
"Sayang. Hari ini aku ingin menunjukkan segalanya padamu," ujar Sarlince.
"Ada apa?" tanya Regent
Sarlince menunjukkan semua formula obat dan cara pembuatannya. Sarlince juga menunjukkan semua senjata rahasia yang dia miliki. Sarlince juga memberitahu kode saat masuk keruangan itu.
"Untuk apa kamu memberitahukan ini semua padaku?" tanya Regent.
"Aku merasa sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Aku tidak tahu itu apa, tapi tidak salahnya waspada." Jawab Sarlince.
"Siapa saja orang yang tahu tentang semua ini?" tanya Regent
"Hanya kamu saja. Semakin sedikit yang tahu, itu malah semakin lebih baik." Jawab Sarlince.
"Kenapa?" tanya Regent.
"Jika yang Inara katakan benar, kita tidak tahu mahluk seperti apa yang akan kita hadapi nantinya. Sekarang zaman semakin canggih, bahkan orang-orang sudah bisa menciptakan manusia sesuai keinginan mereka." Jawab Sarline.
"Maksudnya apa?" tanya Regent.
"Bagaimana kalau yang kita hadapi bangsa mutan? atau sejenis manusia jadi-jadian? atau seperti mahluk halus barangkali?" tanya Sarlince.
"Aku masih tidak mengerti." Jawab Regent.
"Bagaimana kalau diantara mereka ada yang bisa merubah wujudnya jadi orang lain?" tanya Sarlince.
"Sayang. Apa itu tidak terlalu berlebihan?" tanya Regent.
"Kenapa? bukankah yang terjadi diantara kita semua memang sesuatu yang tidak masuk akal pada manusia zaman sekarang?" tanya Sarlince.
Regent tampak berpikir keras, apa yang Sarlince katakan tentu ada benarnya.
"Kita harus memikirkan semua kemungkinan yang ada, jika itu benar..."
Sarlince kemudian menceritakan dan memberitahu Regent banyak hal yang pria itu tidak ketahui. Sarlince dengan sabar mengajarkan semua ilmu yang dia miliki, karena hanya Regent orang yang bisa dia percaya saat ini.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Megumi dan Vino juga? apa kamu tidak mempercayai mereka?" tanya Regent.
"Bukan. Seperti yang aku katakan, kita tidak bisa membuat resiko. Ini tidak boleh sembarang orang harus tahu, tujuannya jelas untuk meminimalisir kalau mahluk mutan itu memang ada." Jawab Sarlince.
"Baiklah aku mengerti." ujar Regent.
Regent yang memiliki kecerdasan tidak jauh berbeda dari Sarlince tidak menemui kesulitan, saat Sarlince memberikan dia pelajaran yang berharga. Namun pikirannya juga terbagi karena dia sangat takut kehilangan Sarlince.
"Sayang. Berjanjilah kalau kamu akan baik-baik saja. Entah kenapa perasaanku jadi tidak rnak setelah mendengat ucapanmu tadi," ujar Regent.
__ADS_1
"Kenapa harus khawatir. Aku akan baik-baik saja, selama kamu juga baik-baik saja," ujar Sarlince.
"Baiklah. Sekarang kita pulang ya! kita cukupkan pelajarannya sampai disini dulu," ujar Regent.
"Emm. Aku juga sudah lelah dan mengantuk." Jawab Sarlince.
Sarlince dan Regent akhirnya pulang ke rumah. Tanpa mereka tahu, saat ini Marcus dan kelompoknya tengah menyusun sebuah rencana besar untuk penculikkan Sarlince.
*****
"Sayang. Aku berangkat ke kantor duluan ya! kamu ngantor juga kan?" tanya Regent.
"Ya. Tapi aku berangkat agak siang aja. Kenapa kamu buru-buru? apa ada meeting?" tanya Sarlince.
"Ya. Ada klien besar yang ingin membahas kerjasama kami." Jawab Regent.
"Oke. Hati-Hati ya sayang. Sepulang kerja, kita bisa langsung ketemu di labor ya!" ujar Sarlince.
"Oke." Jawab Regent sembari mencium kening Sarlince.
Sarlince mengantar Regent hingga kedepan teras. Namun sebelum benar-benar pergi, Regent kembali berbalik badan dan memeluk erat istrinya itu.
"Kamu kenapa sih. Hem? nggak biasanya begini," tanya Sarlince sembari mengusap punggung suaminya.
"Aku nggak tahu kenapa, rasanya nggak mau pergi ke kantor dan ingin seharian bersamamu dirumah." Jawab Regent.
"Ya udah. Hati-Hati ya nanti perginya?" ujar Regent.
"Iya." Jawab Sarlince.
Regent akhirnya melepaskan pelukkan itu dan pergi ke kantor. Setelah Regent pergi, Sarlincepun membersihkan diri dan pergi ke kantor juga.
"Sayang. Apa kamu sudah bersiap akan pergi ke labor?" tanya Regent.
"Ya. Ini baru mau kesana. Kamu ada dimana?" tanya Sarlince.
"Lagi OTW kesana. Ya udah sampai ketemu disana ya! hati-hati dijalan," ujar Regent.
"Ya. Kami juga," ujar Sarlince.
Sarlince kemudian menekan lift menuju loby. Wanita itu kemudian pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Jalanan tampak macet, karena saat ini memang jam pulang kerja. Namun setelah menuju arah pinggiran kota, jalan sedikit lenggang, namun disitulah orang-orang yang membuntutinya sejak tadi melancarkan aksinya.
Ssssttttt
Sarlince mengerem mobilnya, saat dua buah mobil jip memotong jalan di depannya. Dan tanpa dia sadari dua mobil dari arah belakang juga sudah mengepung dirinya.
__ADS_1
"Mau cari mati ini orang," gumam Sarlince.
Sarlince keluar dari mobil dan menantang musuhnya untuk keluar dan menghadapinya. Tentu saja tujuan orang-orang itu memang demikian, merekapun menyerang Sarlince secara bersamaan.
Hosh
Hosh
Hosh
"Ada apa denganku? kenapa tubuhku mendadak mudah lelah begini?" batin Sarlince.
"Dan perutku kenapa mendadak kram begini?" batin Sarlince.
Karena gagal fokus, Sarlincepun akhirnya berhasil di lumpuhkan dan tak sadarkan diri. Sementara itu ditempat berbeda Regent tampak gelisah, karena Sarlince tak kunjung datang. Ditambah ponsel istrinya itu juga tidak bisa di hubungi.
"Duh...kamu kemana sih? kenapa aku jadi gelisah begini? please, aku mohon kamu harus baik-baik saja sayang," gumam Regent.
Regent mondar mandir tidak karuan, dan diapun memutuskan untuk menghubungi Megumi.
"Ada apa?" tanya Megumi.
"Apa Sarlince ada di rumahmu? aku janjian denganmya di labor, tapi sampai sekarang dia nggak datang," tanya Regent.
"Nggak. Kamu sudah menghubungi orang di rumahmu? barangkali dia pulang kerumah," tanya Megumi.
"Sudah. Tapi dia nggak pulang kerumah. Aku jadi sangat khawatir sama dia. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Aku jadi bingung harus apa sekarang," ujar Regent.
"Oke. Kamu jangan panik dulu ya? nanti akan aku hubungi Marcel dan teman-teman yang lain. Mungkin Sarlince bersama mereka," ujar Megumi.
"Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu," ujar Regent.
Sementara itu ditempat berbeda, Sarlince dibawa ketempat dimana mahluk biasa tidak bisa menduga keberadaannya. Dan saat ini Sarlince masih tidak sadarkan diri. Perlahan seorang yang duduk di kursi roda dengan kulit keriput, mendekati ruangan yang dibuat sedemikian rupa.
"Kenapa dia pingsan lama sekali? apa kalian membiusnya lagi?" tanya pria berkulit keriput.
"Tidak tuanku. Bahkan dia pingsan sebelum kami membiusnya sama sekali," jawab pria yang tubuhnya nyaris dipenuhi tato.
"Lalu apa yang terjadi padanya?"
"Sebelum dia jatuh pingsan dia sempat memegang perutnya. Mungkin dia lagi haid yang nyerinya bisa membuat pingsan seseorang." Jawab Inara.
"Ganti pakaiannya dengan kain sutra! Perlakukan calon istriku dengan lembut, jangan sampai kulitnya tergores sedikitpun. Kalau dia benar sedang haid atau sakit, transfer Gen darah tidak bisa dilakukan. Apalagi kalau dia sampai hamil. Setelah dia sadar, suruh tim medis untuk mengecek kesehatannya secara menyeluruh!"
"Baik tuan." Jawab Inara dan Marcus.
__ADS_1
Pria berkursi roda itu pergi dari sana dengan senyum yang mengembang di bibirnya.