
Tinggalkan Like, Koment dan Vote
*****
"Kita tinggalkan saja kudanya disini." ucap Mehru.
"Apa ini tidak terlalu jauh?" tanya Kheiren.
"Tidak apa. Kita akan berburu sembari mengumpulkan bahan obat untuk paman Matuo."
"Apa kamu sudah memikirkan obat apa yang cocok untuk paman Matuo?"
"Melihat kondisinya,.yang paling penting kita harus menurunkan panas tubuhnya lebih dulu. Aku perhatikan kebersihan rumah itu kurang terjaga. Mungkin itulah penyebab utamanya."
"Kamu benar. Rumah itu tampak tidak terawat, aku bahkan mencium aroma yang kurang sedap dari dalam rumahnya."
"Mungkin kita bisa memberitahu hal itu pada bibi Rumbe."
"Terkadang aku bersyukur mereka belum memiliki seorang anak."
"Kenapa?"
"Bagaimana kalau anaknya yang tertular? pasti akan lebih kasihan lagi, kalau melihat kondisi sakitnya yang seperti itu."
"Kamu benar. Melihat paman Matuo yang tidak berdaya, pasti tidak akan mudah bagi seorang anak menahan rasa sakit dan gatal seperti itu."
Mehru dan Kheiren selesai mengikatkan kudanya pada dua batang pohon berukuran sedang. Kheiren dan Mehru berjalan menyusuri hutan untuk mencari berbagai macam jenis tumbuhan yang bisa dijadikan obat-obatan.
"Berhenti!"
Mehru memberikan isyarat pada Kheiren untuk memperlambat langkahnya.
"Apa kau dengar itu?" tanya Mehru.
Kheiren memasang alat pendengarannya dengan tajam. Gadis itu mendengar ada suara hewan yang tidak asing lagi dia dengar. Kheiren menyunggingkan senyumnya dengan lebar.
"Kalau kita bisa mendapatkan itu, mungkin untuk tiga hari kita benar-benar tidak perlu berburu."
"Kamu benar. Mari kita taklukkan!" timpal Mehru sembari menyiapkan anak panahnya diatas busur.
Kheiren dan Mehru berjalan mengendap-endap diantara rerimbunan pohon. Seekor babi hutan sedang asyik mengunyah sebongkah rebung bambu.
Kriiiiieeettttt
Mehru menarik anak panahnya untuk membidik babi hutan yang bekulit hitam legam itu.
Whuuuussssshhhh
Tap
Groooookkkk
Anak panah itu meluncur tepat mengenai perut babi hutan. Tapi diluar dugaan Mehru, babi itu mempunyai tubuh yang kuat sehingga masih mampu kabur meskipun dalam kondisi anak panah yang masih tertancap diperutnya.
"Kejar!"
Mehru dan Kheiren berlari mengejar babi hutan itu dengan mengikuti darah yang berceceran.
"Babi itu sangat kencang sekali berlari. Apa dia mempunyai ilmu sihir?" keluh Kheiren.
Mata Mehru menatap tajam kearah babi itu berlari. Dengan gerakan sedikit melompat, Mehru memanah babi itu dari atas dahan pohon.
Whussssshhh
Tap
__ADS_1
Grooookkk
Grookkkkkk
Kali ini anak panah itu mengenai paha babi, sehingga babi itu terjungkal dan jatuh.
Tap
Mehru turun dari atas pohon dan menghampiri babi yang tergeletak diatas tanah dengan bersimbah darah.
"Maaf sudah menyakitimu dua kali. Tapi kami perlu kau untuk bertahan hidup," Mehru mengelus kepala babi itu.
Hosh
Hosh
Hosh
Kheiren baru sampai ketempat babi yang tergeletak.
"Bagaimana bisa kamu melakukannya tanpa memberi kesempatan hewan dihutan ini lolos begitu saja. Aku takut kedepannya nanti kita akan sulit menangkap buruan."
"Kenapa?"
"Semua hewan pasti ketakutan dan menjauh karena melihat caramu menghabis babi itu."
Mehru terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Woahhh ini sangat berat Mehru. bagaimana cara kita membawanya?" tanya Kheiren yang mencoba mengangkat Babi itu, namun ternyata gagal total.
"Kita akan membawanya bersama."
"Itu memang seharusnya. Kalau tidak, kita akan mati bersama babi ini." Jawab Kheiren.
"Apa kita tidak perlu mencabut panahnya lebih dulu?"
"Patahkan saja anak panahnya."
"Kenapa tidak mencabutnya?"
"Darahnya akan keluar banyak. Sementara darah itu bisa diolah menjadi santapan yang lezat.
"Benar. Aku melupakan hal itu." Jawab Kheiren.
Setelah berjuang cukup lama, kheiren dan Mehru tiba juga dimana tempat kuda mereka ditambangkan.
Hah
Hah
"Ini benar-benar gila. Lelah sekali," kheiren tergeletak diatas tanah dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Babi ini pasti makan dengan baik, sehingga berat tubuhnya berlebih." ujar Mehru sembari mengambil kendi air minum diatas pelana kuda
"Tentu saja. Sepertinya tidak ada hewan bertubuh gemuk seperti dia dihutan ini. Itu menandakan dia ini hewan terakus yang pernah ada," timpal Kheiren.
Kheiren menyambar kendi air minum yang disodorkan Mehru, setelah menghilangkan dahaga gadis itu.
"Bantu aku menaikan babi ini keatas kuda," ucap Mehru.
Kheiren segera berdiri dan membantu Mehru mengangkat babi gemuk itu diatas kuda gadis itu.
"Apa kita akan pulang sekarang?"
"Sebaiknya begitu. Matahari semakin condong kearah barat, itu tandanya ini sudah semakin petang. Takutnya ibu tidak punya waktu istrirahat setelah mengolah babi ini."
__ADS_1
"Emm. Kamu benar, mari kita pulang!"
Mehru dan Kheiren menaiki kudanya, dan memacu kuda itu perlahan. Sembari membicarakan banyak hal.
"Kapan kita akan kerumah Paman Matuo lagi?"
"Besok. Aku harus meracik tanaman obat dulu,"
"Baiklah. Akan kutemani," ujar Kheiren.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Mehru dan Kheiren akhirnya tiba didesanya. Mehru dan Kheiren menurunkan hasil buruannya untuk segera diolah oleh ibu Saguni.
"Woahhh...sepertinya hari ini kalian mendapatkan tangkapan yang besar."
"Iya Ba. Mungkin kami memang disuruh istirahat selama tiga hari, agar tidak menghabisi hewan dihutan." Jawab Mehru sembari terkekeh.
"Saguniiii...lihat ini,"
Kuolo meneriakkan nama sang istri. Saguni keluar dengan tergesa-gesa karena dia sedang mencuci pakaian dibelakang.
"Ada apa?" tanya Saguni.
"Tugasmu akan bertambah Saguni, coba lihat putri kita yang perkasa, dia membawa seekor babi yang gemuk untuk kita santap."
Saguni tersenyum senang saat menatap babi gemuk itu. Itu artinya dia bisa menikmati daging empuk dari hewan itu.
"Kita akan memasaknya dengan cara apa?" tanya Saguni.
"Terserah saja." Jawab Kuolo.
"Bibi. Aku ingin sekali memakan babi panggang utuh yang sudah diberi rempah. Dengan begitu dagingnya akan lebih awet bukan?"
"Baiklah. Jadi sudah diputuskan kita akan memanggangnya. Jadi jangan ada lagi yang bertanya tentang babi rebus dengan saus bawang."
"Lalu darah babinya akan ibu masak dengan cara apa?" tanya mehru.
"Ibu akan menjadikannya saus sebagai pelengkap untuk daging panggangnya."
"Kedengarannya lezat," ujar Kheiren.
"Kalian bantu Ibu membuat bara apinya. Biar ibu dan Baba membersihkan kotoran babinya," ujar Kuolo.
"Baik Ba."Jawab Mehru.
Mehru dan Kheiren menumpuk beberapa kayu kering sebesar lengan dan beberapa ranting pohon kering. Kedua gadis itu membuat api untuk memanggang Babi yang baru saja mereka dapatkan dari berburu.
Sembari menunggu bara apinya jadi, Mehru menaruh berbagai jenis tumbuhan obat yang dia dapat dari hutan, kedalam sebuah tampah yang terbuat dari anyaman bambu.
Mehru meletakkan tampah itu diatas atap rumahnya, kemudian kembali membuat tungku untuk babi panggang.
Mehru meletakkan dua batang kayu yang bercabang disisi kiri dan kanan dari bara api tersebut.
"Sepertinya kayu ini tidak akan mampu menahan berat badan babi itu Mehru,"
Mehru tampak berfikir dan membenarkan ucapan kheiren.
"Kalau begitu kita harus memperbesar tiang kayunya. Cari yang lebih besar dan kokoh."
"Emm."
Kheiren dan Mehru pergi kebelakang rumahnya untuk mencari dahan pohon yang bercabang dengan ukuran yang lumayan besar. Setelah mendapatkannya, mereka kembali memasangnya untuk dijadikan penyangga babi saat akan dipanggang.
Mereka baru menyantap babi panggang setelah memanggangnya dengan proses yang cukup lama, hingga matahari hampir terbenam. Namun itu sebanding dengan rasa lelah yang mereka peroleh, saat menyantap daging lezat itu.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1