter yang sudah bertugas lalu pria itu pergi membersihkan diri.


Setelah Siro mandi, para dokter juga telah menyelesaikan pemeriksaannya, terlihat Ana telah di infus dan warna kulitnya sudah mulai membaik.


"Bagaimana Dok?" Tanya Siro.


"Dia baik-baik saja. Tunggu dia beristirahat dan beri dia bubur tawar. Jangan lupa obatnya," dokter menyerahkan beberapa obat pada Siro sebelum berbalik meninggalkan tempat itu.


Siro mendekati Ana dan kembali memeriksa keadaannya, setelahnya ia keluar dari kamar dan ponselnya langsung berdering.


"Dimana kau?!" Suara yang tajam dan dingin langsung terdengar dari seberang telepon membuat Siro menghela nafasnya.


"Kami ada di apartemen," jawab Siro.


"Kau tahu kesalahanmu?!" Suara Dewa terdengar tegas.


Siro bisa menduga bahwa pria di seberang telepon pasti sangat marah padanya. Baru beberapa hari perkuliahan dan Sudah berapa kali dia melakukan kesalahan!

__ADS_1


"Saya tahu Tuan." Jawab Dewa.


"Lalu katakan hukuman yang tepat untukmu." Pria di seberang telepon kembali berbicara membuat Siro mengepal kuat tangannya.


Bagaimana bisa dia memutuskan hukuman untuk dirinya sendiri, tidak mungkin!


Pria itu hanya sedang mempermainkannya!


"Saya tidak berani." Jawab Siro.


"Heh,, kau berani melakukan kesalahan tapi tidak berani menentukan hukuman untuk kesalahanmu sendiri?! Ck,, sebaiknya kau hubungi Andra dan ceritakan semua yang sudah kau lakukan padanya!" Ucap Dewa dari seberang telepon lalu nada panggilan terputus segera menghiasi teleponnya Siro.


Itu artinya, Dewa tidak akan ikut campur lagi dengan masalah kali ini, dia sudah sepenuhnya menyerahkannya pada Andra.


"Hah,, entah kapan nasibku bisa mujur." Ucap Siro melihat layar ponselnya lalu menekan tombol panggil pada Andra.


"Anak kita laki-laki 'kan?" Sarah berkata penuh nada manja.


"Perempuan kuat seperti kamu." Jawab Andra.


"Apa?! Tidak! Aku maunya anak laki-laki yang mirip kamu!" Sarah menatap Andra dengan kesal.


Sikap manja istrinya membuat Andra menjadi tersenyum lalu menarik perempuan itu ke pelukannya.


"Baiklah, baik,, anak pertama kita perempuan dan anak kedua kita laki-laki. Puas?!" Sebuah ciuman yang lembut mendarat di bibir Sarah.

__ADS_1


"Tapi aku mau semuanya laki-laki!" Kata Sarah membuat Andra tertegun tapi sesaat kemudian dia kembali tersenyum dan mengiyakan ucapan istrinya.


Lebih baik mengiyakannya dan diam-diam dalam hati berharap anak mereka perempuan daripada bertengkar dengan ibu hamil


"Bagus sekali." Sarah memeluk Andra dengan erat.


"Eh, Oya, kemarin malam Ana menghubungiku, dia menanyakan perihal Siro." Tiba-tiba kata Sarah ketika dia mengingat panggilan teleponnya dengan Ana kemarin malam.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Andra.


"Dia bertanya apakah sebelumnya Siro pernah berdekatan dengan seorang perempuan. Dan seprtinya Ana menyukai Siro, aku mendengar suaranya malu-malu seperti gadis yang sedang jatuh cinta." Ucap Sarah tersneyum.


Tentu saja dia sangat mendukung kalau Siro dan Ana sampai bersama. Siro merupakan orang yang bertanggung jawab dan pria itu terlihat sangat serius ketika sedang menjalankan sesuatu.


Bisa dipastikan jika dia dan Ana bersama maka pria itu pasti akan sangat serius menjaga hubungan mereka.


"Ana menyukai Siro?" Andra menyipitkan matanya.


"Ya, aku yakin! Kau tahu sendiri kalau Ana tidak pandai menyembunyikan perasaannya, jadi aku langsung menebaknya dengan baik!" Jawab Sarah.


Andra belum mengatakan apapun ketika ponselnya sudah berdering, pria itu mengambil ponselnya dan melihat panggilan telepon dari Siro.


"Panjang umur!" Sarah berkomentar ketika dia membaca nama Siro yang tertera di panggilan itu.


"Mungkinkah dia menelponmu untuk mendapatkan Restu?" Sarah berkata dengan tidak sabar.

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya, Andra kembali menyipitkan matanya sebelum mengangkat panggilan itu.


"Ada apa?" Tanya Andra pada orang di seberang telpon.


__ADS_2