
Setelah menghabiskan makan siangnya dan selesai bersiap untuk ke kantor, Ririn segera mengendarai mobilnya ke kantor Andra.
Perempuan itu tiba dengan cepat setelah mengebut selama 15 menit. Jalanan setelah jam makan siang jauh lebih lengang hingga mobilnya bisa meluncur dengan cepat.
Begitu tiba di lantai paling atas dimana kantor Andra berada, perempuan itu terpaku menatap Laila keluar dari ruangan Andra.
'Astaga, Apa yang dilakukan Nyonya di sini? Apakah dia datang untuk mempengaruhi putranya?' gumam Ririn namun ia tetap berjalan dengan tenang menghampiri Laila dan memberi hormat pada perempuan itu.
"Jadi, selain tinggal di rumah anakku, kau juga berbuat sesukamu dengan datang bekerja pada jam segini?
"Aku benar-benar tidak mengerti bagian mana padamu yang membuat anakku begitu membelamu hingga dia rela melawan orang tuanya!" Ucap Laila memandang jijik pada Ririn.
Bahkan sedikitpun, Laila tidak menyembunyikan rasa jijiknya pada Ririn.
"Maaf Nyonya, anda telah salah paham karena saya datang terlambat sebab-"
"Sudah salah, masih juga berani membela diri! Sekarang juga, cepat bereskan barang-barangmu dan keluar dari kantor anakku!" Ucap Laila membuat Ririn sangat terkejut saat perempuan itu mengangkat wajahnya dan menatap Laila dengan tidak percaya.
"Berani menatapku?! Dasar lancang!" Tangan Laila segera memberikan sebuah tamparan keras di pipi Ririn.
Ririn hampir saja terjatuh karena tamparan Laila.
Seumur hidupnya, itu tamparan kedua yang ia terima dan tamparan pertama sebelumnya telah di berikan oleh suami Laila, Samudra!
Hal itu membuat Ririn menjadi sangat geram dan mengepal kuat tangannya lalu balik menatap Laila.
"Masih berani menatapku?!" Geram Laila membalas tatapan Ririn dengan tatapan tajam miliknya yang sudah lama tidak digunakannya.
__ADS_1
Tatapan itu membuat Ririn mundur beberapa langkah sebelum menjatuhkan dirinya di lantai.
"Tolong...! Tolong...! Nyonya tolong...! Tolong jangan sakiti saya! Saya tidak pernah bermaksud menggoda Putra nyonya! Saya bersumpah demi hidup dan mati saya!" Teriak Ririn dengan sangat kencang.
Karena di lantai itu hanya dihuni oleh Andra dan 7 sekretarisnya, maka di lantai itu memang diatur supaya tidak kedap suara.
Dan teriakan Ririn langsung terdengar oleh Andra yang sedang fokus pada berkas-berkasnya di atas meja.
Pria itu langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk keluar.
Begitu keluar, ia mendengar suara para sekretarisnya yang sedang menolong Ririn.
"Ada apa ini?" Tanya Andra.
"Pak Tolong saya hiks..!" Isak Ririn yang sedang dibantu oleh salah seorang sekertaris Andra.
"Sayang, kau tahu betapa lancangnya sekretarismu itu padaku? Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa menjadi sekretaris utama mu dengan tingkah lakunya yang tidak beradab itu!" Ucap Laila.
"Tidak Tuan..! Saya tidak melakukan apapun, Nyonya tiba-tiba saja menampar saya begitu saya sedang berbicara dengannya. Bahkan dia-"
"Ya, aku menamparmu mulutmu yang kurang ajar itu. Jadi sekarang, cepat tinggalkan kantor ini!" Ucap Laila penuh penekanan membuat Ririn ketakutan di tempatnya.
Tapi tekadnya untuk memiliki Andra jauh lebih besar hingga perempuan kembali membuka mulutnya untuk berbicara.
"Tuan! Ini ti-"
"Apa kau tidak mendengar ucapan ibuku? Apa kau sudah meninggalkan telingamu di suatu tempat?! Cepat, sekarang juga kau pergi dari kantorku!" Ucap Andra mengejutkan semua orang kecuali Laila.
__ADS_1
Laila tahu dan selalu tahu bahwa putranya akan selalu memihak nya meski Dia sedang melawan seluruh dunia.
Apalagi jika hanya dengan seorang perempuan tidak layak seperti Ririn. Kacang..!
@Interaksi
Baru netas ya? udah berapa jam merasakan kejamnya dunia?🤭
Kalo mau kasih bunga cukup ikuti langkah dibawah ini:
Tekan tombol hadiah di samping tombol like.
Pilih hadiahnya, kalau bisa pilih piala, biar kamu makin miskin..! Xixi...
__ADS_1