Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
56. Sampah


__ADS_3

Menunggu selama 15 menit, Andra menjadi semakin gelisah dan dari kaca mata hitamnya ia menatap Siro dengan tajam.


"Dimana pesawatnya?!" Ucap Andra menahan emosinya.


"Ih,, saya akan mengeceknya." Kata Siro lalu pria itu segera melakukan panggilan pada wakil sekretarisnya.


"Halo Tuan, Ada yang bisa saya bantu?" Terdengar suara perempuan dari seberang telepon yang kebingungan karena dia tahu bahwa saat itu Andra dan Siro seharusnya berada di dalam pesawat.


"Apakah pesawatnya sudah selesai diperbaiki?" Tanya Siro kembali membuat perempuan di seberang telepon menjadi semakin bingung.


"Maaf Tuan, apa maksud Tuan?" Tanya perempuan itu.


"Ahh, baiklah." Jawab Siro lalu mematikan panggilan itu dan beralih menatap Andra.


"Katanya terjadi kesalahan sehingga pesawatnya belum siap digunakan hari ini. Sepertinya kita harus mengambil penerbangan ke ibukota lalu melanjutkannya ke-"


"Lakukan!" Potong Andra tidak mau mendengarkan penjelasan yang akan semakin menyita waktu berharganya.


"Baik Tuan." Jawab Siro lalu pria itu segera memeriksa daftar penerbangan hari itu.

__ADS_1


'Kebetulan sekali,' Siro tersenyum membaca jadwalnya lalu kembali menatap Andra.


"Maaf Tuan, tapi penerbangan terakhir ke ibu kota telah berangkat 30 menit lal-"


"Apa?! Kau bodoh!" Bentak Andra langsung melayangkan sebuah tendangan ke kaki Siro membuat pria itu mundur beberapa langkah.


'Hah, aku sudah menduga hal ini akan terjadi.' gumam Siro merasa beruntung ia memasang pelindung tulang kering di kakinya.


"Aku tidak mau tahu! Kau sebaiknya bersiap menerima hukuman kalau kita tidak terbang dalam 15 menit lagi!" Ucap Andra lalu pria itu meninggalkan Siro dan kembali ke ruang VIP, menunggu dengan gelisah.


Sudah sejak tadi ia menghubungi Sarah, tapi ponsel perempuan itu selalu tidak aktif.


"Putri maaf, maafkan aku. Aku salah," ucap Andra memandangi foto pernikahan mereka.


"Harusnya aku tidak melakukannya. Harusnya aku mempercayaimu." Ucapnya terisak saat ia meraih surat yang pernah diberikan Sarah padanya.


Beberapa lembar di belakang buku itu telah ia robek.


"Maaf," ucapnya meneteskan air matanya lalu memeluk buku itu dengan erat.

__ADS_1


"Maafkan aku,, aku salah,, aku pantas di hukum dengan berat!" Ucap Andra menyalahkan dirinya.


Pria itu masih menangis dalam penyesalan ketika Siro membuka pintu dan menghela nafas melihat Andra.


'Ternyata tuan muda masih waras, aku pikir dia akan melakukan hal gila karena sudah menyadari kesalahannya.' gumamnya mengeluarkan surat yang ia selamatkan dan membawanya ke depan Anda.


"Ini adalah lembar lembar terakhir dari buku itu, Saya tidak membakarnya karena tahu suatu saat Tuan akan mencarinya." Ucap Siro memperhatikan Andra yang langsung menyambar lembar-lembar surat itu dan membacanya seperti orang gila.


"Aku senang kita menikah, aku senang kini, hiks,, hiks,, aku sen-" Andra tidak bisa melanjutkan bacaannya karena air matanya membuat pandangannya menjadi buram dan pria itu hanya bisa memeluk lembar-lembar surat itu.


"Tuan, pesawatnya sudah siap. Kita akan terbang ke kota B dan melanjutkan penerbangan ke kota K." Ucap Siro kala ia melihat jam tangannya dan waktu mereka tinggal 10 menit lagi.


"Kau bodoh! Harusnya kau memberitahuku kebenarannya, bukannya, haha,, benar,, bahkan aku tidak mempercayai putri, apa lagi kamu yang hanya seorang kacung sampah!" Ucap Andra membuat Siro tidak tahu harus berkata apa.


Ia ingin menghibur Andra, tapi ia juga ingin mencekik pria itu karena sudah menjulukinya sebagai kacung, ditambah kata sampah!


'Kaulah yang sampah! Kau sampah yang sudah dibuang oleh Putri!' geram Siro dalam hati.


@Interaksi

__ADS_1



Abang jago, mulutmu kurang di geprek ya sama cabe busuk..! Sini otor tambahin merica!


__ADS_2