SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
174. Musnah


__ADS_3

"Sekarang semua anak buahmu sudah aku tamatkan riwayatnya. Kesalahan terbesarmu adalah membiarkan aku tetap hidup Asmodeus. Sekarang kamu tinggal pilih, kamu ingin mati dengan cara apa?" tanya Sarlince.


"Aku ingin hidup bersamamu." Jawab Asmodeus.


"Jangan jadi orang yang tidak tahu malu. Kamu jelas-jelas tahu, kalau itu tidak mungkin terjadi," ujar Sarlince.


"Kenapa kamu mengkhianatiku? padahal aku memperlakukanmu dengan baik selama kamu ada disini," tanya Asmodeus.


"Diperlakukan dengan baik saja tidak akan cukup. Aku butuh orang yang aku cintai." Jawab Sarlince.


"Tapi dia sudah mengkhianatimu?" tanya Asmodeus.


"Dia tidak mengkhianatiku. Ini hanya bagian dari rencana kami. Maaf Asmodeus, aku tidak ingin membuat kesalahan seperti yang kamu lakukan. Aku harus memusnahkanmu." Jawab Sarlince.


"Chio, Martin," seru Sarlince.


Martin dan Chio mendekat kearah Sarlince.


"Ada apa?" tanya Sarlince.


"Lemparkan dia kedalam api yang membakar para mayat itu. Dia harus setia dengan para anak buahnya, biar di neraka mereka bisa merasakan suka dan duka disana." Jawab Sarlince.


Martin dan Chio saling berpandangan karena kebingungan.


"Kenapa kalian bengong? cepatlah!" ujar Sarlince.


Martin dan Chio segera memaksa Asmodeus agar meninggalkan kursi rodanya.


"Jangan lakukan ini Sarlince, aku sangat mencintaimu," ujar Asmodrus.

__ADS_1


"Kalau kamu mencintaiku, maka berkorbanlah. Aku ingin kamu mati dalam api itu. Kalau kamu tidak mau melakukannya, artinya cintamu itu hanya kepalsuan," ujar Sarlince.


"Tunggu apalagi. Cepat lemparkan dia sekarang juga," ujar Sarlince.


Asmodeus sekuat tenaga mempertahankan diri dengan berpegangan di kursi roda, agar dirinya tidak dilemparkan kedalam api itu. Namun tentu saja karena keterbatasannya itu, Asmodeus tidak bisa mempertahankan tubuhnya agar tetap tinggal.


Martin dan Chio membawa tubuh kurus itu kedekat gauman api yang menyala.


"Tidak. Aku mohon jangan Sarlince!" teriak Asmodeus.


Sebenarnya Regent dan yang lainnya merasa tidak tega saat akan melemparkan Asmodrus kedalam api. Tapi mereka tetap harus mematuhi perkataan Sarlince.


"Jangan ragu! kalian lihat mayat yang dibakar dan sudah menjadi abu itu. Itulah suatu bentuk dari kekejaman Asmodeus. Kalau kita memberikan kesempatan hidup padanya, maka kita bisa menyesal seumur hidup," ujar Sarlince.


"1, 2,...3," dihitungan ketiga Chio dan Martin melemparkan Asmodrus secara bersamaan.


Jerit kesakitan dari mulut Asmodeus terdengar nyaring ditelinga Sarlince dan teman-temannya. Sarlince melirik kearah Qiel dan Alex, yang terlihat masih bernafas namun dipenuhi luka.


"Ti-Tidak Sarlince. Jangan lakukan itu. Aku masih punya mama yang harus aku hidupi," Qiel menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Iya Sarlince. Kami minta maaf, karena sudah berbuat salah padamu. Kami berjanji tidak akan mengusikmu lagi. Kasihani aku, aku masih punya anak bayi," timpal Alex.


"Kalau kalian minta diampuni, maka kalian harus tahu apa yang harus kalian lakukan. Musnahkan tempat ini!" ujar Sarlince.


"Baik. Kami akan menurutimu," ujar Qiel.


"Akiraaa..." teriak Vano, saat melihat Akira tiba-tiba tersungkur ke semak-semak.


Mendengar teriakkan Vino, Sarlince dan teman-temannya menghampiri Akira.

__ADS_1


"Sepertinya dia banyak kehilangan darah dari bekas luka tembaknya.Kita harus pergi dari sini, dan membawanya ke rumah sakit terdekat," ujar Sarlince.


Martin dan Chio segera menggotong Akira dan berlari dengan cepat kearah mobil mereka. Setelah sampai, merekapun memasuki mobil Alphard berwarna hitam.


"Tekan terus lukannya, agar perdarahannya berhenti," Sarlince yang menengok kebelakang, berusaha melihat keadaan temannya itu.


"A-Aline. Seandainya kalau aku mati, kamu harus mengatakan pada Lucia, kalau aku sangat mencintainya. A-Aku, sangat menyayanginya meskipun berawal dari kebohongan. Tapi, cintaku padanya sangat tulus," ujar Akira.


"Jangan bicara omong kosong. Kamu pasti akan sembuh. Regent sudah berjanji akan membelikan kita rumah mewah setelah ini. Jadi kamu bisa menempatinya dengan Lucia," ujar Martin dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi rasanya aku sudah nggak tahan lagi. Tubuhku rasanya dingin," ujar Akira.


Ceklek


Sarlince mematikan suhu ac di dalam mobil.


"Kamu nggak akan mati, kalau cuma kena tembak di lenganmu itu. Kalau masih drama juga, aku akan menembaknya ditangan yang satunya lagi," ujar Sarlince yang membuat mulut teman-temannya itu jadi sunyi.


"Sepertinya ngomong-ngomong soal drama, aku ingin kalian membantuku membuat drama yang bagus, agar Lucia mau menerimaku meskipun aku bukan Regent," ujar Akira.


"Boleh juga. Apa kamu bisa menahan sakitmu sampai di labor? aku sendiri yang akan mengeluarkan pelurunya dari lenganmu," ujar Sarlince.


"Eh? terdengar ekstrim Lin. Aku mendadak takut," ujar Akira.


"Bahkan dia bisa menjahit lukamu dehgan mata terpejam" timpal Regent.


"Baiklah akan aku tahan. Tapi janji kalian akan membantuku mendapatkan hatinya Lucia," ujar Akira.


"Oke." Jawab Mereka serempak.

__ADS_1


Akirapun akhirnya dibawa ke Laboratorium raksasa milik Sarlince.


__ADS_2