
Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏
*****
Suara hiruk pikuk dari para pelajar memenuhi sebuah ruangan khusus. Ketika Tabib Cheng mulai memasuki ruangan, suara sumbang itu mendadak hening seketika. Untuk para murid sudah diatur oleh Seo menjadi dua bagian, bagian laki-laki dan wanita.
Tabib Cheng tersenyum senang, saat melihat calon muridnya yang lumayan banyak. Mungkin memang tidak sebanyak sekolah yang ada di negeri seberang, tapi untuk ukuran sebuah desa, jumlah 30 orang sudah lumayan banyak.
"Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untukku. Di usia yang sudah senja ini, aku masih diberi kesempatan untuk menyalurkan ilmuku untuk para calon Tabib dimasa yang akan datang."
"Aku senang kalian mau belajar ilmu pengobatan, disamping semua anak-anak muda sedang berlomba membuat diri mereka menjadi orang yang tangguh tak terkalahkan. Tapi kalian berbeda, ini menunjukkan kalau hati kalian begitu lembut, sehingga ingin membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan kalian."
"Hari ini selain hari daftar ulang bagi para murid baru, adalah hari dimana kalian akan menimba ilmu pertama. Hari ini kita akan belajar tentang tanda-tanda vital yang ada pada tubuh manusia. Apakah kalian ada yang tahu dimana letak tanda vital pada tubuh manusia?"
Semua calon murid tidak ada yang menjawab, karena mereka benar-benar tidak ada yang mengetahuinya.
"Baiklah, fungsi tanda vital itu sendiri adalah sebagai penanda, bahwa manusia itu masih dalam keadaan hidup atau masih bernyawa. Melalui tanda vital kita juga bisa mengetahui keadaan orang yang sedang menderita penyakit, atau sebagai penunjuk suatu penyakit dan juga untuk mengetahui masa pemulihan bagi si penderita penyakit."
"Seo,"
Seo yang mengerti langsung membagikan alat tulis, agar para calon murid bisa menulis apa yang Tabib Cheng katakan. Alat tulis yang berupa lembaran kulit bambu yang sudah disusun rapi memanjang. Sementara alat untuk menulisnya terbuat dari kuas bulu ayam yang halus dan dicelupkan kedalam tinta.
"Untuk di negeri seberang yang sudah sangat maju dan berkembang, sudah ada yang bisa membuat alat pengobatan yang bisa membantu para tabib dalam menangani penyakit dengan mudah. Tapi aku disini tidak memiliki alat khusus seperti itu, karena aku akan mengajarkan ilmu pengobatan tradisional yang bisa kita manfaatkan disekitar kita."
"Baiklah untuk tanda vital itu sendiri terbagi menjadi 4 bagian. Kalian bisa memeriksa keadaan seseorang melalui panas tubuh. Untuk panas tubuh sendiri kalian bisa memeriksanya pada kulit sipenderita, terutama bagian dahi. Di negeri seberang untuk pemeriksaan panas tubuh alat mereka bisa digunakan diberbagai tubuh yang lain, seperti mulut, ketiak, lubang pelepasan dan juga telinga."
"Kalian bisa mengukur seberapa panas tubuh sipenderita dengan menempelkan punggung tangan kalian didahi mereka. Untuk bagian vital yang kedua, memeriksa denyut nadi. Denyut nadi itu merupakan ukuran dari detak jantung, ritme jantung, atau kekuatan nadi itu sendiri."
"Kalian bisa menemukan detak nadi ditiga bagian. Dipegelangan tangan, dibagian dalam siku, dan juga sibagian sisi leher."
"Kemudian pernafasan...."
Tabib Cheng menjelaskan semua tentang tanda vital yang harus diketahui seorang tabib untuk memeriksa penyakit yang diderita oleh pasien. Mehru mendengarkan penjelasan Tabib Cheng dengan seksama tanpa ada yang terlewatkan.
Setelah mencatat semua pelajaran pertamanya, Tabib Cheng memerintahkan kepada semua muridnya untuk langsung mempraktekkan satu sama lain, agar para murid lebih mudah memahami.
Hampir seharian mereka mempelajari ilmu itu sampai benar-benar mahir melakukannya. Mereka hanya beristirahat saat makan siang dan kemudian melanjutkan kembali pelajaran mereka.
__ADS_1
"Suhu besok kita akan belajar apalagi?" tanya Mehru yang begitu semangat menimba ilmu.
"Kita akan pergi kehutan, untuk mengenali berbagai jenis tumbuhan yang bisa dijadikan ramuan obat."
Mehru sangat senang mendengarnya, bisa dibilang bagian inilah yang paling dia tunggu-tunggu.
"Baiklah, untuk hari ini kita cukupkan dulu sampai disini. Besok kalian bisa datang kembali untuk menggali ilmu berikutnya," ucap Tabib Cheng
Semua calon tabin itu membubarkan diri, dan pulang kerumah mereka masing-masing.
"Suhu," Mehru menyusul tabib Cheng yang hendak memasuki penginapan.
"Ada apa Mehru?" tanya Tabib Cheng.
"Bisakah suhu menjelaskan padaku, tentang sebuah penyakit?"
"Sebuah penyakit? penyakit apa?"
"Sebelum datang ketempat ini, aku pernah menangani dua orang yang terkena penyakit aneh, penyakit itu baru pertama kali muncul didesa kami. Awalnya hanya suaminya saja yang terkena penyakit itu, lalu kemudian istrinya yang tertular."
"Disekujur tubuhnya seperti melepuh terkena api. Ada cairan didalam kulit yang melepuh itu. Si penderita merasakan kulitnya panas terbakar dan gatal. Tubuhnya juga sangat panas. Apa suhu tahu jenis penyakit itu?"
"Ya. Kalau tidak salah menebak sesuai ceritamu, itu namanya cacar yang disebabkan oleh virus."
"Virus?"
"Virus itu sangat berbahaya, lebih ganas dari kuman. Yang bisa menyerang daya tahan tubuh seseorang dengan cepat, penularannyapun juga cepat."
"Untuk cacar sendiri cara penularannya juga begitu cepat. Bisa dengan bersentuhan kulit, lewat udara, atau terkena cairan cacar itu sendiri."
"Pantas saja istrinya cepat tertular. Mungkin karena dia yang merawatnya."
"Lalu bagaimana caramu menangani pasien itu?"
"Aku juga awalnya tidak mengerti suhu. Aku hanya tahu jenis tumbuhan yang bisa menurunkan panas tubuh, itupun tahunya tidak disengaja. Hanya mengandalkan keberuntungan. Beruntung pasangan suami istri itu bisa disembuhkan, aku tidak tahu ramuan yang mana yang bisa menyembuhkan mereka saat itu. Yang terpenting aku hanya berusaha."
"Apa didesamu tidak memiliki seorang tabib?" tanya Tabib Cheng.
__ADS_1
"Tidak ada. Itulah sebabnya aku berada disini, aku ingin menjadi tabib di desaku sendiri. Agar kelak aku bisa membantu orang-orang yang membutuhkan pertolonganku."
"Aku bangga mendengarnya Mehru. semoga niat baikmu itu bisa melindungi desamu dan memajukan desamu dikemudian hari. Nanti setelah kamu berhasil dari sini, kamu ajarkan juga ilmumu untuk para penerus berikutnya, agar ilmu yang kamu peroleh tidak punah."
"Baik Suhu. Nasehat Suhu akan selalu aku ingat."
"Istirahatlah. Kita bertemu lagi saat makan malam nanti,"
"Emm." Mehru mengangguk sembari tersenyum.
"Untuk penyakit cacar tadi, ada masanya aku akan memberitahu kalian semua jenis ramuan apa yang bisa membantu penyembuhannya. Nanti akan kita pelajari bersama-sama."
"Baik Suhu."
Tabib Cheng masuk kedalam gubuknya, sementara Mehru kembali ke gubuknya sendiri.
"Kamu darimana?" tanya Kheiren.
"Menemui Suhu,"
"Ada apa?"
"Aku penasaran dengan penyakit yang diderita oleh paman Matuo, itulah sebabnya aku bertanya pada Suhu."
"Apa Suhu tahu?"
"Ya. Dia bilang itu cacar, yang disebabkan oleh sebuah virus yang berbahaya. Suhu berjanji akan memberitahu kita semua tentang penyakit itu dan cara pengobatannya."
"Itu bagus Mehru. Jadi saat nanti kita bertemu penyakit itu lagi, kita akan bisa mengobatinya."
"Emm. Ayo kita bersihkan diri? sebentar lagi mulai gelap, aku tidak mau melewatkan makan malam bersama dengan Suhu."
"Baiklah."
Mehru dan Kheiren bergegas pergi membersihkan diri. Sementaraa Mesa yang lebih dulu selesai, seperti tampak berfikir keras.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1