
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Para murid tabib Cheng sudah berkumpul di balai pengobatan. Hari ini mereka akan mengadakan ujian akhir bagi seorang calon tabib. Sebelum ujian dilakukan, tabib Cheng memberikan sebuah arahan terlebih dahulu.
"Hari ini kalian akan mengadakan ujian terakhir sebagai calon tabib. Untuk itu aku akan menguji kemampuan kalian dalam menegakkan diagnosa bagi seorang pasien yang sedang menderita sebuah penyakit maupun menderita berbagai pengakit."
"Suhu. Apa kita akan terjun langsung menghadapi pasien yang sedang sakit!" tanya salah seorang murid tabib Cheng.
"Tidak perlu, karena pasiennya ada dihadapan kalian."
Semua murid tampak bingung, tak terkecuali Mehru.
"Hari ini aku akan menguji kemampuan dan ketelitian kalian dalam menganalisa dan menegakkan diagnosa suatu penyakit. Hari ini, aku sendiri yang akan menjadi pasien kalian."
"Suhu? apa saat ini suhu sedang sakit?" tanya Mehru khawatir.
"Aku tidak akan memberitahunya. Ini tugas kalian untuk memeriksaku dan menentukan penyakit apa yang sedang aku derita. Apapun yang kalian temukan, kalian bisa menuliskannya pada alat tulis kalian. Setelah selesai, aku akan mengumumkan pada kalian, jawaban siapa yang paling benar."
"Baik suhu." Jawab Mereka serentak.
Satu persatu mereka disuruh maju dan memeriksa keadaan tabib Cheng. Setelah memeriksa dengan seksama, mereka menuliskan apa yang mereka temukan kedalam alat tulis mereka.
Mehru menatap kearah tabib Cheng, baru kali ini dia menatap pria tua itu dengan seksama. Wajah pria itu memang sedikit pucat, meskipun dia melihatnya dari jarak yang agak jauh.
"Mehru. Kenapa kamu melamun? sekarang giliranmu," ujar Kheiren.
Mehru maju perlahan dan mendekati tabib Cheng yang tengah duduk ditepi ranjang kayu. Mehru menatap wajah tabib Cheng dengan seksama, pria itu menyunggingkan senyum dibibirnya namun tidak dengan Mehru.
Perlahan Mehru meletakkan jari tangannya dipegelangan tangan pria tua itu, untuk merasakan denyut nadinya. Mehru juga mengecek mata, mulut, dan juga pernafasan tabib Cheng. Mehru juga bertanya-tanya seputar apa yang tabib Cheng rasakan atau alami, sembari memperhatikan fisik tabib Cheng dengan baik.
Mehru sama sekali tidak mengatakan apapun, gadis itu berbalik dan tidak menuliskan apapun juga dialat tulisnya.
__ADS_1
"Mehru ada apa? kenapa kamu tidak menuliskan apapun?"
"Aku ragu mau menulisnya, aku takut diagnosaku salah."
"Kenapa? Apa menurutmu suhu punya penyakit yang serius?"
"Aku tidak bisa memastikannya. Tunggu sampai giliran semua orang selesai, aku ingin berfikir dulu sebelum menulisnya."
Setelah semua murid selesai memeriksa tabib Cheng, seluruh murid dipersilahkan untuk mengumpulkan semua jawaban mereka. Dari sekian banyak murid yang menuliskan panjang lebar jawaban mereka, hanya satu yang menarik perhatian Tabib Cheng, yaitu tulisan Mehru.
Gadis itu sama sekali tidak memberikan jabaran apapun pada tulisannya. Tulisan singkat dan jelas itu hanya terdiri dari 6 hutuf saja. Dan anehnya, dari semua jawaban para muridnya hanya jawaban Mehru yang benar.
Seluruh murid hampir semuanya menuliskan tentang penyakit ringan yang diderita oleh pria tua itu. Itulah mungkin sebabnya, Mehru sangat ragu menulisnya hingga hanya menulis 6 huruf saja.
"Mehru. Apa kamu yakin dengan jawabanmu? kenapa hanya kamu yang menulis sesingkat ini? sementara teman-temanmu menulis begitu banyak diagnosa dan penjabarannya." tanya Tabib Cheng
"Maaf suhu. Hanya itu yang ada difikiranku saat memeriksa suhu. Maaf kalau sudah mengecewakan suhu."
Tabib Cheng menyebut nama muridnya satu persatu dan meminta alasan kenapa mereka bisa menegakkan diagnosa seperti itu dan beserta alasannya.
Setelah semua murid selesai maju, tabib Cheng sengaja memanggil Mehru dibagian paling akhir, karena tabib Cheng begitu penasaran bagaimana cara Mehru bisa mendiagnosa penyakitnya.
"Mehru. Kemarilah,"
Sementara itu Seo menyeringai, karena merasa Mehru bisa dia kalahkan untuk ujian terakhir ini. Perlahan Mehru maju dengan wajah tertunduk, dia sangat takut kalau-kalau tabib Cheng marah padanya, karena dia sendiri yang memberikan jawaban berbeda dari murid-murid yang lain.
"Mehru suhu ingin tahu kenapa kamu bisa menjawab penyakitku seperti itu?" tanya tabib Cheng.
"Maafkan aku suhu, kalau jawabanku sudah mengecewakan. Aku menjawab itu bukan tanpa alasan, saat aku memeriksa fisik suhu, aku menemukan kulit suhu kering dan sepertinya gatal. Lengan dan kaki suhu juga bengkak, suhu juga sepertinya merasakan nyeri dibagian pinggang belakang karena terlalu lama duduk."
"Saat aku bertanya tentang kebiasaan berkemih, guru juga menjawab air kemih suhu keruh dan suhu jarang sekali berkemih. Suhu juga suka mengalami kesulitan tidur dan mudah merasa lelah."
"Suhu. Maaf kalau aku mendiagnosa penyakit suhu terlalu berlebihan, aku juga masih perlu belajar."
__ADS_1
"Tidak Mehru, suhu senang setelah mendengar jawabannya. Aku jadi lega kerena kamu menjawabnya tidak asal-asalan. Apa yang kamu katakan memang benar, suhu memang sudah lama menderita penyakit ginjal. Itulah sebabnya suhu ingin berbagi ilmu pada kalian, agar sebelum suhu mati, suhu bisa mati dengan tenang."
"Suhu..."
Mehru berhambur kedalam pelukkan tabib Cheng sembari menangis. Melihat Mehru memeluk tabib Cheng, semua murid jadi bingung. Pasalnya mereka sama sekali tidak mendengar apa yang tabib Cheng dan Mehru bicarakan.
Tabib Cheng menepuk-nepuk punggung Mehru untuk menenangkan gadis itu. Mehru melerai pelukkannya dan kembali ketempat duduknya.
"Mehru ada apa? kenapa kamu menangis? tanya Kheiren.
Mehru hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.
"Baiklah, semua hasilnya sudah suhu ketahui. Dan hasilnya sudah diputuskan, bahwa pemenang dari ujian pertama hingga akhir, jatuh kepada Mehru. Mehru adalah orang yang berhak mendapatkan kitab pengobatan ini,"
Tabib Cheng mengeluarkan sebuah buku berwarna coklat dari balik bajunya. Sementara itu Seo dan Mesa tertegun saat tahu, Mehrulah yang mendapat kitab pengobatan itu.
Galeo tersenyum puas saat melihat ekspresi kecewa dan marah dari wajah Seo. Pria itu bahkan menyelinap keluar tanpa sepengetahuan siapapun, disusul oleh Mesa.
"Sialan!"
Seo membanting barang-barang yang ada didalam gubuknya.
"Seo kendalikan dirimu," ujar Mesa yang ingin menghalangi Seo untuk memecahkan sebuah kendi berwana hitam.
"Aku benar-benar merasa marah saat ini, kenapa harus wanita sialan itu yang selalu menang dariku."
"Tidak perduli siapa yang menang, toh pada akhirnya kamu juga yang akan menguasai kitab itu. Kita hanya perlu membuat rencana bagus untuk memperdayanya dan merampas kitab itu dari tangannya."
"Kamu benar Mesa. Bagaimanapun caranya, kita harus mendapatkan kitab itu."
"Kamu tenang saja, aku pasti akan membantumu. Sekarang lebih baik kita kembali ketempat itu, jangan sampai mereka curiga karena tidak menemukan keberadaan kita disana."
"Baiklah."
__ADS_1
Seo dan Mesa kembali ketempat balai pengobatan. Mereka masuk bergantian agar tidak menimbulkam kecurigaan.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏