
Tinggalkan Like, Koment, dan vote π€π
*****
"Ada apa? kenapa tanganmu mendadak dingin?" tanya Dean saat merasakan telapak tangan Siren yang terasa dingin seketika.
"Aku tidak tahu. Tapi aku merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi."
Pakuo mendekati Siren dan memeluk putrinya itu. Pakuo tahu betul putrinya itu memiliki kemampuan istimewa yang tidak dimiliki sembarangan manusia biasa.
"Siren. Apapun yang terjadi nanti, satu hal yang harus kamu ingat. Baba sangat menyayangimu," ucap Pakuo.
"Baba. Tolong katakan padaku, sebenarnya ini ada apa?" Dean mendadak cemas.
Siren kembali menempelkan telinganya kebumi. Wanita itu bisa merasakan suara derap langkah kaki yang semakin dekat. Bukan derap langkah kaki yang berjalan santai, melainkan derap kaki dengan langkah tergesa-gesa.
"Mereka semakin dekat," ujar Siren.
"Siapa mereka yang kamu maksud?" tanya Dean.
"Tidak tahu. Yang pasti mereka berjumlah sangat banyak." Jawab Siren.
"Kalau begitu kita harus bersembunyi dulu. Kita harus tahu mereka datang untuk apa?" ujar Aru.
"Sampai kapan kita harus bersembunyi? hutan ini memang luas, tapi kita tidak bisa keluar dari sini semau kita. Jadi lambat laun kita pasti ditemukan juga," timpal Pakuo.
"Jadi apa kita harus menghadapai orang-orang itu? atau jangan-jangan itu para mahluk yang membinasakan hutan peri?" tanya Aru.
"Tidak mungkin mahluk itu bisa masuk kehutan ini tanpa segelnya terbuka lebih dulu. Lagipula kalian tidak tahu, mahluk itu datang tidak selambat orang-orang itu. Bahkan dia bisa berada dihadapan kita hanya dengan kedipan mata saja."
"Ya. Paman benar. Aku pernah menyaksikannya sendiri. Entah mereka punya sihir seperti apa, mereka bahkan sanggup membumi hanguskan hutan peri hanya sekejap mata saja," timpal Aru.
"Kalau begitu kita masih bisa menghadapi orang-orang itu kalau memang mereka manusia murni," ucap Dean.
"Jumlah kita tidak akan mampu untuk menandingi jumlah mereka. Yang harus kita lakukan adalah, kita harus bicara baik-baik dengan mereka," ujar Pakuo.
__ADS_1
Dean mendekati Siren dan menggenggam erat tangan istrinya itu. Dean tiba-tiba memeluk erat Siren seolah takut mereka akan dipisahkan.
"Sebaiknya daripada menunggu, lebih baik kita menyambut kedatangan mereka lebih dulu. Aku takut mereka akan merusak apa yang sudah kalian bangun," ucap Pakuo.
"Tapi Ba. Apa itu tidak akan membahayakan keselamatan kita?" tanya Dean.
"Mau tidak mau kita harus menghadapinya. Karena tidak mungkin kita akan menghindar terus menerus." Jawab Pakuo.
Pakuo memimpin jalan lebih dulu dengan membawa sebuah tombak ditanggannya. Sementara Dean, Siren dan Aru mengekor dibelakang Pakuo sembari membawa busur dan panah.
Dean yang gelisah menyelipkan kelima jarinya disela jari Siren, seolah mencari kekuatan disana. Melihat pertautan tangan mereka, Siren dan Dean saling bertatapan seolah tahu kegelisan hati mereka masing-masing.
Tidak sampai jarak ribuan hasta, mereka sudah bertemu dan bertatap muka dengan ratusan orang yang juga menatap mereka dengan tatapan yang sama. Pada barisan depan, Dean bisa melihat orang-orang yang sangat dia kenal dan lumayan dekat saat masih berada dihutan Peri.
"Paman Pao, paman Gao, kalian...."
Langkah Dean terhenti saat akan menghampiri orang yang dia kenal, saat sebuah ujung tombak hampir mengenai kakinya.
Dean menatap kearah barisan depan tepat didepan orang-orang yang sangat tidak asing itu. Kini tatapan mereka terhadap dirinya sangat jauh berbeda, ada tatapan dendam, amarah dan kebencian yang mendalam. Bahkan gadis yang selalu mengejar dirinya terlihat memalingkan muka saat menatap kearahnya.
"Sepertinya kehidupan disini cukup baik. Bahkan kamu diterima dengan cukup baik disini. Apa kamu sama sekali tidak pernah merasa bersalah atas apa yang sudah kamu lakukan kepada kami?" tanya Pao.
"Tapi Paman. Aku juga tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Sekarang aku sudah melakukan Ritual dengan anak Baba Pakuo. Aku harap kalian bisa mengampuniku, biarkan aku hidup tenang dihutan ini." sambung Dean.
Pao tertawa keras saat mendengar ucapan Dean. Namun sesaat kemudian tawa itu mereda dan berganti dengan tatapan amarah.
"Kalau anak sepertimu dibiarkan hidup, maka akan ada anak yang lain yang akan jadi pembangkang sepertimu. Jadi untuk memutus tabiat serakah sepertimu, kami harus membinasakan kamu juga."
"Tidak bisakah kalian berfikir dari sudut pandang yang lain? apa saat kalian menghabisi anak ini, semua akan kembali seperti semula?" tanya Pakuo.
"Sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. Ini semua terjadi karena ada andil putrimu didalamnya. Gara-Gara anakmu, Dean jadi seorang pembangkang. Jadi sebaiknya kami musnahkan saja semua anak-anak tidak berguna ini," Hardik Gao.
"Beraninya kau menghina putriku? apa kalian fikir kalian itu jenis manusia suci yang tidak pernah melakukan kesalahan?" hardik Pakuo.
"Itulah sebaiknya kamu diam saja. Urus saja putrimu dengan baik, kami hanya membutuhkan dua anak ini untuk menjadi tumbal kami, agar semua arwah manusia campuran bisa tenang disana."
__ADS_1
"Kalian! seret dua anak itu kemari!" perintah Gao.
Empat orang bertubuh besar mendekati Dean dan Aru dan menarik paksa kedua tangan pemuda itu.
Tap
Tangan Siren mencengkram salah satu tangan Dean cukup erat, hingga terjadilah aksi tarik menarik antara Dua orang bertubuh besar, dan seorang Siren sebagai lawannya. Entah Siren memiliki kekuatan darimana, namun ini juga pertama kali Pakuo melihatnya. Saat kedua orang bertubuh besar itu menarik dengan penuh tenaga, namun kaki Siren sama sekali tidak bergeser sedikitpun. Bahkan tatapan mata wanita itu masih tampak datar.
"Awww,"
Melihat Dean yang meringis kesakitan, Siren menatap suaminya itu dengan penuh iba. Siren melepaskan cengkraman tangannya sehingga ketiga orang itu terjerembab ditanah.
"Sepertinya dia memang keturunan dewi kegelapan. Kalau tidak, mana mungkin dia memiliki kekuatan aneh itu," ucap salah seoang yang berada dibarisan depan.
"Tidak perduli keturunan siapa dia, jika memang menghalangi jalan kita, maka kita akan membinasakannya juga," ucap Pao.
Orang-Orang itu kembali menyeret Dean dan Aru. Siren yang tidak terima melakukan perlawanan dengan meluncurkan sebuah anak panah tepat dipunggung salah satu pria bertubuh besar.
Tap
"Akkkkkkhhh..."
Pria bertubuh besar itu berteriak kesakitan, saat sebuah anak panah mengenai punggungnya. Menyaksikan hal itu, orang-orang itu bertambah marah dan menyerang Siren. Pakuo yang melihat anaknya diserang, ikut membela putrinya hingga terjadilah perkelahian sengit.
Dean dan Aru pun tidak tinggal diam, kedua pemuda itu ikut bertarung meskipun mereka tahu posisi mereka tidak menguntungkan.
"Akkkhhhh...."
Perjuangan Pakuo terhenti saat sebuah benda dengan panjang sehasta berhasil mengoyakkan perutnya hingga menggeluarkan banyak darah.
"Ba-baba," ucap Siren lirih.
Siren berlari secepat mungkin sebelum Pakuo benar-benar tersungkur ketanah.
Bughhh
__ADS_1
Siren menerjang seorang pria yang sudah berhasil melukai ayahnya, hingga pria itu tersungkur ketanah. Dengan pahanya Siren memangku kepala Pakuo yang wajahnya kian memucat itu. Pakuo meraba wajah putrinya yang sudah basah dengan air mata. Air mata yang sama sekali tidak pernah dia lihat dari wajah putrinya, kini dia harus menyaksikan air mata itu mengalir laksana air terjun.
Tinggalkan Like, Koment dan Voteπ€π