
tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Ayo kita pulang, hari sudah larut malam," ujar Mehru sesaat setelah pertautan mereka terlepas.
"Ya." Jawab Seo.
Galeo mengitari pohon perlahan-lahan, agar dirinya tidak ketahuan bersembunyi dibalik pohon itu. Sementara itu Seo dan Mehru pulang saling bergandengan tangan.
Malam ini Mehru kesulitan tidur, bayangan kemesraannya dengan Seo begitu membekas dihatinya. Namun berbeda dengan Galeo, pria itu tidak bisa tidur karena merasakan sakit dihatinya.
"Gale, kamu tidak tidur?" tanya Mawe.
"Hikz... "Galeo langsung memeluk sahabatnya itu.
"Hey, ada apa? mengapa kamu menangis?" Mawe panik.
"Aku benar-benar sudah kalah Mawe, aku benar-benar sudah kalah,"
"Apa maksudmu?"
"Mehru dan Seo sudah resmi menjadi sepasang kekasih."
"Darimana kamu tahu itu?"
Galeo melerai pelukkannya dari Mawe, dan mulai menceritakan apa yang dia lihat dan dia dengar.
"Sekarang aku harus apa?"
"Kamu tidak bisa berbuat apa-apa Gale, Kamu tahu sendiri kutukan itu seperti apa. Sekarang yang bisa kamu lakukan hanyalah menolong dia semampumu."
"Meskipun suatu saat kita harus hidup dan mati berkali-kali, tapi kita masih punya kesempatan untuk mematahkan kutukan ini."
"Tapi aku tidak bisa melihatnya mati berkali-kali tepat didepan mataku."
"Mau bagaimana lagi, inilah takdir yang harus kita jalani."
Galeo kembali berbaring dan membelakangi Mawe, air matanya tetap saja turun laksana hujan dimalam hari.
*****
"Ada apa dengan tatapan aneh kalian saat makan pagi tadi?" tanya Kheiren.
"Tatapan apa?"
"Jangan mengelak, kamu tahu apa yang aku maksudkan."
"A-Aku sudah resmi menjadi pasangan kekasih dengan Seo."
"Ap-Apa? secepat dan semudah itu?"
"Aku ingin memberikan kesempatan untuk dia dikehudupan ini."
"Lalu bagaimana dengan Galeo?"
"Aku sudah pernah mengatakan padamu, aku tidak mencintainya. Aku hanya menganggapnya teman sekaligus sebagai kakakku."
"Tapi aku merasa kamu akan aman bersama Gale."
"Tapi aku ingin mencari nyaman, bukan aman saja."
"Hah baiklah...ini memang tentang perasaanmu, hadapi saja jika suatu saat terjadi sesuatu."
"Itu memang tugasmu untuk selalu mendukungku," Mehru menepuk bahu Kheiren.
"Mehru," sapa Seo dengan senyum semringah terbit dari bibirnya.
"Ckk...kekasihmu memanggilmu," ucap Kheiren lirih.
"Kamu bisa menjadi kekasih Mawe kalau kamu mau."
"Kenapa jadi aku?"
"Husssttt diamlah," ujar Mehru saat Seo mulai mendekat.
__ADS_1
"Mehru,"
"Ya."
"Pelajaran Suhu sudah selesai, bagaimana kalau kamu mengajariku memanah?"
"Baiklah. Sekalian langsung berburu hewan saja."
"Emm."
"Kheiren. Aku pergi berburu dulu,"
"Bawakan aku ayam hutan," ujar Kheiren.
"Akan aku carikan."
Mehru segera masuk kedalam pondok dan memgambil busur dan panahnya. Mehru dan Seo pergi kehutan dengan naik kuda yang sama.
"Ja-Jangan seperti itu," ucap Mehru saat Seo dengan nakal mencium ceruk lehernya yang membuat perasaan Mehru jadi tidak menentu.
"Kenapa? aku menyukai aroma tubuhmu. Lagipula kita sudah jadi sepasang kekasih."
"Tidak enak kalau dilihat orang,"
"Siapa yang lihat? ini kan hutan?"
Mehru terdiam, sesekali Seo meraih wajah Mehru dan mengajak gadis itu bercumbu.
"Mehru menghadaplah kemari?"
"Kemana?"
"Kearahku."
"Kenapa?"
"Menurut saja."
Seo memperlambat laju kudanya, bahkan itu terbilang sangat pelan, sehingga Mehru bisa membalikkan tubuhnya.
Tanpa banyak bicara, Seo kembali menc**bu gadis itu, Mehru dengan nalurinya membalas ciu**n Seo.
Seo perlahan menarik kain kemban yang Mehru gunakan, hingga dada indah itu terpampang jelas didepan mata pemuda itu.
"Se-Seo, kamu..."
Mehru menyilangkan tangan kedepan dadanya, namun dengan rayuan Seo, pria itu berhasil membuat pertahanan Mehru gugur.
"Ah...Seo..."
Mehru tak kuasa menahan suaranya saat pria itu sudah melu**t kedua puncak dadanya secara bergantian. Seo dengan gemas memainkan benda besar dan kenyal itu dengan sesuka hati.
"Se-Seo kita harus menghentikan ini, aku tidak mau seperti ini terus," ujar Mehru yang perlahan mendorong kepala Seo agar pria itu menyudahi permainannya."
Mehru menarik kembali kain kemban yang sempat bersarang dipinggangnya, gadis itu sangat takut kalau ada orang lain yang melihat perbuatan mereka.
"Baiklah, kita berburu saja,"
Seo kembali menunggang kudanya dengan kecepatan sedang setelah Mehru kembali duduk dengan posisi semula. Namun tanpa Mehru tahu, senyum kemenangan terbit dari bibir pemuda itu.
"Sekarang kamu sudah lebih mahir memanah, terbukti kamu juga mendapat hewan buruan,"
Mehru memuji ketangkasan Seo saat berburu beberapa ekor ayam hutan.
"Itu berkat kamu yang melatihku."
"Mehru. Kapan orang tuamu akan berkunjung?"
"Aku tidak tahu, sepertinya akan sulit. Desaku sangat jauh, memangnya ada apa?"
"Saat mereka datang aku ingin kamu menikah denganku."
"Me-Menikah?"
"Ya. Apa kamu tidak ingin menikah denganku? aku ingin menjadikanmu istriku. Karena desamu sangat jauh, mungkin akan lebih baik kita menikah saat orang tuamu datang kemari."
__ADS_1
Mehru terdiam. Diamnya gadis itu karena dia bingung bagaimana cara memberitahu orang tuanya agar segera datang. Sementara itu tidak terdengar ada orang yang ingin pergi berdagang kesana.
"Kamu tidak senang kunikahi?"
"Bukan begitu, aku hanya berfikir bagaimana cara memberitahu kedua orang tuaku agar datang kemari."
"Nanti kita akan pergi kepasar, kita akan tanya para pedagang. Siapa tahu ada yang berniat pergi kedesamu."
"Emm." Mehru mengangguk.
"Seo,"
"Ya?"
"Kenapa kamu ingin menikahiku? padahal aku tidak seperti wanita-wanita yang cantik didesa ini."
"Karena aku hanya mencintaimu, jadi tidak ada alasan untuk menikahi gadis lain."
"Terima kasih sudah mencintaiku,"
"Kamu memang pantas dicintai,"
Mehru dan Seo kembali bertatapan satu sama lain, dan mereka kembali bercumbu mesra.
Saat senja hampir tenggelam, Mehru dan Seo tiba diwilayah balai pengobatan. Seo menurunkan hasil buruan mereka yang mendapat banyak sekali ayam hutan.
"Gale," sapa Mehru.
Namun Galeo berlalu begitu saja, tanpa membalas sapaan Mehru yang membuat gadis itu kebingungan.
"Ada apa dengannya? apa dia marah padaku? tapi aku salah apa?" ucap Mehru lirih.
Sejak saat itu Mehru tidak pernah lagi bicara dengan Gale. Pria itu benar-benar berubah sikap padanya. Galeo selalu menghindar tiap kali bertemu dengan Mehru.
Tok
Tok
Galeo menatap Mehru yang berada dihadapannya, dengan tatapan datar.
"Gale aku perlu bicara padamu,"
"Mau bicara apa?"
"Kamu keluar dari gubuk, atau aku yang masuk kedalam sana."
Galeo keluar dari gubuknya dan bicara dengan Mehru dibawah pohon besar.
"Ada apa denganmu akhir-akhir ini?"
"Kenapa?"
"Kamu seolah menghindariku, apa aku ada salah padamu?"
"Tidak."
"Tapi kenapa kamu mendiamkanku?"
"Hanya perasaanmu saja."
"Apa kamu fikir aku ini buta?"
"Sudahlah Mehru, kamu jangan dekat-dekat denganku lagi. Bukankah kamu sudah resmi menjadi kekasih Seo?"
"Jadi kamu menghindariku karena itu?"
"Anggap saja begitu."
"Perlakuanmu itu seperti anak kecil."
"Terserah kalau kamu menganggapku begitu."
"Tidak ada gunanya bicara denganmu. Bikin aku tidak enak hati saja,"
Mehru meninggalkan Galeo yang duduk termenung diatas pohon tumbang.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏