
Setelah mengantar Sarah ke dokter, Angkasa kemudian membawa Sarah bertemu dengan Giang dan meninggalkan kedua orang itu untuk bercakap-cakap.
Sementara Angkasa, pria itu langsung menghubungi Samudra dan meluncur ke kantor Samudra untuk membahas masalah Ririn.
Di perjalanan, ponsel pria itu berdering. Leora menelponnya.
"Iya sayang?" Jawab Angkasa mengangkat panggilan dari istrinya.
" Kau dimana? Begitu aku bangun kau sudah tidak ada." Ucap Leora dengan suara cemas.
"Maaf, tadinya aku ingin membangunkanmu, tapi melihatmu tertidur sangat pulas aku memutuskan untuk menemui Putri Kita sendirian." Ucap Angkasa.
"Ahh begitu, lalu bagaimana keadaan Sarah? Dia baik-baok saja 'kan? Andra memperlakukannya dengan baik bukan?" Tanya Leora.
"Tentu saja! Putri kita sangat baik. Oya, apa kau ingin membahas hal lain? Aku sedang dalam perjalanan ke kantor Samudra untuk membahas beberapa masalah pekerjaan." Ucap Angkasa yang tidak mau membuat cemas istrinya dengan masalah yang dihadapi putrinya.
"Suami, kita harus segera kembali, Liona jatuh dari lantai dua rumah sakit jiwa. Aku takut dia kenapa-kenapa." Ucap Leora dari seberang telepon.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menjemputmu sekarang." Ucap Angkasa lalu segera putar balik.
Dalam perjalanannya kembali ke apartemen, ia kemudian menghubungi Samudra.
"Halo besan," jawab Samudra dari seberang telepon.
Aku mengirim sebuah pesan ke ponsel mu. Tolong periksa dan aku percayakan putriku padamu, kami harus segera kembali karena ada hal mendesak yang tidak bisa kami tinggalkan."
__ADS_1
"Tentu, aku pasti menjaga Sarah dengan baik. Kalau begitu kamu cepatlah kembali dan selesaikan urusan mendesaknya. Kita bisa bertemu di lain waktu." Ucap Samudra lalu Angkasa segera mematikan panggilan itu.
Dia sangat percaya bahwa Samudra mampu mengatasi masalah yang dihadapi putrinya.
Sementara di kantor Samudra, pria yang baru saja selesai menelepon dengan Angkasa langsung memeriksa pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat salinan pesan dari Sarah.
"Apa ini?!" Pria itu menjadi sangat marah dan segera bangkit meninggalkan ruangannya.
Diantar oleh supirnya, Samudra bergegas ke kantor Andra menuju ruangan CEO.
"Andra!" Teriak Samudra begitu memasuki ruangan Andra.
"Ada apa ayah?" Tanya Andra dengan suara datar dan tatapan kosong Kalau pria itu sedang menerima berkas dari Ririn.
"Ayah..! Ada apa ini?" Andra masih duduk dengan tenang namun wajahnya menampakkan ketidaksukaannya pada Samudra yang telah menampar bawahannya.
"Jangan membelanya! Asal kau tahu saja, hari ini juga ayah akan mengembalikannya pada keluarganya di pedalaman!" Samudra menatap datar pada Ririn.
Ia telah membesarkan anak perempuan itu dan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga mereka, namun tidak menyangka perempuan itu malah merusak rumah tangga anaknya.
"Baiklah, tapi apa alasannya?" Andra masih terlihat sangat tenang.
Sementara Ririn, perempuan itu segera berdiri dan menyentuh wajahnya yang sangat panas dan terasa perih oleh karena tamparan Samudra.
__ADS_1
'Sial! Aku menghabiskan seluruh gajiku untuk melakukan perawatan pada wajahku!' gumam Ririn dengan kesal.
Samudra menghela nafas lalu pria itu duduk di salah satu kursi kosong dan menatap Ririn dengan tenang.
"Ririn, sebaiknya kau ceritakan sendiri tentang apa yang sudah kau katakan pada Sarah. Kau punya waktu 5 menit!" Kata Samudra.
Mendengar ucapan Samudra, Ririn sangat terkejut 'Dasar perempuan pengadu! Bisa-bisanya dia mengadukan pada Samudra?!
'Tidak! Aku tidak akan mengakuinya, tidak ada satupun bukti bahwa aku telah mengatakan sesuatu pada Sarah!' Gumam Ririn lalu dia segera berakting menampakan wajah polosnya.
"Tuan, saya sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Tuan. Saya baru saja kembali dari perjalanan keluar kota pada beberapa tugas yang Tuan berikan.
"Dan sampai sekarang, saya belum pernah bertemu dengan Sarah." Ucap Ririn membuat Samudra menjadi geram.
Samudra lalu menatap pada Andra.
"Jadi, katakan pada Ayah, Apakah kamu sudah berbicara dengan Sarah tentang identitasnya yang sebenarnya?" Tanya Samudra.
"Apa yang bisa kami bicarakan? Dia bisu dan aku buta, sungguh pasangan yang serasi bukan?!" Ucap Andra seolah pria itu sedang mengejek ayahnya karena telah menjodohkan mereka berdua.
"Lancang!" Samudra menggebrak meja namun pria itu kembali duduk dengan tenang.
@Interaksi
__ADS_1
Ya ampun reder yang malang. Ayo terus bully dia sampai mau mengganti namanya!