
Tinggalkan Like, Koment, dan Vote🤗🙏
*****
"Jika diberikan kesempatan sekali lagi, aku tidak akan menikam lehermu, tapi aku akan menikam milikmu yang gatal itu agar tidak suka merebut milik orang lain lagi," bisik Megumi.
"Kurang ajar!" hardik Inara.
"Aku hanya ingin memenuhi hasratmu itu, kalau kamu memang masih merasakan gatal, maka aku akan menggaruk bagian yang gatal itu."
"Dan aku tidak akan membiarkan tujuanmu itu berhasil. Kami pastikan, ini adalah kehidupan terakhir kalian. Setelah itu seluruh manusia akan patuh dibawah kekuasaan Ketua, dan kami bisa hidup abadi selamanya."
"Aku tidak mengerti apa maksud dan tujuanmu mengatakan ini pada kami. Bukankah kamu harus menyimpan semua rahasia ini untuk diri kalian sendiri? mengapa kamu malah memberitahukan ini pada musuhmu?" tanya Sarlince.
"Karena mau diberitahu ataupun tidak, kalian juga tidak punya pilihan lain. Kalian itu mabusia lemah, tidak seperti kelompok kami yang kuat dan terorganisir. Sarlince, bersiap-siaplah menerima kehancuranmu. Meskipun suatu saat kamu akan menjadi istri dari Ketua, tapi rasa benciku tidak akan pernah surut padamu."
Sarlince terkekeh mendengar ucapan kebencian dari Inara, pasalnya ditiap kehidupan Sarlince tidak pernah merasa menyakiti orang lain.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu membenciku sebesar itu, hingga ditiap kehidupan kamu selalu menargetkanku."
"Itu karena kami selalu jadi pusat perhatian, selalu merebut apapun yang aku mau. Meskipun pada akhirnya pria itu selalu berpaling darimu dan lebih memilihku."
"Apa maksudmu? apa kamu ingin mengatakan, setiap wanita yang merebut suamiku adalah reinkarnasi dirimu?"
Inara tertawa keras. Dia sangat menikmati ekspresi bodoh yang ada diwajah Sarlince. Sementara Sarlince menunggu jawaban dari mulut Inara. Kini Sarlince mengerti, apa kaitannya antara cerita Regent dan rasa sakit yang dia dapat ditiap kehidupan.
"Heh. Ternyata semuanya memang sudah direncanakan ya?" sambung Sarlince yang membuat tawa Inara mereda.
"Aku akui kecerdasan otakmu itu diatas rata-rata. Tapi tetap saja, masalah percintaan kamu itu selalu menjadi wanita terbodoh didunia. Dan dikehidupan ini, kamu masih saja kecolongan dariku."
"Aku sangat puas bisa mengalahkanmu dalam segi urusan asmara. Apa kamu tahu? dikehidupan mana yang paling berkesan untukku?"
"Aku sangat suka menjadi pemeran dikehidupam kedua. Gadis yang dianggap pintar, bahkan mampu membunuh seekor singa dan harimau hanya dengan satu kali panah. Tapi pada akhirnya mati dengan cara bodoh,"
Tangan Sarlince terkepal, mengingat kejadian itu sedikit membuat tubuhnya bergetar karena menahan amarah.
Flasback On.
8000 tahun yang lalu...
Drap
Drap
Drap
Tuk tik tak tik tuk
Suara langkah kuda mulai berjalan santai diatas tanah hutan yang sangat luas. Mata Mehru dan Kheiren terlihat menatap tajam kearah buruan yang bersembunyi dibalik pepohonan.
__ADS_1
Kriekkk
Mehru menarik anak panah dari busurnya, sembari memasang mata dan telinganya untuk melihat dan mendengar pergerakan dari buruannya.
Mehru menyunggingkan senyumnya saat seekor rusa cantik dengan kulit badan bercorak tutul dan tanduk yang mekar bercabang seperti akar sebuah pohon.
"Kalau bukan urusan perut, tentu saja aku tidak akan rela memangsa hewan secantik dirimu,"
Whuuuuuuussshhh
Sebuah anak panah melesat melewati batang pohon dan beberapa dahan demi menuju sasarannya.
Tap
Ngiiiikkkk
Mehru turun perlahan dari atas kuda dan memastikan buruannya berhasil terkena anak panahnya.
Kheiren tersenyum senang, saat melihat Mehru keluar dari semak belukar dengan memanggul seekor rusa cantik dipunggungnya.
"Kemampuan membidik yang mengagumkan teman. Aku bahkan tidak bisa melihat pergerakkan apapun dari balik sana," ucap Kheiren.
"Terlalu lama dibesarkan oleh alam, membuat seluruh inderaku sangat peka."
"Ibumu sangat menyukai daging rusa. Dia pasti senang kamu membawakan ini untuknya,"
"Ayo kita pulang. Aku sudah tidak sabar ingin menyantapnya," ucap Kheiren.
Mehru mengikatkan rusa hasil buruannya diatas pelana kuda dengan kencang agar Rusa tidak terjatuh dari atas kuda. Mehru kemudian menunggang kuda perlahan dan merekapun kembali kerumah.
Rumah Mehru memang dibangun dipinggiran hutan, namun didalam hutanpun sudah banyak penghuni yang lain. Sebagai anak seorang kepala suku, Mehru cukup mengenal warganya dengan baik. Termasuk dengan cara warganya bertahan hidup didesanya.
"Kamu mendapatkan rusa?" tanya Saguni dengan senyum yang terbit dari bibirnya.
"Ya. Ibu menyukainya bukan? aku ingin ibu membuatnya menjadi daging asap yang lezat. Sebagian Ibu bisa menggulainya sesuai selera Ibu."
"Baiklah."
"Kemana Baba?" tanya Mehru.
"Ada salah seorang warga yang terkena penyakit aneh. Dia berkunjung kesana,"
"Siapa? penyakit seperti apa itu?"
"Paman Matuo terkena demam tinggi. Seluruh kulitnya ditumbuhi oleh sesuatu yang berair. Dia merasakan panas dan gatal pada kulitnya."
"Apa ini jenis penyakit yang pertama kali muncul didesa kita?"
"Ya. Itulah sebabnya warga sangat takut mendekati keluarga Paman Matuo karena takut tertular."
__ADS_1
"Kita memang harus mewaspadainya, kita tidak tahu seganas apa penyakit itu."
"Kalau begitu kamu jangan pergi kesana, Ibu tidak ingin terjadi sesuatu denganmu."
"Ibu tenang saja. Kita akan dengarkan dulu apa pendapat Baba tentang ini,"
"Ibu kebelakang dulu kalau begitu,"
Saguni membawa hasil buruan Mehru untuk dia olah menjadi santapan yang lezat.
"Apa menurut pendapatmu tentang penyakit yang Ibu ceritakan tadi?" tanya Kheiren.
Mehru tidak langsung menjawab pertanyaan Kheiren, gadis berkulit coklat itu malah meneguk air dari kendi terlebih dahulu.
"Aku tidak tahu. Yang pasti ini harus menjadi perhatian seluruh warga, agar paham apa penyebab dari tumbuhnya penyakit jenis baru ini,"
"Kamu benar. Penyakit ini memang baru muncul didesa kita. Ini pasti ada penyebabnya sehingga Paman Matuo terkena penyakkt ini."
"Apa baru-baru ini desa kita menerima kedatangan tamu dari luar desa?" tanya Mehru.
"Tidak tahu. Kita bisa menanyakan hal ini pada ayahmu saat dia kembali nanti. Apa ini ada kaitannya dengan penyakit itu?"
"Ini hanya dugaanku saja. Kalau memang ada, bisa jadi ini ada kaitannya dengan warga pendatang."
"Mehru, kemampuanmu dalam meracik obat tradisional juga bagus. Apa sebaiknya kita berjaga-jaga saja, siapa tahu kamu berhasil menemukan obat untuk menangani penyakit baru ini,"
"Aku tidak tahu, lagipula aku ini memang bukan spesial tabib ataupun penyihir. Aku hanya tahu jenis obat yang mampu menurunkan panas tubuh."
"Kalau begitu kita harus banyak berlatih, agar kedepannya warga kita tidak ada yang sakit parah lagi."
"Nah, itu Baba."
Pria dengan kulit hitam baru tiba dikediamannya dengan sebuah tongkat khas ditangannya.
"Bagaimana keadaan Paman Matuo?" tanya Mehru.
"Dia merasakan panas dan gatal ditubuhnya, sehingga dia tidak sabar untuk menggaruk kulitnya yang menyebabkan kulitnya yang berisi air itu menjadi pecah dan menyebabkan perih."
"Lalu obat apa yang Paman Matuo minum saat ini?"
"Tidak ada. Bibi Matuomu hanya bisa mengompres tubuh pamanmu saja saat ini."
"Apa aku boleh melihatnya?"
"Sebaiknya jangan dulu, takutnya kamu akan tertular. Baba akan membersihkan diri dulu, setelah itu kita akan berbincang."
Kuolo memasuki rumahnya dan membersihkan diri dibelakang. Sementara itu Mehru tampak berfikir keras bagaimana cara membantu Paman Matuo.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1