SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
85. Mencari Obat


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


"Baba. Apa akhir-akhir ini kita kedatang tamu dari desa sebelah atau desa seberang?" tanya Mehru saat Kuolo sudah selesai membersihkan diri.


"Beberapa hari yang lalu desa kita memang kedatangan beberapa pedagang dari desa seberang,"


"Apa yang mereka jual?"


"Hanya rempah-rempah beserta bibitnya. Dan ada juga yang menjual bahan pakaian "


"Bagaimana keadaan tubuh pedagang itu? apa mereka terlihat baik-baik saja?"


"Apa kamu mencurigai sumber penyakit paman Matuo berasal dari para pedagang itu?"


"Ada kemungkinan mereka yang membawa bibit penyakit itu. Masalahnya desa kita tidak pernah terkena penyakit langka itu bukan?"


"Sebaiknya kecurigaanmu itu kamu simpan untuk dirimu sendiri saat ini. Takutnya kalau ada warga lain yang mendengar, mereka bisa salah faham dan mengusir setiap tamu yang datang."


"Ya Baba benar. Ini memang harus diselidiki terlebih dahulu, ini baru dugaanku saja bukan kesimpulan pasti."


"Ibumu juga membeli beberapa rempah dan bibit, tapi tidak ada reaksi apapun pada keluarga kita bukan?"


"Emm. Semoga dugaanku yang salah, besok aku harus melihat keadaan paman Matuo dulu. Kita harus mencari cara agar kita bisa menyembuhkan paman Matuo secepatnya. Kasihan, dia pasti sangat menderita karena penyakitnya itu."


"Berhati-Hatilah. Kita tidak tahu cara penularan penyakit itu melalui media apa. Kamu jangan sembarang menyentuh kulit paman Matuo,"


"Baik Ba."


"Emm...wangi apa ini? apa kamu mendapatkan buruan hari ini?"


"Ya. Aku mendapatkan daging kesukaan Ibu,"


"Rusa?"


"Emm." Mehru mengangguk.


"Kemampuan memanah Mehru tidak perlu paman ragukan lagi. Kalau dia mau, semua hewan didalam hutan bisa dia bantai," ucap Kheiren sembari terkekeh.


"Dia memang pandai dari segi itu. Tapi sayang, tidak ada yang mau dengan gadis kasar seperti dia. Laki-Laki menyukai wanita yang lemah lembut, bukan wanita setengah perkasa seperti dia."


Mehru mengerucutkan bibirnya, sementara Kheiren dan Kuolo tertawa keras.


"Apa kalian sudah cukup mengolok-olok putriku? kalau selesai, mari kita bersantap dulu."


"Biar aku bantu Bibi Saguni," ucap Kheiren.


Kheiren beranjak dari duduknya dan pergi kedapur untuk membantu Saguni menghidangkan makanan diatas meja kayu yang terbuat dari lempengan pohon yang berdiameter raksasa.

__ADS_1


"Memang masakan Bibi Saguni tidak ada yang bisa meragukan kelezatannya. Dari aromanya saja sudah membuat air liurku ingin menetes," ucap Kheiren.


"Kalau begitu habiskan sesuai kemampuan perutmu," ujar Saguni.


Beberapa mangkuk gulai dan daging asap dan juga beberapa jenis sayur tumis sudah terhidang diatas meja. Asap yang mengepul dari masakan itu sungguh membuat perut siapa saja jadi keroncongan.


"Woah...ini benar-benar menggugah selera makanku. Ayo kita santap bersama," ujar Kuolo.


Mehru dan Kheiren mengambil mangkuk dan menyendokkan beberapa sendok gulai dan daging asap beserta sayur kedalam mangkuk mereka.


"Ah...Bibi, ini benar-benar lezat. Aku ingin makan sepuasnya,"


"Makanlah dengan kenyang. Kamu bisa membawanya juga untuk ibumu dirumah,"


"Dengan senang hati Bi."


"Mehru turunkan kakimu! belajarlah bersikap selayaknya seorang gadis."


"Baba. Ini posisi makan yang aku sukai, jika pria itu menyukaiku, tentu saja harus menyukai juga caraku makan."


"Anak ini benar-benar,"


Mehru tidak menggubris perkataan Kuolo, dia terlalu menikmati daging lezat yang dimasak oleh ibunya.


"Aku dengar ada beberapa warga yang akan mengungsi kedesa kita dari desa sebelah. Apa itu benar?" tanya Saguni.


"Ya. Disana baru saja terjadi gempa bumi, sebagian rumah warga banyak yang tertimbun. Karena hanya desa kita yang paling dekat, jadi mereka akan menetap disini sampai waktu yang tidak bisa ditentukan."


"Desa kita memang yang paling dekat dengan mereka. Tapi dibilang dekat juga mereka membutuhkan waktu 3 hari perjalanan kaki untuk bisa sampai kesini."


"Apa mereka tidak memiliki kuda?"


"Mungkin ada segelintir orang. Tidak semua orang mampu memiliki hewan itu,"


Mehru kembali menyantap makanannya. Setelah selesai diapun beristirahat, dan Kheirenpun pulang kerumahnya.


*****


Cahaya matahari mengganggu kenyamanan Mehru yang sedang tertidur lelap di kamarnya. Dinding dan atap yang hanya terbuat dari pelepah daun nipah itu, mampu ditembus oleh matahari karena memang seluruh rumah warga terbuat dari pelepah pohon itu. Terlebih saat hujan, mereka masih berfikir keras bagaimana caranya rumah mereka tidak kemasukkan air saat musim hujan mulai turun.


"Bangunlah, apa kamu tidak ingin berburu hari ini? matahari sudah hampir mencapai atas kepalamu," ucap Saguni.


"Apa yang ibu masak untuk makan pagiku?"


"Ibu memasak ketela pohon untukmu."


Mehru beranjak dari tempat tidurnya dan pergi membersihkan diri. Setelah selesai, dia mengenakan kain kemban sebagai penutup dadanya dan juga kain yang dilipat-lipat yang menutupi celana setengah tiangnya. Tidak lupa ada seutas tali yang terbuat dari jalinan kain yang melingkar dikepalanya, agar rambutnya yang terikat satu tidak menghalangi pandangannya.


Mehru menikmati ketela pohon yang direbus oleh ibunya dengan ditemani secawan teh bunga yang dibuat sendiri oleh Saguni. Setelah itu Mehru pergi kerumah Kheiren.

__ADS_1


"Apa kita akan berburu lagi hari ini?"


"Ya. Semua orang dirumahku sangat menyukai daging. Jadi jangan ditanya berburu atau tidak, kecuali kita mendapatkan tangkapan besar hari ini, barulah bisa bertahan tiga hari tidak berburu."


"Kita akan mendapatkannya. Aku ingin sekali makan babi panggang utuh,"


"Kalau begitu pasang mata dan telingamu baik-baik."


"Baiklah."


"Tapi sebelum itu kita sebaiknya melihat keadaan paman Matuo terlebih dahulu,"


"Untuk apa? bukankah Babamu melarang kita kesana?"


"Bukan melarang, tapi kita harus berhati-hati. Jangan sembarangan menyentuh kulitnya."


"Baiklah."


Mehru dan Kheiren menunggang kudanya untuk pergi kerumah Matuo. Sampai disana, Mehru bisa melihat kondisi Matuo yang terlihat lemas dengan bibir yang sudah mengering.


"Bagaimana keadaan paman Matuo Bibi?"


"Seperti yang kamu lihat, tubuh pamanmu terlihat lemas."


"Apa sebelumnya paman memakan sesuatu yang aneh, atau bersentuhan dengan orang asing?"


"Tidak. Apa yang kami makan sama seperti yang kami makan sehari-hari meskipun pamanmu pergi kedalam hutan sekalipun. Setahuku kami juga tidak bertemu dengan warga desa manapun." Jawab Bibi Rumbe.


Mehru melihat keadaan kulit Matuo yang berisi cairan, dan ada juga luka yang sudah terbuka dan meninggalkan bekas hitam dikulitnya.


"Sebaiknya Paman jangan menggaruk kulitnya, takutnya cairannya ini yang menyebabkan penyebaran luka yang baru."


"Tapi ini sangat gatal dan perih." Jawab Matuo lirih.


"Bersabarlah. Kami akan berusaha menemukan obat yang cocok untuk paman, bila perlu kita akan mendatangkan tabib dari luar desa."


"Terima kasih Mehru,"


"Paman juga sebaiknya diberi lebih banyak minum Bi. Melihat bibir paman yang kering, sepertinya paman kurang diberi cairan sehingga membuat tubuh paman menjadi lemas."


"Baiklah Mehru, bibi akan mendengarkanmu."


"Kami pulang dulu Bi. Nanti aku akan berburu, kalau aku menemukan tanaman obat yang bagus, aku akan membawanya untuk paman."


"Terima kasih Mehru."


"Emm."


Mehru dan Kheiren meninggalkan kediaman Matuo untuk berburu kedalam hutan. Disepanjang perjalanan menuju hutan, Mehru memikirkan cara agar Matuo bisa disembuhkan dan membuat warga tidak lagi ketakutan akan dampak penyakit itu bagi orang lain.

__ADS_1


Tinggalkan Like Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2