
Tinggalkan Like, Koment dan Voteπ€π
*****
Setelah memesan beberapa menu makanan. Suasana hening kembali tercipta.
"Ini sebenarnya ada apa? bagaimana kita bisa bicara kalau wajah kalian seperti ini?"
Tak ada satupun dari Vino dan Regent yang menjawab pertanyaan dari Sarlince. Sarlince kemudian langsung bangkit dari tempat duduknya dan hendak pergi keluar pintu setelah menyambar tasnya.
Tap
Regent mencekal tangan Sarlince sembari menatap wajah wanita yang dicintainya itu. Dengan satu kali sentakan tubuh Sarlince sudah mendarat dipangkuan Regent. Tanpa basa-basi Regent melu**t b***r Sarlince hingga mata wanita itu melotot sempurna karena terkejut.
Jangan ditanya bagaimana rona wajah Vino dan Gumi saat melihat adegan itu. Kedua orang itu sama-sama memalingkan wajah karena malu. Vino dengan terpaksa pindah tempat duduk menjadi disebelah Gumi.
Regent melepaskan pagu**n b***rnya saat Sarlince terlihat sudah kehabisan nafas.
"Apa yang kau lakukan? aku sangat malu," Sarlince membenamkan wajahnya didada Regent karena tidak berani menatap Vino dan Gumi.
"Bisakah kalian bertingkah dengan normal? apa kalian menganggap kami ini patung?" tanya Vino dengan kesal.
Sarlince segera beranjak dari pangkuan Regent dan duduk disebelah pria itu dengan normal.
"Sebenarnya ada apa denganmu? kenapa kamu terlihat sangat marah?" tanya Sarlince.
"Biar aku yang menjawabnya untukmu. Dia .."
"Vin...." mata Regent melotot.
"Katakan Vin. Jangan takut padanya, biar aku yang menanggung segala resikonya."
"Dia cemburu karena Qiel bilang, kamu bertempur semalaman dengan suamimu itu."
"Ckk...dasar mulut ember," gerutu Regent.
Sarlince menoleh kearah Regent dan membingkai senyuman kearah pria yang wajahnya sudah dilipat-lipat itu.
"Ada apa dengan senyummu itu?" tanya Regent.
"Jangan dengarkan omongan dia. Itu sama sekali tidak benar," ucap Sarlince dengan lembut.
"Mana aku tahu itu benar atau tidak? aku kan tidak melihat," ucap Regent.
"Jadi kamu maunya aku bagaimana. Hem?"
"Tidak tahu."
"Apa kita tidak perlu melanjutkan pertemuan ini?"
Regent terdiam. Disisi lain dia memang sedang kesal, tapi disisi lain dia sangat merindukan kekasihnya itu.
"Maaf seharusnya aku tahu diri. Aku...."
"Percayalah padaku. Pria itu hanya membual, selama aku menikah dengannya, tak satu kalipun dia berhasil meniduriku."
"Be-benarkah?" tanya Regent yang kemudian diangguki oleh Sarlince.
Mata Regent berbinar bahagia Dan dia tahu Sarlince tidak berdusta saat ini.
"Ckk...bucin," ucap Vino lirih namun masih bisa didengar oleh Gumi.
__ADS_1
"Maaf. Apa kamu juga sedang marah padaku?" tanya Gumi.
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu bicara denganku dengan memalingkan wajah begitu?"
Vino menatap wajah polos Megumi dan mendadak luluh seketika.
"Sebenarnya kamu tahu tidak kalau aku ini sedang mengejarmu kembali dari awal?"
"Mengejar dari awal?"
"Ckk...sebenarnya bukan salahmu juga karena lupa dengan masa lalu kita. Tapi aku ingin kamu tahu, dikehidupan dulu kita ini sepasang kekasih."
"Be-benarkah?"
"Emm." Vino mengangguk.
"Aku tahu ini terlalu cepat untukmu. Tapi kalau kamu percaya padaku, tolong izinkan aku mengejarmu sekali lagi," ujar Vino.
Megumi mengangguk dan Vino tersenyum bahagia.
"Sebenarnya hal apa yang ingin kalian bahas dengan kami?" tanya Regent.
"Re...apa kamu yakin tidak mencintai Mehru lagi?"
"Tidak."
"Bagaimana kalau Mehru tiba-tiba berada didepanmu? apa kamu yakin tidak berpaling padanya?"
"Tidak akan."
"Jadi kamu tidak akan memeluknya saat melihatnya didepanmu?"
"Tidak."
Regent mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti.
"Tuan Regent, Sarlince adalah Mehru yang selama ini kita cari."
"Meh-Mehru" Regent terkejut.
"Jadi apa kamu yakin tidak ingin memelukku?"
"Nanti dulu, soal peluk memeluk itu urusan gampang. Tolong jelaskan padaku dulu, kenapa Sarlince bisa jadi Mehru?"
"Apa yang mau dijelaskan lagi. Apa perlu aku melubangi kepalamu menggunakan pistol? Sayangnya dikehidupan ini aku belum sempat menciptakan pistol kesayanganku," ucap Sarlince.
Regent membingkai senyuman dibibirnya, gaya Sarlince marah dan mengatakan ingin melubangi kepala seseorang, benar-benar mengingatkannya akan sosok Sarlince dikehidupan sebelumnya. Saat itu Sarlince menjadi seorang kapten penguasa lautan, kebolehannya menembak tidak diragukan lagi. Bahkan wanita itu mampu menembak dari jarak jauh tanpa melihat sasaran sedikitpun.
Greppppp
Regent memeluk erat tubuh Sarlince dengan mata yang berkaca-kaca.
"Akhirnya aku menemukanmu," bisik Regent.
Sarlince tiba-tiba mendorong tubuh kekar Regent dan menatap pria itu dengan pandangan mengolok.
"Dasar pria tidak berpendirian. Jadi kamu mau pilih yang mana? Mehru apa Sarlince?" tanya Sarlince.
"Bukannya sama saja? asalkan itu kau, aku pasti akan memilihmu,"
__ADS_1
"Tidak bisa. Aku ingin dengar, kamu milih Sarlince apa Mehru?"
"Dasar wanita keras kepala. Tentu saja aku memilih Sarlince. Nama Mehru sudah mati dikehidupan yang lampau, sekarang namamu Sarlince, tentu saja aku memilih sesuatu yang hidup."
"Re...sebenarnya apa yang terjadi? kenapa aku dan Megumi sama sekali tidak mengingat pernah ada kalian dikehidupan manapun? dan anehnya, itu hanya kalian saja."
"seingat kalian, sudah berapa kali kalian diberikan kesempatan hidup?" tanya Regent.
"Ini kebidupan ke 6 bukan?" ucap Sarlince.
"Tidak. Kalian sudah keliru. Ini adalah kehidupan kita yang ke 7."
"Ke 7?" tanya Sarlince dan Megumi bersamaan.
"Aku tidak heran kalian bisa melupakan kehidupan pertama kalian, karena disitulah titik pertama terjadinya masalah dan kita bisa hidup berkali-kali."
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Sarlince.
"Ada sekelompok orang yang bersekutu dengan iblis. Salah satunya dari mereka merupakan keturunan dewa kegelapan."
"Dewa kegelapan? apa orang itu memang bukan seorang manusia murni?"
"Tidak. Dewa kegelapan pernah melakukan kesalahan dengan menikahi seorang manusia murni. Itulah sebabnya titisannya menjadi seorang setengah manusia dan setengah kegelapan."
"Aline mungkin kamu akan bingung saat aku mengatakan ini, tapi yang sebenarnya terjadi adalah, kamu itu sesungguhnya bukan manusia murni sama seperti kami."
"Sama seperti kalian? apa maksudnya?
"Kamu bukan anak dari Tontoro dari kehidupan yang kamu anggap kehidupan pertamamu. Tapi kamu merupakan titisan dewi kegelapan dengan manusia setengah Elf."
"Ap-apa? dewi kegelapan dengan manusia setengah Elf? peri?" Sarlince terkejut.
"Ya. Waktu itu manusia dibumi memang tidak sebanyak seperti sekarang ini. Dulu dewi kegelapan, dewa kegelapan, para Elf sedang menjalani hukuman dari leluhur mereka. Mereka dihukum untuk menyeimbangkan antara alam kegelapan, dan dunia fana. Namun kemudian mereka jatuh cinta dengan manusia hingga melahirkan kita sebagai anak-anak keturunannya."
"Tunggu! kenapa aku sulit sekali mencerna ceritamu itu. Ini rasanya seperti cerita dongeng dan tidak mungkin ada dikehidupan nyata."
"Lalu apa kamu sendiri bisa menjelaskan kenapa kita bisa hidup berkali-kali?"
Sarlince terdiam. Dirinya yang hidup berkali-kali saja sudah merupakan keanehan yang sangat luar biasa.
"Kalau aku memang titisan dari dewi kegelapan, lalu dimana orang tuaku?"
"Jangan kamu tanyakan lagi ayahmu yang sudah tiada ribuan tahun yang lalu karena dia seorang manusia bisa, begitu juga dengan ayahku."
"Lalu dimana ibuku?"
"Dia disegel oleh raja iblis dari dunia kegelapan. Dia mendapat hukuman itu karena menikah dengan manusia biasa, begitu juga dengan dewa kegelapan. Seharusnya ibumu menikah dengan dewa kegelapan. Agar kelak keturunannya nanti bisa menguasai dunia iblis dan dunia fana. Tapi mereka melanggar aturan, dan dihukum hingga sekarang."
"Sampai sekarang?"
"Sarlince didunia sana, tidak sama dengan dunia fana. Disana mereka hanya merasa dihukum baru beberapa hari saja. 1 hari disana, 1000 tahun kita didunia fana."
"Lalu apa yang terjadi sebenarnya? kenapa aku dan Megumi tidak ada yang mengingat semua kejadian dimasa lalu?"
"Itu berawal dari ketika generasi kita lahir dikehidupan pertama...."
Flashback
10.000 Tahun Yang Lalu....
Siren, yang tak lain Sarlince lahir ditengah badai dan letusan gunung. Seorang bayi cantik yang dikutuk oleh raja iblis karena lahir dari sebuah pelanggaran yang dilakukan ibunya dewi kegelapan dengan seorang manusia. Siren dikutuk tidak bisa tinggal didaratan secara utuh. Bayi yang berangsur remaja ketika usianya baru 3 bulan sejak ia dilahirkan, terpaksa harus bertahan hidup didinginnya air laut karena tubuhnya yang setengah manusia dan setengah ikan.
__ADS_1
Melihat penderitaan sang putri, sekali lagi dewi kegelapan melanggar aturan raja iblis, dewi kegelapan memberikan perisai terakhirnya agar sang putri bisa hidup normal dan tinggal bersama ayahnya. Raja iblis yang murka menghukum Dewi kegelapan dengan segel abadi. Dan hanya bisa lepas kalau ada seorang anak yang mampu mengusai seluruh bumi dan alam kegelapan yang akan memecahkn segel itu.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote,π€π