
"Sayang. Memangnya harus tutup mata begini ya?" tanya Regent saat mereka sudah mulai memasuki mobil.
"Iya. Asmodeus tidak mau mengambil resiko, tempat rahasianya diketahui orang lain. Jadi biar aku saja yang menyetir sampai ketempat tujuan." Jawab Lucia.
"Ini ponsel nggak boleh bawa juga? bagaimana kalau ada klien yang menelpon?" tanya Regent.
"Iya. Lagipula diruangan sana ponsel tidak berfungsi, karena tidak memiliki sinyal. Kecuali di ruangan Asmodeus." Jawab Lucia
"Ya sudah menyetirlah dengan tenang. Aku mau tidur aja kalau begitu," ujar Regent sembari menyandarkan punggungnya di kursi mobil.
"Iya. Nanti pas sampai aku bangunin," ujar Lucia sembari tersenyum.
mobil perlahan mulai berjalan. Tanpa Lucia tahu, Regent mengaktifkan Gps dari ponsel micro yang ada dibalik jaketnya.
"Oke. Star pertama keluar dari gerbang apartement belok ke kiri. Aku sudah menyetel bensin mobilnya agar sampai di pom bensin," batin Regent.
"Ckk...bensinnya lupa ngisi lagi. Jadi harus mampir dulu ke pom bensin," gumam Lucia yang bisa didengar oleh Regent.
Lucia kemudian mengantrikan mobil di pom bensin.
"Full mas," ujar Lucia pada petugas pom bensin.
"Dia mengisi bensinnya dengan full. Sepertinya perjalanan ini cukup jauh," batin Regent.
Setelah melakukan perjalanan sekitar 1 jam, Regent mulai memainkan siasatnya.
"Ehemm" Regent mulai batuk-batuk kecil. Sesaat kemudian Regent kembali mengulanginya.
"Sayang. Kamu kenapa? kok batuk-batuk? kamu sakit?" tanya Lucia.
"Nggak. Cuma tenggorokkanku agak sedikit kering. Nafasku juga terasa sesak karena penutup kepala ini," ujar Regent.
"Ya ampun sayang. Aku minta maaf ya? gara-gara aku, kamu jadi menderita begini," ucap Lucia.
"Nggak apa-apa. Demi cintaku padamu, nyawapun akan aku berikan." Jawab Regent.
__ADS_1
"Ya sudah kita mampir ke mini market dulu kalau begitu. Kamu mau minum apa?" tanya Lucia.
"Aku mau air mineral dingin. Beli yang botol besar ya!" Jawab Regent.
Lucia kemudian membelokkan mobilnya ke mini market untuk mencari minuman.
"Kamu percaya sama aku?" tanya Regent.
"Aku percaya kamu nggak akan macam-macam." Jawab Lucia.
"Ya sudah aku tunggu di mobil ya!" ujar Regent.
Lucia turun dari mobil, dan memasuki mini market. Regent bergegas melepas kain hitam yang menutupi kepalanya, dan melihat daerah sekitar. Regent tersenyum, saat membaca alamat yang tertera di plang diseberang mini market. Setelah mengetahui alamat itu, Regent kembali menutup kepalanya agar tidak menimbukkan kecurigaan Lucia.
"Sayang. Ini air minumnya," ujar Lucia.
Regent berpura-pura bangun dari tidurnya, dan mulai minum dengan menyibak kain hitam dari arah bawah. Setelah selesai merekapun kembali melanjutkan perjalanan. Regent kembali berpura-pura tidur.
Sementara itu di tempat berbeda, Megumi, Vano, dan teman-temannya tengah memantau Gps yang aktif. Meski sempat berhenti beberapa kali, mereka tetap memantau dan menandai tiap-tiap jalan yang di lalui Regent.
"Sabar ya sayang. Nggak lama lagi kita akan sampai. Pasti kamu pengap banget ya?" tanya Lucia.
"Makasihnya sayang. Aku terharu banget loh," ujar Lucia.
Sesuai perkataan Lucia, tidak berapa kama kemudian mereka tiba disebuah pinggiran kota. Tanah seluas ribuan hektar dipagar dengan beton setinggi 5 meter. Regent berjalan waspada, karena matanya masih di tutup.
Setelah sampai berjalan kaki sejauh 100 kaki, mereka tiba disebuahh rumah yang sama sekali tidak layak huni. Namun tentu saja itu hanya kamuflase.
"Periksa dia," ujar Marcus.
Regent bisa bernafas lega, karena diam-diam dia sudah menjatuhkan ponsel micro di semak-semak. Setelah jaketnya dilepas dan dinyatakan bersih dari jenis elektronik apapun, Regentpun dbawa masuk kedalam ruang rahasia mereka.
Sebuah roda bulat diputar searah jarum jam, hingga rumah yang tampak bobok namun menyatu itu terbelah menjadi dua. Dibawah sana sudah terlihat susunan tangga yang terbuat dari kristal murni.
"Itu tadi suara apa ya? seperti suara benda digeser," batin Regent.
__ADS_1
"Sayang. Berhati-Hatilah!" ujar Lucia.
Lucia dan Regent berjalan bergandengan. Setelah itu mereka masuk kedalam sebuah ruangan yang didalamnya lumayan terasa dingin.
"Ikutlah bersamaku! suamimu datang bersama istri barunya. Dia ingin melakukan pertukaran, tapi bukan tukaran denganmu, melainkan dia ingin menjadikan Lucia benar-benar istri satu-satunya. Jadi bersikap pintarlah! jangan pernah memberitahu Regent kalau saat ini kamu sedang dalam keadaan mengandung," ujar Asmodeus.
"Regent sudah kesini?" batin Sarlince. Ada perasaan membuncah dalam hatinya, tapi Sarlince tidak menunjukkan hal itu.
"Aku tidak akan memberitahu laki-kaki tukang selingkuh itu. Aku juga tidak sudi mau jadi istrinya lagi." Jawab Sarlince.
Asmodeus tertawa sangat keras, saat mendengar jawaban dari Sarlince. Tentu saja pria berkulit keriput itu sangat senang, karena ucapan itu yang memang dia ingin dengar dari mulut Sarlince.
"Kalau begitu mari kita keluar, setelah hari ini aku akan membebaskanmu berjalan-jalan keluar kamar," ujar Asmodeus.
"Dan itu akan menjadi kesalahan terbesarmu, karena sudah percaya dengan ucapanku," batin Sarlince.
Sarlince dan Asmodeus berjalan sejajar. Mata Sarlince cukup bergerak cepat, saat mereka sudah keluar dari kamarnya. Sarlince cukup mengagumi bangunan unik bawah tanah itu. Bangunan yang sama sekali tidak terpikirkan membuatnya menjadi mewah, karena berada di dalam tanah.
Sreeeetttt
pintu itu terlihat bergeser setelah Marcus menyentuhkan telapak tangannya ke pintu lapis baja.
"Bagaimana cara pintu ini bekerja? aku sama sekali tidak melihat sensor apapun yang bisa ditekan. Apa ada semacam sidik jari?" batin Sarlince.
Saat pintu itu terbuka, Kepala Regent menoleh secepat kilat. Begitu juga dengan Sarlince, matanya langsung tertuju pada mata suaminya itu. Mata mereka seolah bicara satu sama lain. Sarlince dan Regent tahu, mereka sama-sama menyimpan kerinduan yang luar biasa.
Sarlince berpura-pura memalingkan wajahnya, seolah dia tidak ingin melihat wajah suaminya itu. Asmodeus yang melihat hal itu, tentu saja sangat senang.
"Sayang. Aku persilahkan kamu mengucapkan selamat kepada pengantin baru ini," ujar Asmodeus.
Gigi Regent bergemeratuk karena cemburu. Dan Sarlince bisa menangkap hal itu.
"Selamat," Sarlince mengulurkan tangannya. Sarlince menggelitik telapak tangan Regent dari arah dalam. Regent yang cepat tanggap langsung mengerti.
"Selamat aku ucapkan karena kamu sudah mengkhianati aku dengan menikahi wanita lain. Aku bahkan sudah melihat percintaan panas kalian yang cukup membakar dadaku. Sekarang cepat urus perceraian kita, karena aku tidak akan mau dimadu," ucap Sarlince.
__ADS_1
"Ya maaf saja. Aku juga sudah lelah ngejar kamu ditiap kehidupan. Sekarang aku sudah ada lucia, yang bisa nemani aku seumur hidup. Kalau kamu mau cerai ya oke saja. Aku sama sekali tidak keberatan," ujar Regent.
Lucia bersorak senang, saat mendengar pertengkaran Regent dan Sarlince. Dia merasa sudah bisa mendapatkan Regent sepenuhnya.