Ranjang Balas Dendam (S2)

Ranjang Balas Dendam (S2)
57. Keluarga Sarah pergi ke luar negeri


__ADS_3

Setelah menempuh berapa jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di kota K.


Pria itu tampak lebih berantakan dari sebelumnya, rambut berminyak acak-acakan, baju yang kotor dan kusut karena digunakan mengelap air mata, dan wajah yang terlihat kelelahan terutama mata yang bengkak dengan kantong mata yang mengerikan.


Siro menghela nafas ketika ia berjalan dibelakang Andra sembari membawa dua buah koper miliknya dan milik Andra.


'Hah,, Tuan benar-benar tidak bisa berpikir dengan waras karena rasa bersalahnya pada Sarah. Kalau Tuan Angkasa melihatnya seperti ini, mana mungkin Tuan Angkasa mau mempertemukannya dengan Sarah.' gumam Siro dengan dalam hati sembari pria itu mengambil kacamata hitam milik Andra dan menggunakannya.


Ia merasa malu pada orang-orang yang melihat mereka, semuanya terlihat mencibir dan wajah mereka dipenuhi ketidaksukaan melihat penampilan anda yang berantakan.


Dan kacamata hitam itu sedikit membantunya melupakan tatapan aneh yang ditunjukkan oleh orang-orang yang mereka temui.


'Sudahlah,, aku menjaga jarak saja.' gumam Siro lalu mulai memelankan langkahnya dan menjaga jarak 2 m dari Andra sehingga pria itu terlihat berjalan sendirian.


Itu adalah kali pertamanya Siro begitu malu bepergian dengan Andra.


Mereka segera keluar dari bandara dan dan menaiki mobil yang telah dipesan oleh Siro.


Siro melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja.


"Belikan aku kacamata baru." Tiba-tiba ucap Andra lalu pria itu memejamkan matanya.


'Putri, tunggu aku. Tunggu aku, aku akan meminta maaf.' Gumam Andra dengan semua rasa bersalah yang menggerogoti tubuhnya sampai ke tulang tulangnya.


Pria itu berusaha menahan air matanya yang hendak turun untuk mempermalukannya didepan Siro.


Sementara Siro yang melihat kelakuan Andra, pria itu hanya bisa menghela nafas.

__ADS_1


'Padahal aku jauh lebih bersih darinya, tapi dia malah merasa jijik padaku.' gumam Siro dengan kesal memandangi penampilan Andra.


Dia tahu kalau semenjak terjadi penurunan saham yang drastis di kedua perusahaan, Andra belum menyentuh air sama sekali karena terus fokus bekerja.


Bahkan baju yang digunakan Andra sudah melekat di tubuh pria itu selama berhari-hari.


"Tuan, bukankah sebaiknya kita pergi dulu ke hotel, Tuan perlu memperbaiki penampilan Tuan dan-"


"Kau meragukan pesonaku?!" Tanya Andra kala pria itu menjadi terlalu sensitif karena emosinya sedang bergejolak dan apapun yang dikatakan Siro selalu menjadi sampah yang mengganggu telinganya.


"Maaf Tuan." Ucap Siro meraih kacamata di meja dan menggunakannya.


'Untunglah Tuan membuang kacamata ini, jadi aku bisa menggunakannya untuk mengurangi pandanganku terhadap polusi mata di depanku.' gumam Siro menatap Andra beberapa detik sebelum memejamkan matanya.


Penampilan Andra yang duduk di depannya terlalu mengganggu matanya yang bersih.


Siro segera turun dari mobil membiarkan Andra yang masih memejamkan matanya lalu pria itu menghampiri petugas keamanan yang menjaga gerbang.


"Permisi, Kami ingin menemuipenghuni lantai 18." Ucap Siro menyerahkan ktp-nya dan KTP milik Andra serta kartu nikah Andra dan Sarah.


Pria yang bertugas langsung mengenali Andra sebagai suami dari Putri Tuan Angkasa yang sedang heboh diberitakan.


"Maaf, tapi penghuni lantai 18 baru sejam yang lalu keluar dari apartemen. Nona Sarah meninggalkan surat ini pada Tuan Andra." Ucap sang penjaga menyerahkan sepucuk surat untuk Andra.


Siro meraih surat itu dan mengambil kembali kartu-kartunya.


"Apakah Anda tahu kapan mereka kembali?" Tanya Siro.

__ADS_1


"Kami tidak tahu, tapi Nona Sarah mengatakan kalau mereka akan pergi ke luar negeri." Ucap pria yang bertugas membuat Siro tersenyum.


"Terima kasih." Ucapnya.


'Benar-benar, aku belum makan!' Gerutu Siro dalam hati kala pria itu sudah menebak bahwa mereka pasti akan langsung menaiki pesawat dan menyusul Angkasa dan rombongannya.


Pria itu lalu masuk ke dalam mobil.


"Tuan," ucap Siro pada Andra.


Pria yang sedang tertidur itu langsung terbangun ketika ia dipanggil.


"Kita sudah sampai?!" Pria itu langsung menoleh ke luar jendela dan hendak membuka pintu ketika Siro mencegahnya.


"Mereka tidak ada di apartemen, Nyonya Sarah meninggalkan surat ini untuk Tuan." Ucap Siro menyerahkan surat pada Andra.


Andra membaca surat itu dan dari waktu ke waktu wajah pria itu berubah menjadi sangat muram dan tetes air mata yang keluar dari mata Andra membuat Siro hendak tertawa.


'Astaga,, ini kedua kalinya aku melihat pria ini menangis. Sungguh harus diabadikan!' Gumamnya diam-diam meraih ponselnya dan mengambil video Andra.


Siro bahkan sangat terkejut ketika Andra tidak menyadari bahwa dirinya sedang merekam. Padahal, pria itu paling benci dengan yang namanya kamera.


'Ck,, aku tidak sabar mengirimkan video ini pada Tuan Besar.' gumam Siro.


@Interaksi


__ADS_1


Buang2 tenaga kalo bicara bahasa mars sama kalian, orang bumi mana ngerti sama bahasa mars, bahasa bumi ajah belum tahu semua 🤭🤭


__ADS_2