
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Sarlince memutuskan hanya memakan sosis dengan ukuran jumbo sebagai menu makan siangnya. Sarlince menikmati sosis itu dengan santai sembari bermain dengan ponselnya.
"Hai..." sapa Lucia.
Sarlince menoleh keasal suara dan mendapati seorang wanita cantik dan sexy berdiri disamping kursinya.
"Boleh aku duduk denganmu? meja yang lain sudah penuh soalnya," tanya Lucia.
"Silahkan." Jawab Sarlince dengan suara yang dibuat sejantan mungkin.
Lucia menjatuhkan bokongnya dan duduk dihadapan Sarlince. Sarlince bisa melihat gadis didepanya itu mengambil menu berat sebagai makan siangnya.
"Kamu hanya makan dua buah sosis? apa itu bisa membuat perutmu kenyang? kompetisi selanjutnya mungkin akan sedikit berat, kamu membutuhkan energi dan nutrisi yang banyak untuk otakmu," tanya Lucia.
"Ini sudah cukup. Aku sedang tidak berselera makan." Jawab Sarlince.
Sarlince kembali mencocol sosis jumbonya kedalam sebuah mangkok kecil yang berisi saus sambal.
"Kenapa? apa kamu sangat tegang mengikuti kompetisi ini?" tanya Lucia sembari menyuapkan ayam bakar kedalam mulutnya.
"Sedikit." Jawab Sarlince singkat.
"Tenang saja, kalau rejeki nggak akan kemana kok," ujar Lucia.
Dari kejauhan Sarlince melihat kedatangan Regent dan Vino. Entah mengapa dirinya menjadi tegang, padahal Regent sama sekali tidak mengenal dirinya.
"Ada apa? kenapa wajahmu seperti sedang melihat hantu?" tanya Lucia.
"Dia lebih menyeramkan dari itu," ucap Sarlince lirih nyaris tak terdengar.
"Apa?"
"Tidak. Itu lihatlah dibelakangmu," ujar Sarlince sembari menggigit kembali sosisnya.
Lucia menoleh kebelakang, dan mendapati Regent membeli menu yang sama dengan Sarlince.
"Oh...dia...tampan ya? dia pemilik dari RB Group kan?" tanya Lucia.
"Ya."
"yang kudengar dia masih jomblo sampai sekarang. Itulah sebabnya ada rumor kalau dia penyuka sesama jenis,"
"Kecilkan suaramu! kalau ada yang mendengar ucapanmu, akan menjadi bumerang buatmu sendiri," ujar Sarlince.
"Tapi aku tidak perduli sih, kalau aku berhasil masuk di RB group, aku akan membuatnya menyukaiku. Dan tidak akan menyukai pria lagi," ucap Lucia.
Entah mengapa Sarlince jadi kesal saat mendengar Lucia ingin menggoda Regent. Tanpa dia sadari Sarlince sudah mulai memasang radar cemburu di hatinya.
__ADS_1
"Dia tidak akan menyukaimu. Seleranya bukan kamu." Jawab Sarlince keceplosan.
"Seleranya juga bukan kamu. Meskipun dia suka dengan lelaki," timpal Lucia.
"Astaga, bisa-bisanya aku ribut dengan spesies ulat bulu ini. Lagian kenapa aku merasa kesal, bukankah akan lebih baik kalau Regent didekati wanita lain? jadi dia tidak lagi mengejarku kan?" batin Sarlince.
"Tapi setelah ku fikir-fikir kamu juga cocok dengannya. Kamu cantik, dan dia tampan. Anak-Anak kalian pasti akan berwajah seperti malaikat," ujar Sarlince.
"Benarkah? aku jadi semakin bersemangat untuk memenangkan kompetisi ini."
"Aku akan mendukungmu," ujar Sarlince.
"Terima kasih. Oh ya aku belum tahu siapa namamu?" tanya Lucia.
"Reza." Jawab Sarlince.
"Reza? jadi dia pemenang kompetisi dibabak pertama dan kedua? aku terlalu meremehkan dia, aku harus mendekatinya terus," batin Lucia.
"Aku lucia, senang berkenalan denganmu," ujar Lucia sembari membingkai senyum.
"Lucia? bahkan dikehidupan ini aku memiliki saingan dengan nama yang sama dibidang meretas. Bahkan tingkah gadis ini sama persis dengan Lucia dikehidupanku sebelumnya," batin Sarlince.
"Aku juga." Jawab Sarlince.
Sarlince melirik kearah meja khusus tempat dimana Regent dan Vino makan sembari mengobrol. Sarlince menyunggingkan senyum tipis nyaris tak terlihat, saat melihat Regent menggigit sosis berukuran jumbo dengan Saus yang belepotan disudut bibirnya.
"Bahkan menu makan siangnya pun bisa sama denganku," batin Sarlince.
Sarlince menggelengkan kepalanya karena ingin mengusir fikirannya yang kacau. Dia kembali menggigit sosis ditangannya, namun entah mengapa saat menggigit sosis itu pandangan matanya dan Regent jadi bertemu dengan posisi tangan yang sama-sama sedang menggigit sosis.
"Bukankah itu pria yang mempunyai wangi yang sama dengan Aline? aku tidak mungkin salah, hanya dia yang memakai kemeja dengan motif kotak-kotak," batin Regent.
Sarlince memutus tatapan mata mereka. Dia tidak mau Regent sampai mengenali dirinya.
"Sial, kenapa dia harus menatapku begitu? bikin orang salah tingkah saja," batin Sarlince.
"Luci. Aku duluan ya, aku sudah kenyang," ujar Sarlince yang ingin segera menyudahi makan siangnya.
"Kenyang? kamu bahkan baru menghabiskan sepotong sosismu," tanya Lucia.
"Sungguh. Aku harus ketoilet sekarang,"
"Baiklah. Sampai jumpa diruang kompetisi lagi ya,"
"Emmm," Sarlince mengangguk dan segera pergi dari tempat itu.
"Vino aku ketoilet sebentar," ujar Regent.
"Apa kamu sudah selesai?" tanya Vino.
"Bungkuskan dua sosis jumbo dan saus, suruh seseorang mengantarkannya keruanganku," ujar Regent.
__ADS_1
"Oke." Jawab Vino.
Regent melangkah pergi karena dia ingin memastikan sesuatu. Regent mengernyitkan dahinya saat melihat seseorang yang diyakininya sebagai pria, malah masuk kedalam toilet wanita. Sementara didalam sana, Sarlince melepaskan kumisnya karena sedikit merasa gatal diatas bibirnya.
"Kumis sialan, entah dari bahan apa mereka membuat ini. Rasanya tidak nyaman sekali," gerutu Sarlince.
Beruntung saat ini suasana toilet sangat sepi, sehingga tidak seoarang pun mengetahui penyamaran dirinya.
"Apa kamu tidak bisa membedakan toilet wanita dan toilet pria?" tanya Regent.
Sarlince terperanjat saat suara yang dia kenal begitu dekat dibelakang punggungnya, ketika dia baru saja melewati sebuah tembok pembatas. Tubuh wanita itu seketika menegang, terlebih Regent mendekat kearahnya.
Regent kembali mencium aroma yang sama dari tubuh yang dianggapnya seorang pria itu. Aroma itu bukan berasal dari pewangi, sabun ataupun parfum. Tapi itu memang wangi khas tubuh seseorang yang baru dua kali dia temui didunia.
Sarlince perlahan membalik tubuhnya dan bersikap setenang mungkin. Wanita mencoba menatap mata lawan bicaranya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tapi satu hal yang Sarlince tidak tahu, keputusannya itu adalah keputusan fatal. Regent bisa langsung mengenalinya walau hanya dengan bertatapan mata.
Regent tersenyum tipis nyaris tak terlihat, namun kali ini Regent tidak mau gegabah dan membuat orang yang dia cintai kabur lagi. Dia berniat menahan Sarlince disisinya meskipun dengan cara yang salah.
"Maaf Tuan. Rupanya saya salah masuk toilet karena terlalu terburu-buru," ujar Sarlince dengan suara jantannya.
"Tidak apa. Tapi jangan lakukan lagi, kamu bisa dikira berbuat mesum kalau sampai melakukan itu disaat ada wanita didalam sana," ucap Regent.
"Baik Tuan." Jawab Sarlince.
"Kembalilah keruangan kompetisi. Sebentar lagi babak ketiga akan segera dimulai," ujar Regent.
"Ya." Jawab Sarlince.
Sarlince bergegas pergi dari situ karena tidak mau lagi ngobrol terlalu lama dengan Regent. Sementara Regent langsung masuk kedalam toilet dan tertawa keras hingga air matanya keluar.
"Bagaimana dia bisa mempunyai ide gila itu? apa dia tidak tahu? meski berkumis wajahnya tetap cantik. Hahaha"
Regent tertawa sepuasnya. Namun jauh dilubuk hatinya dia merasa bingung. Apa tujuan Sarlince mengikuti kompetisi ini. Yang dia tahu, pasti bukan uang pemicunya.
"Aline. Apapun tujuanmu aku tidak perduli. Asalkan bisa menahanmu disisiku dan bisa selalu berada didekatmu, itu sudah cukup bagiku," batin Regent.
Regent kembali melangkah menuju ruang kompetisi. Dapat dia lihat Sarlince duduk dipojok ruangan dengan tenang.
"Wanitaku yang nakal, aku ingin lihat kemampuanmu yang lain. Aku tidak tahu mengapa, tingkahmu dan kepandaianmu mengingatkanku pada Mehru. Mungkin kali ini mehru ingin kamu menggantikan dirinya dihatiku," batin Regent.
Kompetisi babak ketigapun dimulai. Kali ini mereka berkompetisi untuk memecahkan sebuah sandi rumit. Pengetahuan tentang pemecahan sandi hanya bisa dipakai saat-saat darurat, atau biasa digunakan seseorang untuk membobol kode dengan layar monitor canggih, atau membobol kode brankas dengan sandi sulit.
Lagi-Lagi Sarlince menyunggingkan senyumnya saat mendapat perintah itu. Dan senyuman itu sempat tertangkap oleh Regent yang sejak tadi selalu mencuri-curi pandang kearahnya. Tidak Sampai 1 menit, Sarlince sudah berhasil membuka sandi rumit yang biasa dilakukan seseorang untuk meretas sandi sebuah Bank.
Regent mengerutkan dahinya saat melihat Sarlince bersandar dikursi yang dia duduki, sementara peserta lain dahi mereka masih berkerut. Regent kemudian memantau layar komputernya dan hanya satu orang yang berhasil selesai dalam waktu kurang dari 1 menit.
"Reza? jadi dia yang memenangkan kompetisi dibabak pertama dan kedua? dan sekarang dibabak ketiga juga? Aline, apa tujuanmu sebenarnya? apa kamu melakukannya karena ingin dekat denganku?" batin Regent.
Sarlince melirik kearah Regent namun pria itu segera mengalihkan pandangannya kearah lain. Dia tidak ingin membuat Wanitanya itu curiga.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1