Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
142. Semua itu hanya omong kosong!


__ADS_3

Sembari menunggu panggilan di seberang telepon diangkat, Siro kembali ke dalam kamar dan melihat Ana masih tertidur dengan lelap, pria itu berdiri di jendela sembari memandangi hujan yang masih turun dengan derasnya.


Tidak tahu apa yang terjadi, mungkin saja kali ini dia benar-benar akan disingkirkan dari sisi Ana dan juga dari sisi keluarga Anderson.


Saat hal itu terjadi maka bisa dipastikan dia tidak akan memiliki tempat untuk bekerja lagi karena keluarga Anderson pasti akan menghalanginya. Yang bisa ia lakukan hanyalah pulang ke kampung dan menjadi Pak Tani biasa!


"Ada apa?" Jawab Andra dari seberang telepon ketika panggilan mereka telah terhubung.


"Tuan, Saya telah melakukan beberapa kali kesalahan sejak menjadi pengawal Nona Ana, hari ini karena saya lalai menjaga Nona, dia mengalami demam tinggi dan sekarang sedang diinfus di apartemen. Saya bersalah dan siap menerima hukuman apapun dari Tuan." Jawab Siro dengan tangan terkepal kuat dan jantung yang berdegup kencang.


Pria itu sudah tidak tahu apa alasannya hingga jantungnya berdegup kencang, apakah karena dia telah melakukan kesalahan dan akan mendapatkan hukuman atau justru dia lebih takut jika saja dia dipisahkan dengan ana.


"Kau rawat dia. Jangan tinggalkan dia." Jawab Andra dari seberang telepon membuat Siro tertegun seperti orang yang baru saja mendapat kabar ane yang tidak bisa diprediksi.


"Tu, tuan maksud Tuan?" Tanya Siro kebingungan.


"Maksudku adalah aku merestui hubunganmu dengannya." Suara Andra terdengar kesal disusul dengan bunyi telepon yang terputus.


Aku merestui hubunganmu dengannya....

__ADS_1


Siro masih tidak mengerti, dia terus berdiri di sana dengan linglung sembari meletakkan ponsel di telinganya.


"Kak Siro,," tiba-tiba sebuah suara yang lemah langsung mengejutkannya, pria itu langsung pulih dari kelinglungannya lalu menghampiri Ana.


"Nona sudah sadar?" Siro mengecek kondisi badan Ana.


"Haus," lagi kata Ana dengan suara lemahnya membuat Siro langsung berlari keluar dari kamar dan mencari air putih dengan terburu-buru.


Begitu kembali ke kamar, ia mendapati Ana hendak bangun dari tempat tidur jadi pria itu segera meletakkan air putih di atas meja lalu membantu Ana duduk bersandar.


"Minumlah," Siro menyodorkan segelas air putih pada Ana lalu membantu Gadis itu meminumnya sebelum mengembalikan gelasnya ke atas meja.


"Dimana ini?" Ana bertanya dengan bingung karena sebenarnya dia memang belum pernah datang ke apartemen itu.


"Aku sudah baikan. Jangan menyentuhku lagi!" Kata Ana dengan suara yang sedikit kesal lalu gadis itu memejamkan matanya.


"Maafkan saya Nona." Siro meraih gelas di atas meja lalu pria itu keluar dari kamar.


Begitu keluar, orang yang mengantar bubur juga sudah tiba jadi dia segera menyiapkan buburnya dan kembali memasuki kamar.

__ADS_1


"Nona harus makan dulu supaya Nona punya tenaga." Siro memegang mangkok dan sendok di tangannya.


"Siapa yang membuat buburnya?" Ana menatap Siro, dia berharap pria itulah yang membuat buburnya.


"Nona tenang saja, pelayan dari kediaman Tuan Dewa membuat bubur ini." Jawab Siro disambut wajah kekecewaan dari Ana.


"Ada apa Nona?" Tanya Siro.


"Aku tidak mau akan itu." Ucap Ana membuang wajahnya dari Siro.


Wajahnya kembali memanas dan dia bisa tahu kalau pipinya kembali memerah.


"Kalau begitu, Nona mau makan apa?" Siro dengan sabar menghadapi Ana.


"Apa saja yang penting jangan itu!"


"Baik." Siro berbicara dengan singkat lalu membawa bubur itu keluar dari kamar Ana, hal tersebut membuat Ana menjadi semakin kecewa.


"Bukankah dia menyukaiku? Atau Kiora salah prediksi?" Ana berbicara dengan suara yang kecil sembari menghela nafas panjang.

__ADS_1


Dia masih mengingat kejadian di mobil, samar-samar dia mengingat bagaimana dia memeluk Siro dan bagaimana pria itu sama sekali tidak bergeming sepanjang jalan pulang.


'Bukankah jika dia menyukaiku paling tidak di kesempatan itu dia harusnya menciumku atau sekedar memberikan kecupan di puncak kepalaku?" Ana mendesah, segala yang dikatakan Kiora padanya, sepertinya semua itu hanya omong kosong!


__ADS_2