
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Ceklekkkk
Megumi dan Vino dikejutkan dengan kehadiran Regent diseberang pintu ruangan sembari menyilangkan tangan didadanya.
"Apa kalian sudah puas pamer kemesraan kalian lewat ponsel?" tanya Regent.
Megumi langsung menoleh kearah Vino, yang langsung dibalas dengan kedikkan bahu pria itu. Megumi yang cepat tanggap langsung memeriksa ponselnya dan terkejut saat melihat ada panggilan masuk dari Regent selama hampir 1 menit lamanya.
Wajah Megumi langsung memerah karena malu.
"Ada apa?" tanya Vino.
Regent tidak menjawab pertanyaan Vino, pria itu malah balik bertanya pada Megumi.
"Gumi. Bisakah kamu membantuku mengetahui keberadaan Aline sekarang? tadi kami sempat bertengkar dan dia pergi begitu saja. Aku sudah menghubunginya, tapi dia tidak mau mengangkat telponku."
"Baik."
Megumi segera membuat panggilan untuk Sarlince untuk mengetahui keberadaan sahabatnya itu.
"Hallo,"
Regent menyuruh Megumi agar membuat mode pengeras suara, Megumi pun mengangguk mengerti.
"Aline kamu dimana? kenapa pergi ninggalin aku duluan?" tanya Megumi berpura-pura kesal.
"Aku kembali kekantor, kamu minta antar Vino saja. Malam ini aku tidak akan pulang kerumah."
"Kamu kenapa? kenapa suaramu berat? apa kamu habis menangis?"
"Hikz...Regent meragukan kesucianku, dia mengira aku tidur dengan pria mesum itu. Padahal tidak seperti itu kejadiannya, dia tidak tahu bagaimana sulitnya aku mempertahankan harga diriku demi dia, tapi dia seolah menganggapku wanita murahan."
Lagi-Lagi Regent memberikan kode diponselnya, agar Megumi membacanya.
"Kamu tunggu disana, aku akan datang menemuimu. Kamu bisa bercerita sepuasnya padaku."
"Apa aku tidak merepotkanmu? kamu kan sedang berkencan dengan Vino. Aku jadi iri dengan kalian, Sepertinya hubunganku dengan Regent memang tidak bisa bersatu seperti sebelum-sebelumnya, dia membenciku karena dua tanda sialan ini. Aku akan menggosoknya dengan setrikaan."
Mendengar itu Regent jadi panik, dan memberikan kode kembali pada Megumi lewat ponselnya.
"Jangan melakukan hal konyol apapun, aku akan datang kesana sekarang,"
"Emm. Tolong beli sosis besar dengan saus sambal di kantin Regent. Aku menginginkan itu,"
"Baiklah."
Regent tersenyum geli mendengar permintaan Aline yang sedang merajuk, tapi masih sempat memikirkan makanan kesukaannya.
"Ayo kita pergi sekarang, aku butuh kamu mengantarku sampai depan pintu ruangannya. Setelah itu kalian bisa pergi kemanapun," ujar Regent.
"Emm." Megumi mengangguk.
Regent, Megumi dan Vino segera pergi menuju kantor Sarlince.
"Sebenarnya kalian kenapa? apa kalian bertengkar gara-gara tanda itu?" tanya Megumi yang sedikit canggung.
"I-Iya." Regent menjawab kaku, pria itu cukup malu mengakuinya.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, Aline sangat berusaha keras menjaga kesuciannya selama ini. Bahkan itu jauh sebelum bertemu denganmu."
"Aku tahu. Tadi aku hanya hilang kendali saat melihatnya, a-aku..."
"Ya aku mengerti apa yang kamu rasakan saat melihatnya. Kamu bisa menghapus jejak itu dengan membuat jejak yang baru," ujar Megumi keceplosan.
Mendengar itu wajah Regent jadi memerah, sementara Megumi mendadak diam seketika. Selang 25 menit kemudian mereka tiba di kantor Aline.
"Masuklah, dia pasti ada diruangan pribadinya. Bawa sosis ini bersamamu. Ingat bicara baik-baik, kalau dia marah diam saja."
"Aku mengerti."
"Kami pergi dulu,"
"Terima kasih Gumi."
"Emm."
Megumi dan Vino melangkah pergi, sementara itu Regent perlahan menekan handle pintu dan melihat situasi diruangan Aline. Ruang kerja itu tampak sepi, yang artinya Aline memang sedang berada dalam ruangan pribadinya.
Ceklek
Regent menekan handle pintu ruangan pribadi Aline, suasana tampak begitu gelap.
"Gumi, apa itu kau?"
Regent tidak menjawab pertanyaan Sarlince, perlahan pria itu mendekati sumber suara. Aline yang tengah berbaring seketika terduduk, saat tidak ada respon dari orang yang dia panggil namanya.
Cetekkk
Aline menekan tombol saklar, dan terkejut saat mendapati Regent tepat berada dihadapannya. Dengan malas, Sarlince kembali berbaring dan membelakangi pria itu.
"Maaf," bisik Regent.
Tak ada respon dari Sarlince, wanita itu hanya diam saja.
"Maaf karena cemburu aku jadi hilang kendali dan sudah menyakiti perasanmu. Aku sama sekali tidak meragukanmu, aku hanya merasa marah karena dia menyentuhmu."
"Aku mencintaimu Aline, aku sangat mencintaimu. Ditiap kehidupan, aku hanya menginginkanmu saja, tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisimu dihatiku."
Sarlince membalikkan tubuhnya, wajah wanita itu sudah dibasahi dengan air mata. Sarlince memeluk erat tubuh kekar Regent dan terisak disana.
"Sudah, jangan menangis lagi. Aku tidak ingin melihatmu mengeluarkan air mata lagi dikehidupan ini,"
Regent menghapus air mata Sarlince, mata wanita itu tampak bengkak karena terlalu banyak menangis.
Cup
Regent menge**p bibir Sarlince dan perlahan melu**tnya. Regent perlahan membuat Sarlince melupakan semua kesedihannya. Kedua insan itu melepas seluruh kain yang ada pada mereka dengan tergesa-gesa. Entah karena masih ada rasa cemburu, atau tidak. Tapi Regent membuat lebih banyak tanda merah didada Sarlince hingga tanda sebelumnya tidak tahu lagi berada dimana.
"Eggghhh"
Sarlince melengguh saat benda besar itu melesak masuk memenuhi liang basahnya. Regent perlahan memompa milik Sarlince, hingga wanitanya itu mengeluarkan suara merdunya.
Saat keduanya sudah mencapai puncaknya, tiba-tiba ponsel Sarlince berdering.
"Siapa?" tanya Regent.
"Qiel." Jawab Sarlince sembari memperlihatkan nama Qiel dilayar ponselnya.
"Angkat, tapi buat mode pengeras suara."
__ADS_1
"Ya?"
"Kamu dimana? kenapa belum pulang? aku ingin mengajakmu dinner diluar malam ini,"
"Aku lembur dikantor, banyak kerjaan."
"Kamu lembur? tapi kenapa Umi ada dirumah?"
"Dia kusuruh pulang sebentar, karena ada berkas yang harus diambil di rumah."
"Aku tidak mau tahu, sebentar lagi aku akan menjemputmu dikantor. Aku sudah terlanjur mereservasi tempat disalah satu restauran mewah, aku juga sudah boking hotel untuk kita."
"Hotel? untuk apa?"
"Aku ingin merasakan sensasi berbeda saat bercinta denganmu, aku ingin mencobanya di hotel."
Glekkkk
Sarlince meneguk ludahnya, terlebih saat melihat mata Regent sudah memerah karena menahan amarah.
"Tunggulah, aku akan menjemputmu sekarang."
Qiel segera mengakhiri panggilan itu, sementara Regent bergegas berpakaian karena marah besar.
"Kamu marah lagi?" tanya Sarlince.
"Kali ini bagaimana caramu menghindari dia? kamu sama sekali tidak bisa mengelak lagi,"
"Aku pasti bisa. Lagipula bagaimana caraku bercinta dengannya, sementara tubuhku seperti macan tutul begini," Sarlince memperlihatkan tubuhnya yang dipenuhi dengan tanda merah.
"Lalu apa rencanamu?"
"Tolong ambilkan laptopku,"
"Laptop?"
"Ya."
Regent tanpa banyak bertanya mengambil laptop dimeja kerja Sarlince, dan menyerahkannya pada wanita itu.
Tak
Tak
Tra tak tak
Jari-Jari Sarlince bergerak lincah diatas tombol-tombol laptop. Regent hanya bisa melihat pergerakan itu dengan mata yang berlari kesana kemari.
"Rasakan!"
Sarlince rupanya kembali mengacaukan sistem pertahanan kantor Qiel dengan menanamkan beberapa virus kedalam perangkat lunak yang pria itu miliki. Seluruh data perusahaan sudah tercuri, dan ada sebagian terhapus akibat virus yang Sarlince tanamkan.
Sementara itu Qiel yang tengah diperjalanan, tampak panik saat orang-orang bagian IT memberitahu tentang musibah itu. Pria itu segera putar haluan dan segera pergi menuju kantor untuk menangani kekacauan itu.
"Aline maaf, sepertinya kita tidak jadi pergi dinner. Ada masalah dikantorku,"
"Oke," balas Sarlince.
Sarlince menunjukkan isi chat Qiel, Regent menyunggingkan senyumnya dan mengusap puncak kepala wanitanya itu.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1