
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Mehru aku sangat berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan aku. Lain kali saat keluargaku berdagang lagi kemari, aku akan memberikanmu pernak pernik yang cantik."
"Tidak perlu Mesa. Kamu adalah temanku, sudah seharusnya aku menolongmu. Lain kali berhati-hatilah,"
"Emm." Mesa mengangguk.
"Sekarang jauhi tebing ini dan perhatikan penunjuk jalan."
Mehru melirik keranjang regu Mesa, dan mendapati keranjang itu sudah dipenuhi oleh tanaman.
"Sepertinya kalian sudah banyak mendapatkan tanaman obat, jika sudah cukup sebaiknya kalian pergi kearah tengah hutan. Jangan lagi berada dipinggir tebing."
"Kami hanya mencabut sesuai perkiraan kami saja, tapi sepertinya memang sudah cukup." Jawab Seo.
Hosh
Hosh
Galeo tampak datang tergesa-gesa dan membawa sebuah akar pohon yang lumayan panjang.
"Mesa, kamu sudah selamat?" tanya Galeo.
"Ya. Ini berkat bantuan Mehru dan teman-teman yang lain juga."
"Maaf aku datang terlambat, aku mencari ini," Galeo menunjukkan akar pohon."
"Tidak apa. Aku juga menghargai perjuanganmu Gale. Sebaiknya kita sekarang segera pergi dari sini," ujar Mesa.
Merekapun meninggalkan tempat itu dan kembali berpisah karena regu Mehru belum cukup mendapatkan tanaman.
"Mehru aku sangat lelah. Sebenarnya tanaman seperti apa yang kamu inginkan? hampir seharian kita mengikutimu, tapi kita baru mendapatkan 5 jenis saja." ujar Menggala.
"Kalau kalian lelah, kalian boleh beristirahat disini. Aku akan pergi mencarinya sendiri,"
"Apa kamu akan pergi mengadu pada suhu kalau kami beristirahat disini?" ucap Puna.
"Tidak. kalian tenang saja, lagipula aku tidak akan pergi terlalu jauh."
"Baiklah. Kami tunggu saja disini kalau begitu, kami benar-benar tidak sanggup lagi," ujar Menggala.
"Iya betul." Timpal teman yang lain.
Mehru berjalan sedikit lebih masuk kedalam hutan dengan membawa keranjang dipunggungnya. Setelah dirasa cukup, Mehru kembali menemui teman-temanya.
"Ayo kita kembali, sepertinya regu yang lain sudah kembali semua," ujar Mehru.
"Mehru. Kenapa sedikit sekali? semua regu kulihat memenuhi keranjang mereka semua. Ini bahkan tidak ada seperempat keranjang," ujar Menggala.
__ADS_1
"Biarkan saja sedikit," ujar Mehru sembari berjalan lebih dulu sementara teman-temannya yang lain pergi mengekor dibelakangnya.
"Ada berapa jenis yang kita dapatkan?"
"Sembilan."
"Apa kamu yakin kesembilan jenis itu benar tanaman obat?"
"Aku tidak tahu."
"Kamu tidak yakin, tapi kenapa tidak mengambil banyak jenis tanaman? lihatlah disepanjang jalan kita. Semua tanamannya belum ada didalam keranjang kita," ujar Menggala.
"Yakin saja apa yang kita dapatkan. Tidak masalah kalau kalah, kita bisa menyimak tanaman obat dari regu yang lain dan mengingatnya dengan otak kita."
Menggala dan teman yang lain terdiam. Dengan kata lain Mehru ingin memberitahu pada mereka, kalau ilmu terkadang tidak didapat dari pengalaman sendiri, tapi bisa juga didapat dari pengalaman orang lain.
"Wanita yang mengagumkan, aku jadi bertambah penasaran dengannya," batin Puna.
"Mehru. Maukah dihari libur sekolah pergi bersamaku?"
"Pergi bersamamu? apakah ada hari seperti itu?"
"Tentu saja ada. Biasanya setiap sekolah akan mengadakan hari libur sebanyak satu hari dalam sepekan. Sekolah beladiri yang didesa ini juga sama."
"Kamu mau mengajakku kemana? bolehkah aku mengajak temanku Kheiren?"
"Aku ingin kita pergi berdua saja. Aku juga tidak mengajak teman-temanku,"
"Aneh sekali, kenapa kita tidak boleh mengajak teman-teman, bukankah lebih menyenangkan kalau kita pergi beramai-ramai."
"Bersenang-senang? apa kamu ingin mengajakku kepasar rakyat?"
"Nanti akan kuberitahu setelah kamu yakin bersedia pergi bersamaku."
"Akan aku fikirkan."
"Dasar pria hidung belang. Kalau bukan anak kepala suku, sudah kuberitahu apa niatnya itu pada Mehru," batin Menggala.
Regu Mehru datang terakhir dari regu yang lainnya. Mereka sampai bosan menunggu karena tidak sabar ingin mendengar pengumuman dari Tabib Cheng.
"Baiklah. Sepertinya teman-teman kalian sudah sampai, kalau begitu kita langsung melihat hasil dari apa yang kalian dapatkan dihutan. Regu siapa yang ingin maju lebih dulu?"
Seo memberanikan diri untuk maju dan berharap apa yang dia peroleh tidak membuatnya malu. Terlebih dia adalah murid pertama tabib Cheng yang lebih dulu berada ditempat itu.
"Emm. Dari sekian banyak yang kalian ambil, hanya ada 8 yang bisa dijadikan ramuan obat. Tidak apa-apa, ini juga sudah bagus. Karena tidak semua tumbuhan bisa dijadikan ramuan obat."
"Berikutnya,"
Satu persatu regu maju kedepan untuk memperlihatkan hasil yang mereka dapat dan dinilai oleh Tabib Cheng.
Kini tibalah giliran dari regu Mehru, namun yang membawa keranjang kedepan adalah Menggala. Pria itu maju dengan wajah cemberut, sementara teman-teman diruangan itu tampak berbisik-bisik.
__ADS_1
"Emm...kenapa dari banyak keranjang, hanya isi keranjang kalian yang paling sedikit? apa kalian kesulitan mencabutnya?" tanya Tabib Cheng.
Menggala melirik kearah Mehru dan diangguki oleh gadis itu sembari memberikan senyuman manisnya.
"Kami fikir cuma ini yang bisa dijadikan ramuan obat, kami tidak ingin mengambil sembarang tanaman apalagi cuma asal menebak."
"Emm. Regu yang percaya diri sekali, baiklah bawa apa yang kalian dapat kemari. Biar teman-teman kalian juga melihatnya, sekalian aku akan menjelaskan apa kegunaannya."
Menggala memberikan keranjang itu pada Tabib Cheng. Pria tua itu tersenyum saat melihat apa yang ada didalam keranjang itu.
"Regu kalian hanya membawa 9 jenis tanaman saja?"
"Ya." Menggala tertunduk.
Sementara para murid yang lain menyembunyikan tawa mereka.
"Bagaiman mereka itu. Kita yang keranjangnya penuh saja, hanya sedikit yang benar. Apalagi mereka hanya membawa 9 saja?" bisik salah satu murid.
"Iya. Sepertinya mereka itu orang pemalas," bisik yang lain.
"Tapi tidak apa-apa. Meski kalian cuma membawa sembilan, semua jenis tanaman yang kalian bawa bisa dijadikan ramuan obat."
"Apa???" semua murid diruangan itu berteriak serentak termasuk Menggala.
"Kenapa kamu ikut berteriak? bukankah ini milik regumu?"
"Eh?" Menggala menutup mulutnya.
"Jadi bisa dipastikan untuk kompetisi kali ini dimenangkan oleh regu Mehru dan teman-temannya."
Galeo tersenyum bangga kearah Mehru, dia tahu pasti gadis itu orang yang bisa diandalkan sehingga regu mereka bisa menang.
Sementara Seo merasa kehilangan muka sidepan tabib Cheng, karena kalah dari murid baru.
Tabib Cheng kemudian menjelaskan satu persatu kegunaan dari tanaman obat itu, dan semua murid mencatat apa yang tabib Cheng jelaskan. Setelah selesai, mereka dipersilahkan pulang lebih cepat karena mereka sudah kelelahan.
"Mehru. Aku minta maaf padamu, karena sempat meremehkanmu saat dihutan tadi," ujar Menggala.
"Tidak apa-apa,"
"Iya Mehru. Kami jadi merasa malu padamu. Kami tidak menyangka kamu sangat pintar dalam memilih tanaman obat," timpal teman yang lain.
"Kita masih sama-sama belajar. Jadi tidak masalah kalau ada yang mengkritik apa yang kita lakukan. Kalau kita sudah mahir, tentu kita tidak akan berada disini untuk belajar," ujar Mehru.
"Kamu benar, kalau kita sudah mahir, maka kita akan menjadi suhu seperti tabib Cheng," timpal Puna.
"Sekarang lebih baik kalian pulang saja dan beristirahat,"
"Baiklah kita akan bertemu lagi besok," ujar Puna.
"Emm."
__ADS_1
Puna dan teman-temannya pulang bersama, sementara tanpa Mehru ketahui sudah ada dua orang yang mendengar perbincangan mereka dengan menahan amarah.
Tinggalkan Lke, Komen dan Vote🤗🙏