SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
68. Besi dan Anak Anjing


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


****


Keesokkan harinya...


Siren menunggu diperbatasan terlebih dulu kali ini. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Dean dan Aru muncul juga. Tak ada rona bahagia, atau senyum manis yang terbit dari wajah cantik Siren. Gadis itu benar-benar berwajah datar, nyaris seperti sebuah pahatan batu.


Berbeda dengan Siren, Dean yang melihat Siren berada diseberang perbatasan tersenyum senang. Entah mengapa dia ingin melihat Siren setiap hari meskipun wajah gadis itu sama sekali tidak bersahabat.


"Aku sudah membawakan ini untukmu," ujar Dean sembari memperlihatkan dua benda yang berada ditangan kiri dan kanannya. Siren hanya melirik kedua benda itu karena sama sekali tidak jelas.


Dean membuat kedua benda itu bertengger dipunggung Alu. Dan anjing itu siap bertugas menghantarkan kedua benda itu.


Siren mengelus puncak kepala Alu dan membiarkan Alu kembali pada tuannya.


"Terima kasih." Siren kemudian berbalik badan.


"Tunggu!"


Siren kembali berbalik badan meski hanya 90 derajat saja.


"Apa ada lagi yang kamu butuhkan?" tanya Dean.


"Tidak ada."


Siren kembali berbalik badan dan menghilang dibalik semak belukar.


"Sudah aku bilang. Gadis itu tidak akan mengerti kebaikanmu. Coba kamu lihat, dia langsung pergi tanpa perduli dengan perasaanmu."


"Seharusnya aku tadi bertanya padanya. Apa dia akan keperbatasan lagi besok?"


"Untuk apa?"


"Aku ingin melihat dia setiap hari."


"Tapi dia tidak ingin melihatmu. Kecuali kamu berani meyeberang kearea hutan terlarang itu."


Dean terdiam. Dia memang belum mempunyai keberanian itu. Karena dia belum menemukan cara untuk mematahkan kutukan itu dan bisa lepas dari mahluk hitam yang mengintai mereka.


Sejak pertemuan terakhir itu, Dean dan Siren tidak pernah lagi bertemu. Siren seperti hilang ditelan bumi. Padahal setiap hari Dean selalu menunggu gadis itu diperbatasan, berharap Siren akan muncul. Bahkan Dean sengaja membuat buruannya menyeberang perbatasan, berharap Siren akan muncul dan mengambil buruannya.


5 tahun telah berlalu, kini Dean Aru dan Siren sudah tumbuh menjadi pria dan wanita dewasa yang tampan dan cantik. Ketangkasan dan kegagahan yang dimiliki Dean dan Aru sudah sangat teruji, begitu pula dengan Siren. Gadis itu menjadi gadis paling cantik dihutan larangan maupun hutan peri.


Selain memiliki kecantikan, bakat dan kemampuan Siren semakin meningkat pesat. Kecerdasan yang dia miliki bahkan mampu membuatnya menyatu dan mengerti alam dengan baik termasuk berkomunikasi dengan para hewan.


Siren berlari mengejar buruannya dengan panah buatannya. Kini panah yang dia buat jauh lebih kokoh dan bisa diandalkan. Bahkan gadis itu mampu menaklukan puluhan babi hutan dalam sehari jika dia menginginkannya. Namun kali ini masalah pertama kali muncul dalam 5 tahun berburu dihutan terlarang. Seekor babi hutan yang gemuk berhasil lolos dan melarikan diri keseberang perbatasan, meski kaki babi itu sudah terkena anak panah buatannya.

__ADS_1


Siren menghela nafas dan membalikkan tubuhnya untuk mencari buruan lain. Namun teriakan yang memanggil namanya menghentikan langkah gadis itu. Siren berbalik badan hingga berputar 180 derajat.


Siren bisa melihat sosok tampan dan gagah diseberang sana, dengan senyum terbaik disudut bibirnya. Kali ini Siren tidak melihat orang lain selain pria satu itu, karena memang Dean datang sendirian untuk melepas rasa penasarannya selama 5 tahun ini.


"Apa kamu mengingatku?" tanya Dean.


"Dean?" tebak Siren.


"Ya. Kenapa kamu tidak pernah datang lagi keperbatasan? aku selalu menunggumu disini."


"Karena tidak ada lagi yang kubutuhkan."


Dean terdiam. Dia bingung harus bicara apalagi agar bisa menahan Siren lebih lama lagi. Sesuai dugaannya, Siren memang ingin kembali berbalik badan.


"Tunggu!"


Siren berbalik kembali dan menatap Dean dari kejauhan.


"Aku ingin bicara denganmu lebih lama lagi."


"Untuk apa?"


"Untuk..."


Dean kembali bingung.


"Jangan membangun hubungan apapun. Karena kita akan berakhir ditempat kita masing-masing tanpa bisa membuat keputusan yang berani."


"Tapi aku ingin berteman denganmu."


"Aku tidak butuh teman. Aku hanya butuh orang yang bisa membawaku keluar dari tempat terkutuk ini." Jawab Siren.


"Apa kamu benar-benar ingin keluar?"


"Ya."


"Aku juga. Jadi bagaimana kalau kita langgar aturan secara bersama?"


"Aku tidak ingin mengambil resiko, dan meninggalkan ayahku sendirian." Jawab Siren.


"Tapi kita tidak pernah tahu sebelum kita mencobanya. Sejujurnya aku tidak percaya tentang larangan itu maupun tentang segel hutan ini."


"Aku tidak ingin meninggalkan ayahku. Bagaimana kalau kutukan itu benar?"


"Bukankah lebih baik mati bertarung daripada menunggu mati hingga tua?"


"Kalau begitu biarkan ayahku mati lebih dulu, baru aku akan siap bertarung." Jawab Siren.

__ADS_1


Siren segera beranjak pergi dan menghilang kembali dibalik semak belukar. Dean terdiam, andai Siren tahu rasa ingin menyentuh gadis itu lebih besar dari rasa ingin tahunya tentang kutukan yang mereka jalani selama ini.


Dean menghampiri seekor Babi yang sudah terbaring lemah karena kehabisan banyak darah. Pria itu mencabut anak panah Siren dan menyunggingkan senyumnya. Dengan kekuatan yang dia miliki, Dean memikul babi hutan itu untuk dia bawa pulang dan disantap banyak orang.


*****


Malam ini tidak seperti malam lainnya, Siren begitu gelisah. Siren selalu terngiang-ngiang dengan ucapan Dean. Hati Siren juga perlahan merasakan perasaan aneh saat melihat Dean kembali setelah sekian lama. Meski tidak terlalu jelas, Siren akui Dean tumbuh menjadi pria yang tampan dan gagah.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Aru.


"Tadi siang aku bertemu dengan Siren lagi,"


"Benarkah? bagaimana bisa?"


"Dia sedang berburu. Kamu lihat ini, ini anak panahnya yang menancap di babi yang kita makan hari ini."


"Bagaimana rupanya sekarang?"


"Dia sangat cantik."


"Bagaiman kamu bisa tahu? jarak pandang kamu dan dia kan lumayan jauh."


"Kalau kamu melihatnya dengan mata saja tentu kamu akan merasa begitu, tapi berbeda saat kamu melihatnya dengan mata dan hati. Semua yang kamu sukai, akan tampak lebih indah."


"Mendengar kata-katamu, sepertinya kamu menyukai gadis itu. Kenapa kamu tidak melihat yang lebih jelas saja. Anak paman Pao sangat tergila-gila padamu."


"Tidak. Aku hanya menyukai satu gadis saja selama bertahun-tahun."


"Siren?"


"Ya. Kamu tahu? dia sangat ingin keluar dari tempat terkutuk itu. Tapi dia iba meninggalkan ayahnya."


"Jangan pernah kamu membawanya keluar dari hutan larangan itu Dean. Bukan hanya karena dia mendapatkan larangan itu, tetapi itu demi kebaikanmu juga. Kita ini memang ditakdirkan hidup dan mati disini. Jadi jangan biarkan rasa cintamu itu membuat orang lain jadi celaka karena terbukanya segel hutan ini."


"Ingatlah. Disini tidak hanya ada kita, tapi banyak manusia campuran lainnya. Kalau sampai segel itu terbuka, maka mahluk itu akan mengambil manusia campuran kealam mereka."


"Aku punya kalung segel ini. Pasti tidak akan membahayakan ku bukan?" tanya Dean.


"Kamu salah faham nak."


Babilo muncul tiba-tiba setelah tidak sengaja medengar percakapan putranya.


"Ayah tahu kamu menyukai anak Pakuo itu. Tapi kalian sulit bersatu. Dean, kalung dilehermu itu bukan perisai untukmu. Melainkan kunci pembuka segel hutan. Jadi mahluk disini semua bergantung padamu. Kalau kamu melanggar aturan hutan, maka benda yang ada dilehermu itu akan sirna seketika."


"Tapi aku melihat benda yang sama dileher Siren?"


"Itu segel miliknya. Sama sepertimu, jika sampai gadis itu keluar dari perbatasan, maka segel hutan akan terbuka. Dan kunci dilehernya akan sirna. Dean, lupakan gadis itu! ini demi kebaikan kita bersama."

__ADS_1


Dean terdiam seketika. Rasanya sangat sulit untuk menuruti dan mendengar apa yang dikatakan orang lain, sementara hatinya saat ini sedang bertalu-talu merasakan indahnya cinta yang sedang bersemi dihatinya.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2