Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
127. Kak Siro kumohon


__ADS_3

15 menit telah berlalu dan Kiora maupun Milan belum ada satupun yang mau mengalah untuk lebih dulu melepaskan tarikan mereka pada rambut lawan.


Keduanya terus berteriak sembari mengatakan kata-kata menghina dan didengarkan oleh para mahasiswa dan dosen yang ada di ruang kelas.


"Kak Siro, dapatkah kau melakukan sesuatu? Aku takut kalau Kiora sampai kenapa-kenapa." Ana setengah berbisik pada Siro.


Bagaimanapun juga, dia begitu terkejut dengan insiden ini, seorang dosen menunda kelas hanya karena membiarkan dua gadis berkelahi di dalam kelasnya.


"Nona tidak usah ikut campur." Jawab Siro dengan wajah datarnya.


"Tapi Kiora juga melakukan ini demi aku, aku benar-benar tidak bisa tenang melihatnya terluka karena membela ku." Ana meringis memperlihatkan wajah memelasnya.


Siro melihat wajah Ana dan benar-benar tertegun dengan gadis itu, itu adalah kali pertamanya melihat Ana bersikap seperti itu padanya.


Entah kenapa, hatinya seolah berdesir, bahkan desiran hatinya jauh lebih kuat daripada ketika Ana tiba-tiba menciumnya.


"Kak Siro, kumohon." Ana kembali berbicara dengan mata berkaca-kaca layaknya seorang gadis kecil yang sedang memohon pada orang tuanya untuk dibelikan permen.


Siro tertegun sesaat "Baiklah." Jawab Siro.


Pria itu tanpa aba-aba segera berdiri dan berjalan mendekati Milan dan Kiora lalu dengan satu tarikan memisahkan keduanya.


"Sialan..! Jangan tarik aku! Aku akan menghajar kecoa itu supaya dia lebih tahu diri!

__ADS_1


Apa haknya untuk memutuskan seseorang bisa berkuliah di kampus ini ataupun tidak?!


Dia pikir dia pemilik kampus ini?


Atau dia pikir aku menggunakan uang keluarganya membayar biaya kuliah di sini?!!" Teriak Kiora berusaha meronta supaya dilepaskan dari genggaman Siro.


"Kau..!" Milan tiba-tiba menyadari situasi, tidak ada satupun orang yang berusaha mencegahnya untuk menyerang Kiora, dia melihat kearah sekitar dan tatapannya tertuju pada sang dosen yang menatap mereka dengan tatapan malas seolah pria 45 tahun itu sedang mengacuhkah pertunjukan perkelahiannya dengan Milan.


"Pertunjukan sudah habis, kita mulai kelasnya." Sang dosen tiba-tiba memperlihatkan wajah kecewanya lalu pria berumur 45 tahun itu segera berdiri lalu mulai menulis di papan tulis.


"Nona, silahkan kembali ke tempat duduk." Siro mengingatkan Kiora yang masih berdiri dengan nafas tersengal dan tubuh yang dikunci.


Menggertakkan giginya, Kiora masih melemparkan tatapan tidak puas nya pada Milan sebelum kembali ke tempat duduknya di samping Ana.


"Kau baik-baik saja?" Ana membantu Kiora merapikan pakaiannya dan dia sangat terkejut melihat luka cakaran di lengan gadis itu.


"Jika masih ada yang berbicara, silakan keluar dari kelas saya!" Dosen yang sedang menulis di papan tulis kembali memperingatkan para mahasiswa ketika mendengar beberapa keributan.


Dalam sekejap, kelas itu menjadi sangat hening. Ana menulis di catatannya sambil sesekali menoleh kearah Kiora, lebih tepatnya pada luka di lengan Kiora.


Sementara Siro, pria itu hanya berdiri dengan tatapan lurus memandang kedepan meski sebenarnya dari sudut matanya pria itu sedang memperhatikan Ana.


'Bagaiman bisa wajahnya seperti itu?' Siro terus mengingat bagaimana tatapan aneh Ana ketika gadis itu memohon padanya.

__ADS_1


Tanpa sadar, jantungnya berpacu cepat dan ketidaknyamanan menyelimuti hatinya.


Ada apa ini?!


Perasaan asing ini, darimana munculnya?!


Siro memejamkan matanya berharap bisa melupakan bayangan itu ketika ia hanya melihat kegelapan.


Tapi,,,


"Kak Siro kumohon."


"Kak Siro,,"


"Kak Siro,,,?"


Suara dan bayangan Ana memelas padanya terus menggerogoti ingatannya hingga ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha menghapusnya.


"Kak Siro?"


"Kak Siro?"


@Interaksi

__ADS_1



Ada kok, makanan gratis plus sianidanya juga gratis...! 🤫


__ADS_2