SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
128. Mulai Membangun


__ADS_3

"Vin. Cari seorang arsitek handal untuk membangun sebuah Laboratorium raksasa."


"Laboratorium? apa hal ini sudah dibicarakan dengan Sarlince?"


"Kami sudah membicarakannya waktu itu, biarlah kita bergerak lebih dulu, saat ini Sarlince sedang sibuk mengurus perceraian dengan suaminya."


"Baiklah. Bagaimana dengan bunker yang Sarlince rencanakan itu? juga bangunan untuk membuat alat yang bertehnologi canggih yang Megumi dan Sarlince rencanakan?"


"Biarkan itu menjadi urusan Sarlince, aku sendiri tidak mengerti cara dia membangun itu. Kalau untuk laboratorium masih tergolong mudah,"


"Baiklah." Jawab vino.


Vino segera pergi dari hadapan Regent untuk mencari berbagai informasi tentang Arsitek bagus yang pernah menangani pembangunan proyek rumah sakit atau sejenisnya.


Untuk lahan pembangunan Laboratorium itu, mereka sudah memiliki tanah bagus, sangat cocok untuk membangun sesuatu yang sangat dirahasiakan itu.


"Hah...baru sehari tidak berkomunikasi dengannya, rasanya sudah sangat rindu berat. Apa dia juga merindukanku?" ujar Regent sembari melihat foto Sarlince dilayar ponselnya.


*****


Sudah 3 minggu dari kejadian itu, Sarlince dan Regent benar-benar tidak pernah bertemu satu sama lain. Kini Sarlince pun sudah resmi bercerai dari Qiel.


Sarlince dan Regent kini sama-sama disibukkan dengan pembangunan Laboratorium, bunker dan bangunan khusus yang akan digunakan Sarlince untuk membangun benda-benda bertehnologi canggih.


"Sudahlah, kalau memang kangen kenapa harus menahan diri. Kamu bisa menemuinya lebih dulu," ujar Megumi yang tengah menenangkan Sarlince yang tengah terisak.


"Kenapa harus aku yang duluan? yang buat salah kan dia?"


"Kan kamu yang mengancamnya, tentu saja dia takut menemuimu dan melanggar apa yang kamu inginkan."


"Pria tidak peka seperti dia mana mengerti perasaan wanita. Pokoknya aku tidak mau bertemu dia selamanya,"


"Jadi sebenarnya kamu itu ingin dia bagaimana?"


"Aku tidak tahu."


"Menurut Vino saat ini dia sedang menyibukkan diri dalam pembangunan laboratorium itu. Apa kau tahu? dia ingin labor itu terlihat sempurna, bahkan dia menyuruh pegawainya yang ahli komputer untuk melengkapi labor itu dengan tehnologi canggih dimasa kini."


"Apa dia Lucia?"


"Benar."


"Ckk...wanita itu memang menyukai Regent dari dulu. Dia selalu mencari kesempatan, agar bisa berdekatan dengan pria itu."


"Itulah sebabnya kamu jangan termakan gensi, jangan biarkan pelakor diberi peluang untuk mendekati Regent. Nanti kamu nyesal,"


"Sebenarnya kamu itu berpihak pada siapa?"

__ADS_1


"Tentu saja padamu."


"Lalu kenapa kamu seolah menakutiku?"


"Jadi kamu takut kehilangan Regent?"


"Ckk...kamu itu menyebalkan! mentang sudah punya suami,"


"Makanya cepat kelarkan urusan kalian, biar bisa nyusul seperti kami."


"Lagian ya, aku perhatikan dikehidupan ini kamu sangat lebay. Seperti kata anak jaman sekarang bucin akut. Nggak ada wibawa sama sekali."


"Benarkah begitu? aku juga merasa moodku kurang bagus akhir-akhir ini. Teruma aku selalu teringat...."


Megumi mengulum senyumnya, dia tahu.Sarlince saat ini sedang dilanda rasa malu untuk mengakui perasaannya.


Sementara ditempat berbeda, Regent tengah merenung. Malam ini dia kesulitan untuk tidur, karena dia sangat merindukan Sarlince.


"Ini tidak boleh dibiarkan. Sampai kapan aku seperti ini? aku sudah tidak tahan lagi, aku sangat merindukan dia. Lebih baik aku menemuinya dan membujuknya lagi. Tidak usah perdulikan hasil akhirnya, yang penting asal bisa melihat dia dari dekat, itu sudah cukup bagiku."


Regent bergegas bangun dari tempat tidur dan segera memakai baju kaos serta hoddy berwarna hitam. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, saat dirinya menyelinap masuk dikamar Sarlince yang tampak temaram.


Sarlince yang memiliki indera sensitif, merasakan pergerakan dari seseorang didalam kamarnya, dia juga mencium aroma seseorang yang begitu dia kenal dan dia rindukan. Namun Sarlince berpura-pura tidur nyenyak, karena ingin tahu apa yang akan dilakukan Regent.


Cup


Regent mencium kening Sarlince perlahan karena tidak ingin wanita itu terbangun dan memarahi dirinya.


Hati Sarlince benar-benar menghangat saat mendengar curahan hati Regent, hingga tanpa Regent sadari Wanita itu sudah menitikkan air matanya.


"Kamu selalu mempertanyakan rasa cintaku padamu, apakah itu cinta atau obsesi. Bagaimana bisa kamu berpikir itu sebuah Obsesi? aku menunggu dan mencarimu bahkan di tujuh kehidupan. Apa itu tidak bisa membuktikan semuanya?"


"Aku tahu aku salah, mungkin terlalu sering kalah ditiap kehidupan, aku terlu posesif padamu dikehidupan ini. Itu karena aku sangat takut kehilanganmu lagi,"


"Kalau kamu ingin aku benar-benar melupakan hubungan kita, aku bisa apa? asalkan kamu bahagia dengan semua keputusanmu itu maka aku akan menerima semuanya."


"Sayang. Aku pergi dulu ya? aku takut kamu terbangun dan tambah membenciku."


Regent hendak berbalik badan, tapi tangannya dicekal oleh Sarlince dengan begitu erat.


"Dasar pengecut!"


"A-Aline, kamu sudah bangun? maaf a-aku..."


"Aku apa?"


Sarlince menyalakan saklar lampu, hingga wajah Regent dan dirinya terlihat jelas. Mata Regent terpanah, saat melihat Sarlince hanya mengenakan lingerie tipis berwarna hitam.

__ADS_1


"Setelah seenaknya masuk kekamar seorang wanita lalu mau pergi begitu saja?"


"A-Aku..."


"Mau apa kamu kemari? aku sudah bilang, kalau kamu menemuiku tanpa seizinku, maka aku akan menambah satu bulan hukumanmu."


Regent hanya diam saja, dia sudah pasrah saat mendengar apapun keputusan Sarlince.


"Kenapa diam?"


"A-Aku menerima apapun hukumanmu."


"Kenapa? kamu senang dihukum lama karena punya kesempatan dekat-dekat dengan gadis yang bernama Lucia itu."


"Mana ada seperti itu. Dia itu karyawanku, aku tidak suka padanya."


"Lalu siapa yang kamu sukai?"


"Tentu saja kamu."


"Suka tapi tidak memelukku?"


Regent tampak bingung mendengar ucapan Sarlince, dia takut salah dengar dan salah mengartikan ucapan Sarlince yang akan berujung dirinya terkena tamparan ganas dari wanitanya itu.


"Ckk...pembohong," ucap Sarlince kesal


"Apa itu artinya kamu sudah tidak marah lagi padaku? tanganku sudah gatal ingin melakukannya, tapi takut terkena gamparan pedas," ujar Regent.


"Terserah! kalau mau pergi ya pergi saja,"


Grepppp


Regent tiba-tiba memeluk Sarlince, Sarlince yang senang masih berpura-pura marah pada Regent.


"Kenapa?"


"Aku sangat merindukanmu," bisik Regent.


Sarlince membalikkan tubuhnya dan menatap pria dihadapannya, untuk pertama kalinya Sarlince mengambil inisiatif terlebih dahulu. Sarlince menci**m dan melu**t bibir kekasih hatinya itu.


Mendapat serangan mendadak begitu, tentu saja Regent tidak ingin menyiakan kesempatan. Dia paling mengerti apa yang diinginkan Sarlince saat ini. Regent dan Sarlince tergesa-gesa melepaskan tiap kain yang ada ditubuh mereka, hasrat mereka sepertinya sudah sama-sama tidak terbendung lagi.


"Ah... Emmpptthh"


Suara merdu itu begitu lama Regent tidak dengar karena mereka hampir sebulan tidak melakukan hal itu. Kini saat mendengarnya kembali, gelora yang ada ditubuh pria itu mendadak bangkit sempurna.


Regent mengakses tiap inci tubuh kekasihnya tanpa ada yang terlewatkan sedikipun.

__ADS_1


"Hegggghh"


Sarlince lagi-lagi melengguh saat benda besar kesayangannya sudah melesak masuk memenuhi dirinya. Regent perlahan memompa selembut mungkin. Dia tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali, yang akan menyakiti wanitanya. Regent menatap wajah Sarlince yang juga tengah menatap kearahnya, tapapan penuh cinta disela-sela hujaman manis yang regent berikan.


__ADS_2