
Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏
*****
Sejak pertemuan waktu itu Siren tidak lagi muncul keperbatasan. Padahal Dean setiap hari datang, berharap Siren akan muncul kembali dan mau diajak bicara lebih lama lagi. Melihat Dean yang berwajah murung, Babilo merasa sedikit khawatir, bukan mengkhawatirkan nasib anaknya, melainkan lebih mengkhawatirkan kalau Dean berbuat nekad dan pergi menemui Siren.
Seandainya itu terjadi, maka mala petaka tidak dapat dielakkan lagi. Hutan peri tidak akan memiliki manusia campuran lagi, melainkan hanya tinggal manusia murni saja.
"Sudahlah Dean. Melupakan Siren memang jalan terbaik untukmu. Kamu jangan memikirkan dirimu sendiri, tapi fikirkan juga nasib manusia campuran yang ada disini," ujar Aru.
Dean hanya diam saja tanpa menanggapi ucapan Aru. Dia lebih memilih berbaring dan memejamkan mata, padahal dia sama sekali tidak tertidur.
"Dean. Temui aku besok, jangan terlambat. Kalau sampai terlambat, aku akan menghilang untuk selamanya,"
"Siren tunggu!"
Ha
Ha
Ha
Dean terbangun dari tidurnya dan melihat suasana disekelilingnya yang masih tampak gelap.
"Ternyata aku tertidur dan bermimpi. Siren sudah seperti Gergasi, kenapa dia selalu mengganggu fikiranku," batin Dean.
Dean kembali berbaring dalam gelap. Api unggun yang mereka buat dibawah rumah tampak sudah padam dan hanya meninggalkan bara api yang masih sedikit menyala. Dean mencoba memejamkan mata kembali meski bayangan Siren masih menari-nari dipelupuk matanya.
*****
"Kamu mau keperbatasan lagi?" tanya Aru.
"Mau berburu."
"Tidak mengajakku dan para anjing?"
"Aku akan berburu ayam hutan dengan pelet getah."
Aru terdiam. Dia tahu betul Dean sedang berbohong saat ini. Meskipun pria itu memang membawa alat penjerat burung dan ayam hutan, tapi tujuan utamanya pasti ingin melihat perbatasan.
"Aku ikut denganmu,"
"Ayo."
Dean dan Aru menyusuri hutan peri, dan memasangkan alat penjerat burung dan ayam hutan. Setelah semua alat terpasang, Dean melangkah pergi.
"Kamu mau kemana? bukankah alat penjeratnya sudah habis terpasang?" tanya Aru.
"Aku mau melihat perbatasan sebentar."
Aru menghela nafas panjang, namun dirinya tetap mengekor dibelakang Dean. Saat tiba diperbatasan, matanya melirik kesana kemari, berharap diseberang perbatasan melihat Sosok Siren yang selalu mengganggu fikirannya akhir-akhir ini.
"Dean ayo kita lihat hasil jeratan. kita sudah terlalu lama menunggu disini. Sudahlah, Siren tidak menyukaimu, jadi dia tidak mungkin datang."
"Emm." Dean mengangguk dan beranjak dari duduknya.
"Deaaaannnn,"
Teriakan itu menghentikan langkah Dean, dan tubuhnya berbalik secepat yang dia bisa.
"Si-siren." Dean terbata.
Untuk kali pertamanya Dean melihat kalau Siren sedang tersenyum kearahnya saat ini. Senyum yang masih terlihat samar, karena jarak pandang mereka yang lumayan terbilang jauh.
Dean sedikit berlari kearah ambang perbatasan dengan senyum yang terbit dibibirnya.
"Siren kamu darang?"
"Ya."
__ADS_1
"Apa kamu sedang berburu?"
"Ya."
"Apa kamu mendapatkan hasil buruanmu?"
Siren berjongkok sejenak dan memperlihatkan dua ekor ayam hutan yang sudah tewas karena anak panahnya. Dean menyunggingkan senyuman dibibirnya.
"Siapa yang membuat alat buruh sebagus itu?" tanya Dean.
"Aku."
"Kamu?"
"Ya."
"Aku menginginkan alat seperti itu juga. Apa kamu bisa membuatkannya untukku?"
Siren melirik kearah Aru yang tampak terdiam mendengarkan obrolan mereka yang lumayan merusak pita suara itu.
"Ya."
"Apa besok aku bisa mendapatkannya?"
"Tiga hari lagi."
Dean terdiam. Namun dia menyetujui ucapan Siren, karena baginya itu hanya alasan untuknya agar bisa bertemu lagi dengan gadis itu.
"Apa kamu membutuhkan sesuatu lagi saat pertemuan kita 3 hari lagi?"
"Garam."
"Garam?"
"Ya."
"Aku akan membawakannya untukmu."
"Tunggu!"
"Aku harus pergi, karena aku harus mencari bahan untuk membuat alat berburu yang bagus untukmu."
Dean terdiam, meski tidak rela, dia terpaksa membiarkan punggung Siren melenggang hilang dibalik semak belukar.
"Apa rasa rindumu itu sudah sedikit terobati?" tanya Aru.
"Sedikit."
"Ya sudah ayo kita lihat hasil buruan kita. Tiga hari lagi kita akan kesini mengambil alat berburu itu."
"Emm."
Dean dan Aru berbalik badan kemudian meninggakkan tempat itu. Dari balik semak-semak Siren keluar dari persembunyiannya saat Dean sudah menjauh. Siren membingkai senyuman tipis kemudian ikut berbalik dan pergi.
"Sepertinya gadis itu membawa keberuntungan untuk kita hari ini."
"Kenapa?" tanya Dean.
"Lihatlah, jerat kita sudah berhasil memperdaya beberapa ekor ayam hutan."
"Dia memang gadis istimewa. Aku tidak tahu mengapa, meski dia bersikap dingin, tapi gadis itu menyimpan beribu hal menarik dalam dirinya."
"Agar perasaanmu lega. Sebaiknya saat bertemu tiga hari lagi, kamu harus segera mengungkapkan perasaanmu itu."
"Ya aku akan melakukannya."
*****
Tiga hari kemudian...
__ADS_1
"Ini sudah sangat lama. Apa dia benar-benar akan datang?" tanya Aru.
"Salah kita yang tidak bertanya padanya, apa kita bertemu dipagi hari atau siang hari, atau bahkan disore hari."
"Ini salahmu. Karena kamu terlalu bersemangat ingin bertemu gadis itu, kamu bahkan membangunkanku padahal hari masih gelap buta."
"Bersabarlah, dia pasti akan datang."
"Apa kita akan menunggunya hingga matahari hampir terbenam?"
"Jika dia datang, kenapa tidak?"
Aru berdecak kesal. Padahal dirinya sudah puas tertidur dan hanya memakan buah apel liar, tapi Siren belum juga muncul.
Dean terduduk saat melihat pergerakkan dari arah balik semak-semak. Matanya berbinar saat melihat sosok cantik diseberang sana. Dean segera berdiri dan melambaikan tangan.
"Suruhlah anjingmu kemari,"
"Kenapa kamu tidak membiarkan anjingmu kemari?" tanya Dean.
Siren melirik kearah anjing hitam yang selalu mengekor kemanapun dia pergi.
"Dia belum bisa seperti anjingmu."
"Baiklah."
Dean mengikat 4 tabung bambu garam kepundak Alu dan membiarkan anjing itu membawanya untuk menemui Siren. Siren meraih 4 buah tabung itu dan meletakkan sebuah busur panah dan 2 buah anak panah dipunggung Alu.
Meskipun sulit dan memakan waktu yang lama, Benda itu berhasi menyeberang ketempat Dean berdiri.
"Suruh dia kemari lagi," ujar Siren.
"Kenapa?"
"Aku membuatkan satu lagi untuk temanmu itu."
Mata Aru berbinar saat mendengarnya, namun Dean merasakan sedikit tidak senang karena merasa sedikit cemburu. Namun tetap saja Dean menuruti apa yang siren katakan. Baginya berlama-lama ditempat itu, bisa membuatnya lebih lama menatap Siren meskipun dari kejauhan.
Setelah Benda itu berhasil Aru dapatkan, Dean bertanya cara benar menggunakannya. Siren melirik kearah Aru yang tengah asyik memakan buah apel liar.
"Letakkan Satu apel diatas kepalamu," ucap Siren.
"Ap-apa?" Aru terkejut.
Dean meraih sebuah apel yang tergeletak diatas semak-semak, buah yang mereka ambil saat akan menuju perbatasan. Dean meletakkan buah itu diatas kepalanya tanpa ragu sedikitpun.
"Apa yang kamu lakukan? bagaimana kalau benda itu meleset dan mengenai kepalamu?" tanya Aru ketakutan.
"Aku percaya padanya." Jawab Dean.
Siren menarik busur dan panahnya dan memicingkan sedikit matanya untuk melihat ketepatan sasaran. Dean membuka matanya sembari tersenyum, tanpa ada rasa takut atau gemetar sedikitpun. Anak panah yang melesat kearahnya dia sambut dengan sebuah senyuman manis, sementara Aru hanya bisa memejamkan mata karena takut melihat kenyataan akhirnya.
Tap
Anak panah itu melesat mantap disebuah apel dan jatuh kearah samping tubuh Dean. Aru membuka matanya dan melihat Dean memungut buah yang tertembus anak panah itu dari atas tanah dan menunjukkannya kearah Siren.
"Kamu luar biasa Siren."
Siren sama sekali tidak menanggapi pujian itu. Gadis itu malah ingin berbalik pergi.
"Siren, apa kamu selalu ingin pergi dengan cara seperti itu? tidak adakah yang ingin kamu katakan padaku?"
"Tidak ada."
"Tapi aku ada."
Siren menatap kearah Dean, dengan tatapan yang tidak bisa Dean lihat dengan jelas.
"Aku suka padamu."
__ADS_1
Siren terdiam. Gadis itu sama sekali tidak mengerti arti suka yang Dean katakan.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏