
Hosh
Hosh
Hosh
"Ini sangat luar biasa sayang," ucap Akira.
Keringat terlihat membanjiri keduanya saat dua insan itu selesai berpacu untuk yang ketiga kalinya. Beruntung suasana baseman itu sedang sepi, jadi tidak ada orang yang tahu kalau mobil Akira sedang bergoyang selama berjam-jam.
"Kamu selalu bisa memuaskanku," ujar Akira.
Saat ini keduanya tengah berpelukkan dengan posis Lucia duduk dipangkuan Akira, setelah melakukan pelepasan bersama.
"Sekarang ada masalah baru," ujar Lucia.
"Apa?" tanya Akira.
"Aku kelaparan. Kita sudah menguras tenaga, tapi kita belum makan malam." Jawab Lucia.
"Sekarang jam berapa?" tanya Akira.
Lucia meraih ponsel dalam tasnya, dan melihat jam yang tertera disana.
"Jam 1 malam." Jawab Lucia.
Akira meraih kedua sisi wajah Lucia dan mencium kening gadis itu.
"Maafkan aku ya sayang. Aku selalu tidak bisa mengendalikan nafsuku saat melihatmu. Aku tidak tahu kenapa, melihatmu selalu ingat kasur," ujar Akira sembari terkekeh
"Ya sudah ayo kita berpakaian. Malam ini aku yang akan memasak untukmu," sambung Akira .
"Pantas saja Sarlince tergila-gila pada Regent. Dia selalu bisa membuat Sarlince bahagia. Dia selalu bisa memanjakan pasangannya," batin Lucia.
"Hey. Kok malah melamun? cepat berdiri dari pangkuanku! takutnya si otong bangun lagi," ujar Akira yang langsung mendapat pukulan dibahu pria itu.
"Bantu aku memakai pakaianku," ujar Lucia.
"Oke baiklah sayangku." Jawab Akira.
__ADS_1
Akira membantu Lucia memakaikan pakaian dalam bagian atas Lucia.
"Sayang. Penutup dadanya terlalu kecil, sementara dadamu sangat besar. Dia akan sesak. Belilah yang sedikit longgar. Atau lebih baik tidak usah pakai, agar aku bisa langsung menikmatinya," ujar Akira.
"Kamu ini. Cepatlah! aku sudah sangat lapar," rengek Lucia.
Setelah mereka memakai pakaiannya, merekapun kembali ke apartement. Malam itu Akira sangat memanjakan Lucia dengan saling menyuapi makan. Setelah selesai makan, merekapun kembali bertempur.
Grepppp
Lucia memeluk Akira dari belakang. Gaun tipis yang dia kenakan, seolah dia tidak mengenakan apapun saat ini.
"Sayang. Kenapa kamu tidak langsung tidur? kamu pasti sangat lelah kan? di balkon anginnya sangat dingin, nanti kamu sakit," ujar Akira.
"Aku sangat gelisah. Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak," ujar Lucia.
Akira menyeret tangan Lucia, dan mereka sama-sama duduk di tepi tempat tidur. Akira kemudian meraih kedua sisi wajah gadis itu, dan menatap matanya dengan dalam.
"Ada apa. Hem?" tanya Akira.
"Entah kenapa aku merasa kamu akan meninggalkanku suatu saat nanti. Aku mohon sama kamu Re, jangan pernah tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu." Jawab Lucia.
Deg
Grepppp
Akira memeluk erat istri palsunya itu.
"Tidak akan. Kita akan bersama selamanya." Jawab Akira.
"Maafkan aku Lucia. Tunggu sampai misi ini selesai. Saat misi ini selesai, aku akan jujur padamu. Aku juga merasa sudah jatuh cinta padamu, aku tidak bisa kehilanganmu. Memang akan lebih baik kalau kamu mengandung anakku, jadi kamu tidak akan berpikir meninggalkanku setelah aku jujur nanti," batin Akira.
"Mau lagi?" tanya Lucia.
"Kamu nggak capek? kalau aku selalu menginginkanmu setiap saat." Jawab Akira sembari terkekeh.
Tidak banyak basa basi lagi, kedua insan itu kembali bertempur untuk mereguk kenikmatan bersama.
*****
__ADS_1
Regent saat ini sedang sibuk memilih bahan-bahan yang dia butuhkan di Jepang. Toko yang berpusat di tokyo itu, memang tidak seramai dari toko lainnya. Karena bahan yang mereka jual tidak semua orang menggunakannya. Itulah harganya memang tidak main-main.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Regent kembali ke hotel tempatnya menginap.
"Kamu sedang apa sayang? aku sangat merindukanmu. Apa anak kita baik-baik saja? aku ingin sekali memelukmu," gumam Regent sembari menatap layar ponselnya yang terlihat ada foto Sarlince yang sedang tersenyum.
"Bersabarlah! tidak lama lagi aku pasti bisa mengeluarkanmu dari sana. Dan aku akan membuat perhitungan dengan manusia jelek itu," gumam Regent.
Sementara itu ditempat berbeda, keadaan Sarlince sama-sama sedang menahan rindu.
"Kenapa aku sangat ingin memeluk Regent. Apa ini karena bayiku? mungkin dia juga merindukan papanya. Bahkan saat ini aku sangat ingin disentuh olehnya. Sarlince , kamu memang konyol. Disaat seperti ini, masih sempat-sempatnya berpikiran mesum," gerutu Sarlince.
"Tapi mau bagaimana lagi, ini memang sudah naluri. Ah...aku jadi pengen makan rujak lagi," ujar Sarlince.
Sekarang Sarlince memang lebih bisa bebas dari sebelumnya sejak pertengkaran pura-pura itu terjadi. Tapi Asmodeus masih belum mengizinkan Sarlince bisa pergi keluar dari tempat itu. Dia hanya diperbolehkan berkeliling di dalam saja.
"Aku ingin rujak. Tolong buatkan lagi untukku. Beli yang banyak mangga mudanya, biar bisa stok di kulkas," ujar Sarlince pada pelayan di dapur.
"Baik Ratu." Jawab Pelayan.
"Kamu sedang buat apa?" tanya Sarlince.
"Kue kacang almond Ratu. Tuanku yang menyuruhku membuat kue kacang almond untuk ratu. Katanya sangat bagus untuk kesehatan bayi." Jawab Pelayan.
"Terima kasih," ucap Sarlince.
Sarlince kembali berkeliling, dan tidak sengaja menemukan tempat yang masih asli, dan tidak dilapisi ubin atau kristal. Tempat itu berada paling ujung. Yang mereka gunakan untuk menjemur pakaian. Entah untuk alasan apa dinding itu dibiarkan masih berbentuk tanah murni. Tapi setelah Sarlince mengamatinya, tanah itu bisa menyerap air yang berasal dari air cucian ataupun air yang berasal dari kamar mandi terdekat.
"Aku pikir bangunan ini sudah sangat sempurna, tapi mereka masih membuat kecerobohan," gumam Sarlince.
"Berdasarkan pengamatanku, tempat ini berada di arah selatan dari pintu utama. Bagaimana caraku memberitahu mereka tentang hal ini," batin Sarlince.
"Meskipun dibagian ujung dinding ini terlihat sempit, tapi seseorang bisa lewat dengan posisi tubuh miring. Aku tidak bisa berpangku tangan, dan tidak melakukan apa-apa. Aku harus berusaha meskipun itu usaha yang kecil," gumam Sarlince
Sarlince melihat-lihat disekitar bangunan. Dia ingin mencari alat, yang akan dia gunakan untuk menggali. Dan pada akhirnya Sarlince menemukan Sekop kecil yang biasa digunakan pegawai bangunan untuk menyemen batu bata.
"Aku harus membuat terowongan semampuku. Yang penting aku sudah berusaha," gumam Sarlince.
Sarlince memiringkan tubuhnya didinding yang sempit. Dengan susah payah dia mengeruk tanah meskipun berhasil hanya sekitar 30 cm saja.
__ADS_1
"Baiklah cukup dulu. Aku tidak bisa berlama-lama kekuar kamar, takutnya manusia aneh itu akan curiga," gumam Sarlince.
Sarlincepun mencuci tangan, dan segera kembali ke kamarnya. Dan saat dia kembali, satu piring rujak mangga muda sudah tersedia bersama kue kacang almond. Sarlince dengan senang hati menikmatinya.