SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
143. Prototipe


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


"Gumi,"


"Akhirnya kamu menghubungiku juga. Kapan kamu akan kembali? apa terlalu enak berbulan madu sehingga kamu melupakan untuk pulang?" goda Megumi.


"Ckk...sempat-sempatnya menggodaku. Gumi,"


"Ya?"


"Apakah pembangunan laboratoriumnya sudah selesai?"


"Sudah. Bahkan sudah ada beberapa ahli mulai bekerja,"


"Bagus. Gumi, apa kamu masih ingat cara pembuatan prototipe sebuah tangan palsu yang pernah kuajarkan padamu dikehidupan sebelumnya?"


"Ya. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan cara membuat benda ajaib itu."


"Kalau begitu aku ingin kamu membuatkan satu prototipe untuk tangan kiri seorang pria."


"Kamu ingin membuat tangan palsu untuk siapa? Aline, tidakkah tindakanmu ini akan menggemparkan dunia? bagaimana bisa kamu membuat itu dizaman yang sekarang ini? bukankah itu untuk seribu tahun yang akan datang?"


"Aku tidak perduli segempar apa dunia di era sekarang ini, aku hanya ingin membahagiakan temanku."


"Teman?"


"Ya. Disini aku memiliki teman baru yang sedang kesulitan, dia baru saja kehilangan tangan kirinya karena ingin menyelamatkanku."


"Ap-Apa? baiklah kalau begitu, aku akan segera membuat prototipenya untukmu. Tapi aku perlu ukuran tangan pria itu, agar saat pemasangan ukurannya pas."


"Aku akan mengirimkan ukurannya lewat chat."


"Oke. Sisanya aku serahkan padamu, nanti akan aku carikan bahan terbaik untuk pembuatan benda itu. Kalau tidak ada disini, aku akan memberitahumu untuk mencarinya disana."


"Baiklah."


Sarlince mengakhiri percakapan itu. Sementara itu, Yayoi dengan langkah tertatih mencari ruangan, tempat keberadaan Hideo. Setelah berhasil menemukannya, Yayoi perlahan menekan handle pintu.


Ceklek


Yayoi mendapati Hideo tengah terbaring dan tertidur lelap. Dengan langkah pasti gadis itu mendekati Hideo. Namun alangkah terkejutnya Yayoi saat mendapati satu tangan Hideo sudah tidak ada ditempatnya, air mata Yayoi merembes seketika, hingga isak tangis itu mengganggu tidur Hideo.


Melihat Hideo akan terbangun, Yayoi segera menghapus air matanya dengan cepat. Namun kecepatan tangannya kalah cepat dengan mata Hideo yang terlanjur melihat sisa air mata itu.


"Hai..." Sapa Yayoi dengan menyunggingkan senyuman.


"Apa bahumu tidak sakit lagi?" tanya Hideo.


"Kenapa kau mengkhawatirkan aku? sementara kamu bisa lihat, aku sudah berdiri dihadapanmu dengan tegap."


Hideo tersenyum mendengar ucapan Yayoi, senyum yang sangat jarang Yayoi temui, hingga hati gadis itu jadi meleleh seketika.

__ADS_1


"Kamu cepatlah sembuh, Yama dan orang-orangmu pasti sedang membutuhkanmu saat ini,"


"Apa kamu ingin menghiburku? tidak mungkin mereka mau dipimpin orang cacat sepertiku?"


"Kamu itu memiliki kemampuan yang orang lain tidak miliki, tidak perduli kamu kehilangan satu tangan atau keduanya, karena kamu memiliki banyak tangan yang lain yang bisa menuruti semua perintahmu."


"Omong kosong," ujar Hideo lirih.


"Hideo. Kamu harus cepat sembuh, karena kamu masih punya hutang padaku."


"Hutang? hutang apa?" tanya Hideo.


"Bukankah aku sudah bilang waktu itu, kalau kita berhasil keluar hidup-hidup dari sana, kamu harus menikahiku?"


"Jangan bicara omong kosong, kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik dan lebih sempurna."


"Tapi aku hanya mau dirimu,"


Yayoi menggenggam tangan kanan Hideo. Pria itu menatap lekat kearah mata Yayoi.


"Yoi. Sekarang aku sudah jadi orang cacat, kamu tidak akan bahagia jika bersamaku. Apa kamu lupa? aku pernah mengatakan kalau aku tidak suka berkomitmen dan juga tidak menyukai anak-anak. Aku tidak bisa memberikan itu semua padamu."


"Aku akan membuatmu perlahan menyukai semuanya. Menyukaiku, menyukai komitment dan juga menyukai anak-anak. Lagipula kamu juga sudah berjanji dengan nenek waktu itu bukan? aku jadi saksinya saat kamu mengatakannya."


"Buat apa kamu memaksakan diri, aku tidak butuh dikasihani."


"Siapa yang mengasihanimu?"


"Tentu saja kamu. Kamu ingin menikah denganku karena kasihan padaku, bukan karena kamu mencintaiku."


Hideo tertegun mendengar pengakuan Yayoi.


"Yoi. Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan? sebab, kamu tahu sendiri seperti apa aku selama ini. Kamu bukan menjadi wanita pertama dalam hidupku, bisa jadi kamu akan menjadi wanita ke seribu yang akan menghangatkan ranjangku."


"Aku tahu itu. Aku tidak perduli tentang masalalumu seperti apa, yang aku ingin tanyakan, apa kamu mau menikah denganku?"


"Ya Tuhan...ini sangat memalukan. Bagaimana bisa pria tulen sepertiku dilamar oleh seorang gadis," gerutu Hideo.


"Bagaimana?"


"Aku pikir-pikir dulu,"


"Kenapa harus banyak mikir? jawabanmu itu persis seperti anak perawan 17 tahun."


"Aku hanya takut kamu menyesal,"


Yayoi yang kesal, langsung membungkam mulut Hideo dengan sebuah ciuman. Mata Hideo yang awalnya melotot karena terkejut, perlahan membalas ciuman lembut Yahoi. Kini Hideo sudah bisa menyelami perasaannya sendiri, jauh dilubuk hatinya dia juga menginginkan Yayoi sebagai pendamping hidupnya.


Mata Yayoi dan Hideo perlahan sama-sama terbuka sesaat setelah ciuman panjang itu usai.


"Apa ini ciuman pertamamu?"


"Kenapa kamu tahu?"

__ADS_1


"Sangat terasa sekali, kamu masih kaku saat melakukannya."


Wajah Yayoi bersemu merah, dia benar-benat malu mengakui kalau itu memang ciuman pertamanya.


"Ehemmm....apa kalian sudah selesai?"


Hideo dan Yayoi menoleh kearah pintu, dan mendapati Sarlince tengah bersedekap sembari menatap kearah mereka.


"Seharusnya kalau mau berbuat mesum, setidaknya harus menutup pintu dengan rapat. Agar tidak menjadi tontonan,"


Sarlince perlahan melangkah masuk mendekati Yayoi dan Hideo. Pasangan yang sedang tertangkap basah itu tampak bersemu merah wajahnya.


"Kapan kalian akan menikah? mumpung aku ada disini," tanya Sarlince.


"Secepatnya." Jawab Hideo.


"Hideo. Aku ingin menawarkanmu sesuatu,"


"Apa?


"Apa kamu percaya padaku?"


"Ya."


"Kalau kamu percaya padaku, maukah kamu ikut bersamaku pulang ke negara I?"


"Ada apa?"


"Saat ini aku sedang membuatkanmu sebuah prototipe untuk tangan kirimu. Dengan kata lain, aku ingin membuat tangan palsu untukmu. Apa kamu bersedia menerima hadiah dariku?"


"Tangan Palsu?"


Hideo langsung membayangkan sebuah tangan palsu yang kaku seperti patung manekin, yang meskipun ada, tapi tidak bisa berfungsi sama sekali."


"Kalau aku mau, aku bisa membelinya di negara kami. Banyak pedagang tangan dan kaki palsu disini."


Sarlince menyunggingkan senyuman, dia tahu arah pembicaraan Hideo.


"Apa kamu tidak ingin memiliki sebuah tangan yang memiliki fungsi sama persis seperti tangan manusia pada umumnya?"


"Apa ada yang seperti itu?"


"Bahkan kamu bisa membuat lentur jari-jarimu, lebih lentur dari jari manusia biasa. Orang-Orang bahkan tidak bisa membedakan, mana tangan palsu dan mana tangan asli."


"Kamu pasti ingin menghiburku saja, mana ada yang seperti itu."


"Itulah aku bertanya padamu, apa kamu mempercayaiku? jika kamu percaya, aku akan menunjukkannya secara nyata padamu."


"Hideo. Tidak ada ruginya mencoba, buat apa Aline menipumu?"


"Apa kamu mau menemaniku pergi?" tanya Hideo.


"Tentu saja. Mulai sekarang kemanapun kamu pergi, aku akan ikut."

__ADS_1


Hideo menyunggingkan senyumnya dan kemudian mengangguk setuju.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2