SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
77. Insting


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Siren terbangun saat mencium aroma wangi dari daging panggang yang Dean masak diatas bara api. Terlihat Dean hanya membuang bagian kulit dan kotorannya saja pada babi buruannya. Unsur minyak yang terkandung dalam daging itu tampak meleleh dan menetes dia atas bara api, yang menimbulkan sedikit percikan api.


Tidak jauh berbeda dengan Siren, Aru yang mencium aroma lezat itu juga ikut terbangun dan ingin melihat siapa yang sudah membuat aroma selezat itu.


"Kamu sudah bangun?" tanya Dean saat melihat Siren turun dari rumah pohon.


"Ya. Kamu berburu sendiri? tangkapanmu lumayan besar, dan kamu memasaknya secara utuh."


"Ya. Aku tidak ingin membangunkanmu yang kelihatan sangat lelah. Hari ini aku mendapatkan seekor babi gemuk dan kupanggang secara utuh. Anggap ini hadiah usai ritual kita, setelah dagingnya masak kita akan pergi kerumah baba untuk membaginya."


Dean melihat Aru turun dari rumah, mata pria itu terlihat sembab dan memiliki lingkar hitam dibawah kelopak matanya.


"Kamu kenapa?" tanya Dean.


"Apanya yang kenapa?"


"Apa kamu tidak tidur semalaman?"


"Kamu fikir siapa yang membuatku tidak bisa tidur semalaman? bahkan kera dan para harimau juga ikut berlari mendengar keributan kalian tadi malam."


Dean melirik kearah Siren. Wajah wanita itu mendadak memerah karena mendengar ucapan Aru.


"Perhatikan ucapanmu itu. Kamu boleh berkata apa saja denganku, tapi tidak didepan istriku."


"Bikin kesal saja," Aru menggerutu.


"Siren. Sebaiknya bersihkan saja dirimu, dagingnya sebentar lagi matang. Kita akan makan bersama setelah kamu kembali,"


"Emm." Siren menganggukkan kepalanya.


Siren segera pergi kealiran sungai untuk membersihkan diri. Wanita itu berendam cukup lama disana.


"Ingat perhatikan perkataanmu. Siren memang wanita polos dan belum mengerti banyak hal. Tapi bukan berarti dia tidak mengerti sepenuhnya apa yang kamu katakan. Aku belum pernah melihatnya menangis, jadi jangan pernah kamu berani membuatnya menangis lebih dari aku."


"Makanya, bisakah kalian memperhatikan orang lain juga? disini yang tinggal tidak hanya kalian berdua saja, apa kalian tidak bisa kalau berbuat seperti itu tidak menimbulkan suara?"


"Tidak bisa. Mungkin saja aku bisa, tapi tidak dengan Siren. Bagaimana bisa aku melarangnya untuk bersuara. Kami hanya mengungkapkan apa yang kami rasakan saat melakukannya."


Aru yang kesal langsung ingin mencomot daging panas yang ada diatas bara api.


"Auuu..." Aru mengibas-ngibaskan tangannya karena daging itu masih terlalu panas.

__ADS_1


"Apa kamu itu sudah menjadi bodoh? itu kan masih panas, terlebih dagingnya belum matang sempurna. Dasar bodoh!"


"Kamu yang bodoh, seluruh keluargamu bodoh, dan punya istri bodoh juga."


Tukkkk


Dean dengan geram memukul kepala Aru dengan ranting pohon yang dia gunakan untuk membuat bara api tetap berkumpul ditengah.


"Sepertinya kamu suka sekali mengajakku berkelahi. Awas saja kalau kamu berani mengatai istriku bodoh lagi. Lain kali bara api ini yang aku letakkan dikepalamu."


"Kamu baru punya istri seperti itu saja sudah berani kasar denganku,"


"Seperti itu yang kamu maksud itu, seperti apa? kamu mengataiku, seperti kamu sudah punya istri saja. Jangan-Jangan kamu iri padaku ya?"


"Aku? iri padamu?" tanya Aru sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Ehemmm,"


Suara deheman seseorang membuat dua pemuda yang sedang berdebat menjadi diam seketika.


"Apa dagingnya sudah matang?" tanya Pakuo.


"Se-sebentar lagi Ba." Jawab Dean.


"Dimana Siren?" tanya Pakuo.


"Dia sedang membersihkan diri disungai sana."


Pakuo duduk disebuah kursi yang terbuat dari kayu gelondongan.


"Tangkapan yang cukup besar. Apa cara memasak seperti ini bisa membuat dagingnya matang merata?" tanya Pakuo.


"Dulu dihutan peri kami sering melakukannya. Biasanya saat kami mendapatkan beberapa tangkapan besar dan memanggangnya secara beramai-ramai. Kita hanya perlu menjaga bara apinya terus menyala, lama kelamaan dagingnya akan matang hingga kedalam."


"Betul paman. Manusia murni sudah berhasil mengembangkan suatu tanaman yang bisa membuat rasa daging jauh lebih enak," timpal Aru.


"Benarkah? tanaman apa itu?"


"Mereka menyebutnya cabai, rasanya panas dilidah. Tapi itu jauh lebih enak saat kita makan bersama dengan daging yang sudah dilumuri dengan garam." Jawab Aru.


"Tanaman apa saja yang sudah banyak dikembangkan oleh manusia murni dihutan kalian?"


"Sangat banyak Paman. Terutama berbagai jenis sayuran. Karena ada jenis manusia murni yang kurang suka memakan hewan berdarah. Mereka lebih suka makan ikan dan sayur saja."


Aru menceritakan banyak hal pada Pakuo dengan sangat antusias. Dean hanya diam saja, karena rasa bersalah yang bergelayut dihatinya. Siren yang baru tiba, memperhatikan gerak bibir Aru yang bercerita cukup lancar dengan sesekali tertawa. Namun saat melihat Dean yang terdiam, dengan sesekali membalik daging panggang, Siren seolah mengerti bahwa perasaan suaminya kini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Apa dagingnya sudah matang? aku sudah sangat lapar," ujar Siren.


Aru, Pakuo dan Dean menoleh keasal suara. Senyum Dean mendadak terbit saat melihat kedatangan istrinya itu.


"Kemarilah, kamu bisa mencicipinya terlebih dahulu." ucap Dean.


"Biarkan Baba yang mencicipinya lebih dulu," ujar Siren.


"Iya aku hampir lupa. Baba, kita akan anggap hari ini adalah hari perayaan untuk ritualku bersama Siren. Sebagai tanda penghormatan, aku ingin Baba yang memotong daging pertama kali,"


Tanpa banyak bicara, Pakuo mengambil alat yang digunakan untuk memotong daging. Aroma wangi dan asap yang mengepul dari daging yang terbuka, membuat perut mereka mendadak lapar seketika.


"Ini daging terlezat yang pernah ku santap," ucap Pakuo.


Dean senang mendapat pujian dari ayah mertuanya itu. Dean mengambil alih alat pemotong daging, dan mengiris daging itu lumayan dalam. Dean memberikan potongan daging kedua pada Siren, agar istrinya itu bisa segera menikmatinya. Setelah itu Dean memotong daging kembali untuk diberikan pada Aru, dan kemudian barulah untuk dirinya sendiri.


Setelah kenyang, mereka berbincang sejenak untuk menurunkan daging yang mereka makan hingga sampai kedasar lambung.


"Baba pulang dulu,"


"Pulang? baba disini saja," ucap Siren.


Pakuo melirik kearah Dean yang hanya diam. Pria itu mengerti apa yang ada dibenak pemuda itu saat ini.


"Kamu harus mengajari Siren banyak hal, bukan salahnya yang tidak mengerti apapun. Tapi itu memang keadaan yang membuatnya seperti ini," ujar Pakuo sembari menepuk pundak Menantunya itu.


"Aku mengerti Ba. Aku juga masih harus banyak belajar. Kami ini sama-sama dibesarkan oleh alam, tapi bedanya aku sedikit lebih beruntung dari Siren."


"Bagus. Siren, tinggalah bersama suamimu. Lain kali Baba akan mengunjungi kalian lagi,"


Namun kata-kata Pakuo sama sekali tidak digubris oleh Siren. Gadis itu tiba-tiba menatap dari kejauhan dan segera menjatuhkan diri ketanah. Pakuo melihat Siren melakukan hal itu terlihat mengerutkan dahinya, terlebih saat wanita itu menempelkan terlinganya ke tanah.


Tidak ada yang tahu jantung Siren saat ini sedang bertalu-talu. Wanita yang memilki indera sensitif itu, bisa mendengar derap langkah kaki yang kian mendekat kearah mereka. Melihat wajah cemas diwajah istrinya, Dean mendekati wanita itu dan membuat Siten bangun dari atas tanah.


"Ada apa?"


"Aku bisa merasakan ada derap langkah kaki yang begitu banyak menuju kemari."


"Ap-apa? apa itu benar? tapi aku sama sekali tidak mendengarnya," tanya Dean.


"Hanya manusia murni yang bisa bebas memasuki hutan ini. Tapi apa mau mereka?" ucap Pakuo.


Insting Siren yang begitu peka bisa merasakan, kalau ini bukan pertanda baik untuk mereka. Untuk pertama kalinya Siren merasakan takut dalam dirinya, wanita itu tiba-tiba menggenggam erat tangan Dean seolah tidak ingin dipisahkan.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2