
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Sarlince memberanikan diri memasuki kamar mandi dan memeluk Regent dari belakang. Regent hanya bisa memejamkan matanya saat merasakan tangan Sarlince yang melingkar dipinggangnya.
"Kamu tidak akan mengerti bagaimana rasa sakit yang aku alami, setiap kehidupan kamu selalu bersama dengan dia dan selalu mengabaikanku. Rasanya sakit sekali Aline,"
"Maaf," ujar Sarlince lirih.
"Apa aku harus selalu jadi orang ketiga? cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan, apa..."
Ucapan Regent terhenti saat Sarlince sudah berada didepan wajahnya, sembari menggelengkan kepalanya.
"Dikehidupan ini tidak lagi. Kita saling mencintai, aku tidak ingin dipisahkan lagi denganmu."
"Tapi ini, melihat ini hatiku sangat sakit," ujar Regent sembari menunjuk dua tanda merah didada Sarlince.
"Rasanya aku sangat gila saat membayangkan kamu mendesah, ketika dia menghisap kedua puncak dadamu."
"Aku tidak seperti itu," sangkal Sarlince.
"Mana mungkin, aku paling tahu bagaimana reaksimu saat kamu merasakan itu."
"Apa kamu tidak percaya kalau aku tidak bereaksi seperti itu? apa kamu juga tidak percaya kalau dia tidak sempat memasukiku?"
"Aku tidak tahu, hanya kamu, dia dan Tuhan saja yang tahu bukan?"
"Apa bagimu aku ini wanita yang haus?"
Regent hanya terdiam, dan itu membuat Sarlince berfikiran Regent menganggap dirinya wanita murahan. Sarlince segera beranjak pergi dari situ sembari menangis. Regent sama sekali tidak berusaha melarangnya pergi, pria itu masih larut dengan pemikirannya sendiri.
Sarlince bergegas mengenakan pakaiannya dan pergi dengan membanting pintu cukup keras.
"Apa yang ada difikiranmu itu Regent. Kamu mengenal Sarlince lebih baik dari siapapun. Dia bukan wanita seperti itu, dan dia wanita paling jujur. Rasa cemburumu sudah menyakiti perasaannya."
Regent segera keluar dari kamar mandi dan bermaksud ingin mengejar Sarlince. Namun terlambat, Mobil yang Sarlince kendarai sudah hilang dari pandangan matanya.
Sementara itu diruangan berbeda, Vino dan Megumi tengah bercinta dengan panasnya. Mereka sudah mengulang untuk yang ketiga kalinya dan seperti enggan mengakhiri semua itu.
Vino memompa milik Megumi dengan begitu keras, hingga tubuh gadis itu berguncang dengan hebatnya. Dinginnya ac tidak membuat panas dikeduanya hilang, karena keringat masih saja membanjiri.
"Vin...ah..ah.."
Megumi mengerang panjang saat mendapat pelepasan yang kesekian kalinya, Vino semakin mempercepat gerakkannya karena dirinya juga akan sampai pada puncaknya.
"Ah...sayang..."
Vino mengerang panjang, dengan menekan miliknya semakin dalam.
Hosh
Hosh
Hosh
__ADS_1
Nafas keduanya memburu satu sama lain, perlahan Vino menarik kepemilikkannya dan berbaring disebelah Megumi.
"Ini sangat nikmat dan menyenangkan. Seperti yang kamu tahu, Aku jadi teringat saat kita berada dikehidupan kedua. Kita bisa melakukan hal ini hingga berkali-kali dalam semalam."
"Sayang aku tidak bisa mengingatnya,"
"Tidak apa. Aku akan menceritakannya kalau kamu mau,"
"Apa kita pernah melakukannya ditempat ekstrim?"
"Sepertinya pernah."
"Oh ya? dimana?"
"Karena selalu ingin menjaga perasaan Galeo, kita sering pergi berkuda kedalam hutan dengan alasan berburu,"
"Padahal?"
"Padahal kita asyik bercinta sembari menunggang kuda." Vino terkekeh.
"Ber-Bercinta diatas kuda?" Megumi terkejut.
"Ya. Kau tahu? rasaya sangat nikmat dan menyenangkan. Hanya ada suara erangan kita berdua ditengah kesunyian hutan."
"Ba-Bagaimana cara kita melakukannya? apa kita tidak terjatuh?"
"Tentu saja tidak. Ya mungkin naluri dikehidupan itu berbeda, itulah sebabnya kita tidak pernah memusingkan tempat kalau hanya sekedar ingin bercinta."
"Pasti memalukkan sekali," ujar Megumi dengan wajah merona.
"Tapi kamu paling suka saat kita melakukannya diatas kuda,"
Vino yang melihat Megumi tersipu, jadi tertawa keras.
"Vino. Apa sebaiknya kita segera mendaftarkan pernikahan kita ke catatan sipil?"
"Kenapa?"
"Apa maksudmu kenapa? apa kamu tidak ada niat ingin menikahiku?"
"Bukan itu maksudku. Kenapa harus terburu-buru?"
"Aku merasa terbebani kita melakukann perbuatan ini tanpa ada ikatan pernikahan."
"Baiklah kalau kamu menginginkan itu."
"Aku? apa kamu tidak menginginkannya?"
"Sayang. Kamu jangan salah faham ya? aku mencintaimu, tentu saja aku ingin menikahimu."
"Terserah saja, kalau kamu tidak ingin juga tidak apa-apa. Aku bisa mencari pria lain yang mau menikahiku."
Megumi beranjak dari tempat tidur dengan wajah masam. Vino segera menarik tangan gadis itu hingga terjatuh kembali dalam dekapannya.
"Jangan marah, aku akan mengurus secepatnya pernikahan kita. Katakan! pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?"
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar yakin ingin menikahiku? kalau kamu merasa keberatan dan terbebani, lebih baik tidak usah. Kita cukupkan saja hubungan ini sampai disini saja,"
"Hey, apa yang kamu bicarakan? kenapa hari ini kamu sangat sensitif sekali? Aku sudah lama mencarimu dan tidak menoleh kearah gadis manapun meskipun mereka bersedia menaiki ranjangku. Itu karena aku yakin, suatu saat aku pasti menemukanmu belahan jiwaku. Sekarang, hanya karena aku salah bicara sedikit saja, kamu sudah mau meninggalkanku. Sebenarnya apa kamu itu benar-benar mencintaiku atau tidak?"
"Kalau aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku mau menyerahkan kesucianku padamu?"
Greppp
Vino memeluk erat Megumi, begitu juga dengan Megumi.
"Maafkan aku yang sempat salah bicara. Jangan marah lagi ya?"
"Emm." Megumi mengangguk.
"Kalau begitu, kita urus pernikahan kita sama-sama ya?"
"Emm."
"Apa kamu ingin pernikahan yang meriah?"
Megumi menggelengkan kepalanya, sebab dia menginginkan pernikahan yang sederhana.
"Aku tidak butuh semua itu. Aku hanya ingin kita menikah secara sah dimata Tuhan dan negara."
"Kenapa?"
"Buat apa? kita ini sudah kenyang melalui berbagai macam kehidupan, yang terpenting aku selalu bersamamu itu saja sudah cukup."
"Semoga saja dikehidupan ini kita segera memiliki anak. Aku ingin anak kita segera tumbuh disini," vino mengusap pelan perut Megumi.
"Kamu menginginkan anak?"
"Tentu saja. Apa kamu tidak menginginkannya?"
"Tentu saja ingin, itu hal yang paling aku cita-citakan sejak dulu."
"Kalau begitu kita harus bekerja lebih keras lagi," bisik Vino.
Wajah Megumi kembali tersipu, diiringi Vino yang sudah kembali bermain diceruk lehernya, juga mere**s kedua gundukan dadanya.
"Dia sama sekali tidak mengangkat telpon dariku, sepertinya ucapanku sudah menyinggung perasaanya terlalu dalam," ujar Regent lirih.
"Sekarang aku harus bagaimana? eh? aku harus menghubungi Megumi untuk mengetahui keberadaan Sarlince."
Regent membuat panggilan untuk Megumi, Megumi yang merasa ponselnya berderit, meraih ponsel itu bermaksud ingin melihat siapa yang menelponya.
"Sayang jangan menerima telponnya," ujar Vino disela hujaman-hujaman manisnya.
Namun naas, maksud hati tidak ingin menerima panggilan itu, namun dengan tidak sengaja Megumi malah menerima panggilan itu tanpa dia sadari.
"Ah...Vino...suara daging dan kulit yang beradu bisa Regent dengar, seiring suara merdu Megumi dan Vino yang saling bersahutan.
"Vino sialan, bahkan dia tidak membiarkan Megumi bicara denganku dulu, malah asyik pamer perbuatan mesumnya."
"Aih.. seharusnya tadi aku dan Sarlince juga bercinta sepuasnya, ini karena cemburu sialanku jadi merusak segalanya."
__ADS_1
Regent yang sudah terpengaruh dengan suara-suara merdu itupun segera mencari keberadaan Sarlince apapun resikonya.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏