SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
67. Garam dan Rempah


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Siren pulang dengan perasaan senang. Selain mendapat hewan buruan untuk disantap, dia juga bisa berinteraksi dengan manusia luar.


"Kali ini ada apalagi dengan hewan buruanmu? kemana separuh badan dari rusa ini?"


"Pemilik anjing-anjing itu yang memberikan ini padaku."


Pakuo yang semula sedang menyusun kayu bakar, aktifitasnya jadi terhenti saat mendengar semua itu.


Pakuo mendekati Siren dan memegang bahu gadis itu dengan cukup erat.


"Apa kamu keluar dari perbatasan hutan ini?"


"Tidak."


"Lalu bagaimana cara orang itu memberikan ini padamu?"


"Mereka membaginya, kemudian menyuruh hewan peliharaannya memberikannya padaku."


Pakuo tampak berfikir, apa yang dikatakan Siren sedikit terdengar masuk akal baginya.


"Tapi Baba. Lebih dari itu, aku juga sudah berbicara dengan mereka." Sambung Siren yang membuat mata Pakuo terbuka lebar.


"Siapa yang kamu maksud?"


"Dua orang pemuda yang usianya kurasa tidak jauh berbeda denganku."


"Apa mereka menghampirimu kedalam hutan kita?"


"Tidak. Karena sepertinya mereka takut melewati perbatasan hutan yang mereka tinggali."


"Siren dengar. Apapun yang terjadi, meski orang-orang dari hutan seberang ingin mengajakmu keluar dari hutan, kamu jangan pernah mau. Kamu dengar itu?"


"Ya." Siren menatap mata Pakuo, gadis itu tahu Pakuo sedang mengkhawatirkan dirinya saat ini.


"Apa saja yang kamu bicarakan dengan anak itu?"


"Tidak banyak. Dia hanya bertanya tentang keadaanku. Dia juga bertanya tentang apa yang aku butuhkan."


"Apa yang kamu katakan padanya?"


"Aku katakan bahwa aku butuh garam dan rempah."


Pakuo terkekeh mendengar ucapan Siren.


"Kamu begitu penasaran dengan bentuk garam ya?"


"Sedikit."


"Lalu bagaimana cara dia memberikannya padamu?"


"Besok dia akan menungguku diperbatasan. Aku tidak tahu bagaimana cara dia memberikannya. Mungkin para anjing itu masih bisa digunakan."


"Siren. Jangan terlalu akrab dengan mereka. Aku takut mereka membawa pengaruh buruk untukmu, dan mengajakmu keluar dari hutan ini."


"Ya."


*****


Keesokkan harinya...


Dean dan Aru menunggu lebih dulu diperbatasan hutan mereka.


"Dean. Apa kamu yakin gadis itu akan datang? kita sudah menunggu disini terlalu lama. Perutku bahkan terasa kembung karena terlalu banyak memakan apel liar."


"Tunggulah sebentar lagi. Aku yakin Siren pasti akan datang."


"Apa jangan-jangan dia menunggu hewan buruan lagi? jadi dia menunggu kearah dalam, bukan diperbatasan."

__ADS_1


Dean tampak berfikir keras, apa yang Aru katakan menjadi buah fikirannya. Namun disaat dia sedang berfikir, tiba-tiba sosok yang mereka tunggu muncul dan berdiri tepat berseberangan dengan mereka.


"Sudah kubilang,dia pasti akan datang," ujar Dean dengan membingkai senyuman.


"Apa kamu tidak melihat, wajah gadis itu sangat datar. Apa dia tidak mengerti cara membalas senyum seseorang?"


"Aku suka dengan karakter wajah seperti itu."


"Apa kamu menyukai gadis itu?"


Dean tidak menjawab pertanyaan Aru, tapi malah berteriak kearah Siren.


"Aku sudah membawakan garam dan bibit rempah untukmu. Kamu bisa menanamnya agar tumbuh lebih banyak."


"Ya."


"Alu." Anjing yang merasa disebut namanya mendekat kearah Dean dengan mengibas-ngibaskan ekornya."


Dean mengikat berbagai macam rempah-rempah dan garam yang diletakkan ditabung bambu. Kemudian Dean membuat benda itu bertengger dileher sang anjing.


"Alu. Berikan ini pada gadis itu."


Alu berjalan perlahan, hingga sampailah pada sosok Siren yang berdiri mematung. Siren mengusap-usap puncak kepala Alu.


"Terima kasih anjing pintar. Kamu bisa kembali pada tuanmu."


Siren memerintahkan agar Alu kembali setelah selesai mengambil barang-barang itu dari leher Alu.


"Terima kasih," ujar Siren.


"Apa yang kamu butuhkan lagi?" tanya Dean.


"Dean apa yang kamu katakan? bukankah bantuanmu sudah cukup?" tanya Aru yang khawatir.


"Andai kamu jadi dia, apa kamu akan menjalani hidup dengan mudah? sementara kamu hanya tinggal dihutan itu berdua saja dengan ayahmu."


Aru terdiam. Bukannya dia tidak suka membantu orang lain. Tapi Aru takut, Dean akan melewati batas.


"Aku butuh benda agar bisa membuat kayu menjadi runcing. Apa kamu memilikkinya?"


"Ada. Ditempatku sudah ada orang yang bisa membuat sesuatu yang aneh menjadi benda yang tajam. Dan itu kami gunakan untuk memotong hasil buruan kami dan juga untuk menebang pohon kecil."


"Aku butuh itu."


"Apalagi yang kamu butuhkan?"


Siren kembali terdiam. Matanya tertuju pada ketiga hewan peliharaan Dean yang tampak seperti mendengarkan percakapan mereka.


"Aku menginginkan hewan seperti itu." Tunjuk Siren.


"Anjing?" tanya Dean.


"Ya."


"Akan aku tanyakan pada yang lain. Barangkali mereka memiliki anak anjing yang bisa kamu urus dari kecil."


"Ya."


Siren kemudian berbalik badan setelah mengatakan kata paling singkat dari percakapan mereka.


"Tunggu!"


Siren berbalik badan kembali.


"Apa paman baik-baik saja?"


"Ya."


"Katakan padanya, ayahku Babilo sangat merindukannya."


"Ya."

__ADS_1


"Siren. Datanglah lagi besok disini, aku akan memberikan barang yang kamu inginkan itu."


"Ya."


Siren kembali berbalik badan dan hilang dibalik semak belukar.


"Aku heran kenapa kamu sangat antusias membatu gadis dingin itu. Dia lebih terlihat seperti pahatan batu, daripada seorang manusia."


"Mungkin karena dia tidak pernah bergaul dengan maanusia lainnya. Didalam sana dia tinggal cuma dengan ayahnya dan juga alam yang membesarkannya.


"Apa kamu tidak merasa takut?"


"Kenapa harus takut?"


"Dia anak dari dewi kegelapan. titisan ilmu jahat,"


"Tapi ayahnya manusia campuran. Dan aku lihat gadis itu tidak semenakutkan seperti yang kamu katakan."


"Ayo kita pulang. Ayah pasti mengkhawatirkan kita. Terlebih kita tidak membawa hewan buruan sama sekali."


Aru dan Dean memutuskan untuk pulang. Saat pulang Dean menemukan buruan seekor kelinci putih. Dean memutuskan tidak ingin memakan kelinci itu. Dia ingin memberikan itu pada Siren sebagai teman gadis itu.


Sementara Siren yang penasaran membuka isi tabung yang lumayan sedikit panjang. Siren bisa melihat kalau benda itu mirip seperti batu namun berwarna putih. Besar garam itu nyaris seperti ibu jarinya. Siren menjilat sedikit benda itu dan merasakan asin dilidahnya.


"Ini benar-benar air laut yang dikeringkan," ujar Siren yang kemudian menutup tabung bambu itu kembali.


"Baba mendapatkan burung?" tanya Siren setelah sampai dirumahnya.


"Ya. Burung-Burung ini terpikat oleh getah pohon."


"Apa yang kamu bawa?"


"Ini garam dan rempah. Pemuda itu bilang aku bisa membuatnya menjadi banyak."


"Maksudnya rempah itu harus ditanam."


"Baba. Pemuda itu bilang Ayahnya sangat merindukanmu."


Pakuo menghentikan gerakan tangannya saat sedang asyik mencabuti bulu burung.


"Ayahnya?"


"Ya. Dia bilang Babilo."


"Dia anak Babilo?"


Pakuo terkejut. Namun sejenak kemudian dia membingkai senyuman disudut bibirnya.


"Dean dan Aru pasti sudah besar."


"Baba tahu nama itu?"


"Ya."


"Pemuda itu memang mengatakan itu nama mereka. Baba, apa tidak bisa kita bergabung saja dengan mereka?"


"Tidak bisa. Perisai kita dan mereka berbeda."


"Tapi sampai kapan kita disini?"


"Sampai kita mati."


Siren terdiam. Bagaimana mungkin dia bisa hanya menunggu takdir saja hingga nyawa mereka direnggut oleh mahluk yang dia sama sekali tidak tahu siapa yang telah menciptakannya.


"Siren. Baba mengerti apa yang kamu fikirkan dan rasakan. Tapi percayalah, keajaiban itu pasti ada. Kalaupun ada, Baba rela menukar kebebasanmu dengab nyawa baba sendiri."


"Tidak baba jangan katakan itu. Apa arti kebebasan itu kalau aku tidak bisa melihat baba lagi."


"Aku tidak ingin kebebasan. Aku hanya ingin hidup bersama baba selamanya."


Pakuo mengusap puncak kepala gadis itu. Mereka kemudian membakar burung yang yang sudah mereka bersihkan dan diberi sedikit garam. Siren akui rasa burung itu jadi lebih enak setelah diberi benda yang dia sebut sebagai batu putih itu.

__ADS_1


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2