
Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏
*****
"Kalian belum tidur?" tanya Tabib Cheng saat melihat Galeo dan Mawe menunggu didepan pintu utama dengan mata yang sangat sayu.
"Belum suhu. Kami mengkhawatirkan kalian." Jawab Galeo.
Tabib Cheng menepuk pundak Galeo sembari tersenyum.
"Inilah tugas jadi seorang tabib, meski kita dipanggil dimalam hari atau dini hari, kita harus siap. Karena ini menyangkut hidup dan mati seseorang.
"Tidurlah, kalian pasti sangat lelah. Besok kalain akan kembali menimba ilmu berikutnya."
"Baik Suhu." Jawab mereka serentak.
Mehru, Kheiren dan Mesa masuk kedalam gubuk mereka untuk beristirahat, begitu juga Galeo, Mawe dan Seo. Rasa lelah dan ngantuk, membuat mereka jadi cepat tertidur.
*****
"Mehru bangunlah kita sudah kesiangan," ucap Kheiren.
Mehru menggeliatkan tubuhnya, dan segera membuka matanya. Terlihat matahari memang mulai menyinsing, Mehru bergegas bangun dan membersihkan diri dengan cepat.
"Suhu maaf, aku terlambat untuk makan bersama."
"Tidak apa, kamu pasti sangat lelah. Ayo cepat habiskan makanan kalian, hari ini aku akan memulangkan murid lebih cepat, agar kalian bisa beristirah lagi."
"Aku tahu, kalian hanya tidur sebentar saja tadi malam. Hari ini aku akan memberikan pelajaran sebentar saja."
"Baik Suhu,"
Mereka menyantap makanan dalam diam, sesekali Seo dan Mehru saling mencuri pandang dan itu tertangkap oleh Galeo.
"Sepertinya aku benar-benar kalah lagi," batin Galeo.
Setelah selesai menyantap makanan, Para murid kembali siap untuk menimba ilmu. Meski menahan kantuk yang luar biasa, hari itu Mehru berhasil melewati dan mendapat ilmu baru.
"Mataku sudah tidak tahan lagi Kheiren, aku mau tidur sekarang juga."
"Iya sama. Aku juga sangat lelah,"
"Apa tidak sebaiknya kita makan dulu baru tidur? takutnya Seo akan membangunkan kita saat melihat kita belum makan," timpal Mesa
"Benar juga. Ayo kita makan dulu," ujar Kheiren.
Merekapun kembali makan bersama. Bahkan makan siang hari itu terlampau cepat dari biasanya karena mereka ingin segera bertemu dengan gubuk kesayangan mereka.
Tok
Tok
"Mehru, Mesa, Kheiren, apa kalian masih tidur?"
Mehru yang terbangun lebih dulu melirik kearah area kamar mereka yang tampak gelap gulita.
"Kheiren, Mesa, bangunlah. Ini sudah malam, apa tadi kita benar-benar tertidur? atau sempat mati?"
__ADS_1
Mesa dan Kheiren mengusap mata mereka karena masih merasakan kantuk yang luar biasa.
"Ini sudah malam, bahkan kita tidak sempat membersihkan diri. Ayo bangun, Suhu pasti sudah menunggu untuk makan malam bersama," ujar Mehru.
Kheiren, Mehru dan Mesa keluar dari gubuk itu, dan mendapati Seo masih berdiri disana.
"Ayo cepat keruang makan, suhu sudah menunggu."
"Emm." Mehru memgangguk.
Saat tiba disana, Galeo dan Mawe ternyata sudah tiba lebih dulu. Mereka kembali makan dalam diam.
"Mehru, kejadian tadi malam sudah menyebar luas didesa ini," ucap Tabib Cheng.
"Apa ada yang perlu dikhawatirkan?" tanya Mehru.
"Tidak ada. Bahkan untuk kedepannya kamu harus bersiap-siap jika ada orang yang membutuhkan pertolonganmu."
"Maksud suhu apa? aku bahkan baru mulai belajar menimba ilmu beberapa hari disini, mana mungkin kemampuanku bisa dibandingkan dengan nyai dukun itu?"
"Aku tidak tahu mengapa, tapi semua orang sedang membicarakanmu saat ini."
"Suhu aku jadi takut," ucap Mehru.
Tabib Cheng terkekeh mendengar perkataan Mehru.
"Apa yang harus kamu takutkan?"
"Tentu saja aku takut. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi tabib dadakan seperti itu? semalam hanya kebetulan, aku mana bisa kalau bertemu situasi seperti itu lagi."
"Benar yang Seo katakan. Lambat laun kamu pasti akan menghadapi situasi seperti ini juga. Jadi anggap saja ini sebagai latihan untukmu. Mehru, tidak semua orang mempunyai sikap berani seperti dirimu, dan kamu memiliki kemampuan yang orang lain tidak miliki. Jadi jangan mudah menyerah dengan keadaan," ucap Tabib Sheng.
"Baik Suhu."
"Sekarang kalian cepat habiskan makanan kalian, setelah itu terserah kalian apa mau beristirahat, atau masih ingin berbincang."
"Baik Suhu."
"Mehru aku ingin bicara denganmu," ujar Seo setelah mereka selesai makan malam.
"Ada apa?"
"Ikut aku."
"Kemana?"
"Ikut saja," seo menyeret tangan Mehru kearah belakang gubuk.
"Seo kita mau kemana? bukankah ini arah menuju hutan?"
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Pegang ini!" Seo memberikan sebuah obor yang terbuat dari tabung bambu.
"Berhenti!" ucap Seo.
"Kenapa kita berhenti disini? dan kenapa kamu mematikan obornya? ini jadi gelap," ucap Mehru.
"Tunggulah sebentar lagi, aku ingin menunjukkan sesuatu yang indah padamu."
__ADS_1
"Apa?"
"Bersabarlah,"
"Tapi kita hanya mendapat cahaya dari gubuk kita? bagaimana kalau ada ular yang menjalar dikaki kita?"
"Tidak akan. Tunggulah sebentar lagi, kita duduk dulu disini sejenak ya?"
Seo dan Mehru duduk disebuah pohon tumbang sembari menunggu yang ingin mereka lihat. Tidak berapa lama kemudian, munculah banyak kunang-kunang yang membuat sekitar mereka menjadi terang.
"Seo, hewan apa itu? kenapa indah sekali? aku belum pernah melihatnya."
"Sudah kuduga kamu belum pernah melihatnya. Orang bilang itu namanya kunang-kunang yang cuma ada dimalam hari."
"Kenapa cuma ada dimalam hari?"
"Aku tidak tahu. Mungkin cahaya ditubuhnya baru akan muncul kalau hari sudah malam."
"Woahhh mereka banyak sekali,"
"Apa kamu senang?"
"Aku sangat senang."
"Anggap ini adalah hadiahku karena kamu sudah berhasil menyelamatkan dua nyawa pasien."
"Dua nyawa?"
"Ya. Nyawa ibu dan bayi itu tentunya."
"Terima kasih Seo. Hadiahmu sungguh indah,"
"Kalau kamu menyukainya, kita akan sering-sering datang kesini untuk melihatnya."
"Kenapa tidak kita tangkap saja?"
"Jangan! kalau ditangkap mereka tidak bisa terbang bebas lagi, lagipula belum tentu kita tahu cara memeliharanya. Apalagi jenis makanan yang dia makan."
"Benar juga. Dengan begitu kita hanya akan menyiksanya saja."
"Mehru,"
Seo menggenggam kedua tangan Mehru dan kemudian menyelipkan anak rambut Mehru yang terlerai kebalik telinga gadis itu.
"Disaksikan para kunang-kunang ini, aku ingin memintamu kembali untuk menjadi kekasihku, apa kamu bersedia?" tanya Seo.
Beruntung cahaya kunang-kunang itu belum mampu membuat Seo tahu, kalau saat ini wajah gadis itu sedang merah merona.
"A-Aku bersedia." Jawab Mehru.
"Benarkah? aku sangat bahagia Mehru. Ternyata kita memiliki perasaan yang sama."
"Aku akan mencobanya kembali, aku akan menganggap dikehidupan sebelumnya aku kurang beruntung, dan Seo diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu," batin Mehru.
Tanpa Mehru sadari, Seo sudah meraih dagu gadis itu dan menci**nya dengan lembut. Dengan nalurinya, Mehru membalas cum**an Seo penuh perasaan. Mereka bercumbu mesra disaksikan oleh ratusan kunang-kunang, dan disaksikan oleh seseorang yang bersembunyi dibalik pohon dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Siapa lagi kalau bukan Galeo, tanpa sengaja pria itu melihat ketika Seo menyeret tangan gadis itu. Karena takut terjadi sesuatu, Galeo mengikuti mereka dan terpaksa harus melihat sesuatu yang menyakiti hatinya.
Tinggalkan Like, Koment dan vote🤗🙏
__ADS_1