
Setelah 3 hari berada di Kota B, Marinkan dan teman-temannyapun pulang kembali ke kota J. Hideo dan Yayoi yang kepikiran meninggalkan sang nenek, tidak bisa pergi berlama-lama. Mereka harus menjaga sang nenek bersama.
"Kabari kami jika sudah sampai. Titip salam juga untuk nenekmu disana," ujar Marinka.
"Kami menunggu kalian berkunjung lagi ke negaraku. Sarlince, terima kasih atas segala yang sudah kamu lakukan untukku dan untuk Yahoi," tutur Hideo.
"Emm. Sering-Sering berkunjung juga kemari, kabari kami kalau sudah memiliki kabar baik."
"Pasti." Jawab Hideo.
Yayoi memeluk Sarlince, dan Hideo memeluk Regent. Hideo juga berpelukkan dengan Akira dan teman-temannya yang lain.
Setelah selesai, Hideo dan Yayoi melambaikan tangan, dan masuk kedalam kawasan bandara.
"Akhirnya berpisah juga," ujar Martin.
"Kamu benar, meski Yayoi bukan saudara kandung kita, tapi kita sudah lama bersama dengannya. Dan aku merasa seperti memiliki adik perempuan sendiri," timpal Akira.
"Jangan bersedih. di lain waktu, kita akan mengunjungi mereka kembali. Lagipula mereka harus melanjutkan hidup, sekarang mereka sudah berkeluarga, bisa jadi sebentar lagi kalian akan mendengar kabar tentang keberadaan calon keponakan kalian," ujar Sarlince.
"Aihh...berasa sudah tua sekali kalau sampai Yayoi dan Hideo mempunyai anak," ujar Chio
"Iya. Sepertinya kita juga harus cepat bergerak," timpal Martin.
"Sekarang, daripada memikirkan hal yang tidak pasti, kalian akan aku ajak mengunjungi tempat baru kalian." tutur Sarlince.
"Tempat baru? apa itu artinya kami tidak tinggal lagi dirumahmu? apa kami sudah merepotkanmu?" tanya Martin.
"Kamu terlalu berpikir berlebihan, kalau kami merasa repot, tentu kami tidak akan mengajak kalian ke negara ini. Aline ingin kalian menunggu bunker yang baru dia bangun. Kalian yang akan mengatur segalanya disana. Sama seperti kalian yang bekerja di markas Hideo sebelumnya, Aline ingin membangun organisasinya sendiri." Jawab Regent.
"Aline, kamu sungguh luar biasa. Aku jadi penasaran, seperti apa bunker ciptaanmu itu," kata Chio.
"Daripada sekedar menebak, lebih baik kita langsung menuju kesana saja."Jawab Sarlince.
Sarlince, Regent dan teman-temannya itu pun pergi menuju bunker yang Sarlince maksud. Lagi-Lagi mata Martin dan teman-temannya terpukau, saat melihat bunker yang Sarlince ciptakan lebih besar dari bunker pada umumnya. Namun yang lebih membuat mereka terkesan lagi, isi didalam bunker itu sama sekali berbeda seperti bunker pada umumnya. Bunker ciptaan Sarlince dibuat dengan teknologi yang super canggih, bahkan tsunamimu tidak membuat bunker itu bergetar sedikitpun.
"Oh God Sarlince...aku sudah yakin kamu ini 100% bukan manusia. Jangan-Jangan kamu ini titisan seorang dewi," ucap Chio.
"Omong kosong, istriku ini manusia normal." Jawab Regent.
"Tapi istrimu menurutku sudah di luar normal Re, bagaimana mungkin di usianya yang masih sangat muda bisa menciptakan hal diluar nalar seperti ini?" timpal Martin.
"Itu sebuah anugrah yang diberikan padaku. Aku harus mensyukurinya dan membuatnya nyata bukan? agar ilmu yang kumiliki berguna bagi orang banyak."
"Kamu benar, dan kami sendiri sudah merasakan manfaat dari ilmu yang kamu miliki itu," ucap Akira.
"Aline, aku ingin belajar banyak hal padanu. Jadi jika suatu saat aku memiliki anak , aku ingin mengajarkan banyak ilmu pada mereka," ujar Martin.
__ADS_1
"Tentu." Jawab Sarlince.
Martin dan teman-temannya melihat-lihat isi didalam bunker. Decak kagum selalu keluar dari mulut mereka saat melihat sesuatu yang menakjubkan menurut mereka.
"Apa ini kamar pribadi kita?" tanya Reegnt sembari memeluk Sarlince dari belakang.
"Emm. Apa kamu menyukainya?"
"Suka. Apapun yang kamu buat, aku selalu menyukainya."
"Baguslah."
"Tapi lebih dari itu, kita harus mencoba ketahanan tempat tidur ini bukan?" tangan Regent sudah bergerak nakal.
"Re. Teman-Teman kita sedang menunggu,"
"Biarkan saja. mereka pasti akan mengerti,"
Regen menggendong Sarlince dan meletakkannya diatas tempat tidur. Sarlince dan Regent kemudian melepaskan kain yang melekat pada tubuh mereka dengan tergesa-gesa mereka tidak ingin membuang-buang waktu.
"Ah...sayang...kamu selalu membuatku ketagihan," ujar Regent sesaat setelah miliknya terbenam jauh didalam sana.
Pria itu perlahan mulai bergerak, sehingga membuat Sarlince tidak kuasa menahan suara merdunya. semakin lama, gerakkan itu semakin mengguncang tubuh Sarlince, hingga wanita itu begitu cepat mendapatkan pelepasannya.
"Kamu yang pimpin sayang,"
Perlahan tapi pasti Sarlince membenamkan milik Regent kedalam liang basah miliknya.
"Ah..." Mata Regent terpejam, saat benda besar kebanggaannya sudah menyeruak kedalam liang basah istrinya.
Perlahan Sarlince mulai begerak dan meliuk-liuk diatas tubuh suaminya. Suara perpaduan daging dan kulit menggema diiringi suara merdu mereka yang saling bersahutan. Hingga tidak berapa lama kemudian, Sarlince kembali mendapatkan pelepasannya.
"Apa kamu belum selesai juga?"
"Sayang. Kamu kan tahu suamimu ini tidak bisa bermain sebentar,"
"Ahh...emmmpptthh..."
Aline kembali merasakan sesak penuh, saat Regent kembali memasukinya lewat belakang. Regent kembali memompa dirinya, yang mau tak mau dirinya terpaksa bersuara merdu kembali. Kian lama pompaan itu semakin keras, hingga tidak lama kemudian Regent dan Aline pun kembali mengerang bersama.
Hosh
Hosh
Hosh
"Oh sayang...kamu benar-benar luar biasa," ujar Regent disela-sela nafasnya yang memburu.
__ADS_1
"Cukup sayang, aku benar-benar lelah," ucap Sarlince.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu sedikit payah, biasanya kita bermain hingga dua atau 3 ronde."
"Terlalu banyak aktifitas akhir-akhir ini, hingga gairahkupun sedikit menurun."
"Kamu lelah?"
"Emm."
"Kalau begitu tidurlah. Nanti aku akan membangunkanmu saat kita akan pulang."
"Kamu temani Martin dan teman-temanya, agar mereka tidak canggung dan merasa diabaikan oleh kita."
"Baiklah, aku keluar dulu."
"Ajak mereka ke bar mini kita, buatkan mereka kopi yang paling enak."
"Oke nyonya Regent."
Sarlince terkekeh saat mendengar ucapan Regent. Sementara itu Martin dan teman-temannya lebih dulu berada di bar mini dan juga sudah membuat kopi mereka sendiri.
"Sepertinya aku sedikit terlambat," ujar Regent.
"Tidak masalah, mungkin kalian ingin mencoba tempat tidur baru," goda Martin.
"Ah...kalian tahu saja, memang itu yang kami lakukan sejak tadi." Jawab Regent sembari terkekeh.
"Sial. Kalian membuatku yang sudah lama tidak bermain, jadi panas dingin," timpal Akira.
"Pergilah, cari mangsa kalian sendiri. Jangan terlalu lama mengurung punya kalian itu, takutnya cairannya akan membeku," ejek Regent.
"Dimana kami bisa menemukannya?" tanya Chio.
"Tentu saja di klub malam atau tempat semacam itu." Jawab Regent asal.
"Itu sungguh mengerikan Re. Biarpun kami nakal, kami juga pilih-pilih. Masalahnya kami masih ingin hidup lebih lama," timpal Martin.
Regent lagi-lagi terkekeh mendengar penuturan teman-temannya itu.
"Kalian pasti akan menemukannya, yang penting kalian mendapatkannya dengan cara baik-baik pula," ujar Regent.
"Dan satu lagi, jika kalian beruntung, kalian pasti akan mendapatkan yang bersegel. Di negaraku sangat menjaga hal itu,"
"Itu bagus Re, aku belum pernah merasakan yang bersegel," ucap Akira.
"Kalau begitu semoga saja beruntung," ucap Regent.
__ADS_1
Perbincangan itu cukup hangat diantara mereka, hingga tanpa sadar mereka sudah dua kali menambah kopi agar perbincangan itu kian melebar.