
Vino, Regent, Martin dan Chio saat ini tengah harap-harap cemas. Bagaimana tidak? saat ini Megumi tengah memasangkan wajah palsu untuk Akira. Setelah benda itu terpasang, Akira kemudian disuruh berbaring, karena Megumi akan mengaktifkan semua molekul yang ada di wajah palsu itu. Setelah memakan waktu hampir 20 menit, kegiatan itupun selesai dan Akirapun di suruh berdiri kembali.
Vino, Chio, Regent dan Martin tercengang, saat melihat Akira kini sudah berwajah sama persis seperti Regent. Bahkan sangat sulit membedakan keduanya.
"Ba-Bagaimana hasilnya? kenapa wajah kalian seperti melihat hantu begitu? jangan-jangan gagal ya? jangan-jangan wajahku seperti Zombie?" tanya Akira yang terlihat panik.
Greppp
"Sayang. Kamu berhasil! aku mencintaimu," Vino memeluk Megumi dengan penuh rasa bangga.
"Ber-Berhasil?" gumam Akira.
Akira bergegas pergi kedepan cermin besar, dan melihat wajahnya yang sama persis seperti Regent.
"Oh ya Tuhan...amazing. Apa ini sungguh nyata? bahkan kulit ini sama elastisnya dengan kulit asliku," gumam Akira sembari mencubit kulit lengannya.
Akira kemudian berbalik badan dan menatap Regent.
"Hallo kembaranku, terima kasih karena kamu sudah memberiku kesempatan menjadi pria tampan," ucap Akira yang membuat semua orang jadi terkekeh.
"Sekarang kamu bisa menikmati pernikahan palsumu, dan menggoyang Lucia pagi, siang dan malam sampai dia hamil," ujar Martin.
"Awas saja kalau merusak reputasiku diluar sana. Kamu hanya butuh urusan ranjang, jadi lakukan saja sepuasnya dengan gadis itu. Jangan pernah mencari gadis lain diluar sana," ujar Regent.
"Siap." Jawab Akira
"Ingat jangan tanyakan apapun yang membuat dia curiga. Itu biar menjadi urusanku. Hari ini aku akan menemui Lucia dan menyetujui untuk menikah dengannya. Kalian segera urus dokumen pernikahan palsunya," ujar Regent.
"Aku akan mengurus semuanya. Jadi kamu bisa pergi menemui Lucia," ujar Vino.
"Baiklah aku pergi sekarang. Dan Akira, bercerminlah seharian untuk menikmati ketampanan wajahmu itu," ujar Regent sembari tersenyum.
"Terima kasih teman. Ku akui, kamu memang sangat tampan, dan aku sangat menikmati wajah baruku ini," ujar Akira sembari terkekeh.
__ADS_1
Regent hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kemudiam pergi dari labor raksasa itu.
"Lucia. Kamu ada dimana?" tanya Regent diseberang telpon.
"Ada di kantor Re." Jawab Lucia yang tidak lagi memanggil Regent dengan sebutan atasan.
"Temui aku di kafe dekat kantor sekarang! ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ujar Regent.
"Dengan senang hati." Jawab Lucia dan kemudian mengakhiri panggilan itu.
"Heh. Aku sangat yakin kamu akan setuju menikah denganku, karena kamu sama sekali tidak punya pilihan lain. Setelah kamu menikah denganku nanti, maka aku akan membuatmu tidak berkutik. Aku akan buktikan padamu, akulah yang lebih menarik dibandingkan Sarlince. Aku akan meyakinkan dirimu, kalau kamu bukan mencintai Sarlince tapi hanya sekedar obsesi," gumam Lucia.
Lucia kemudian pergi ke toilet untuk berbenah diri. Setelah itu dia langsung pergi menemui Regent ke kafe yang sudah mereka sepakati
"Hai...sayang," Lucia menyapa Regent sembari mencium pipi kanan dan pipi kiri pria itu dan Regent terpaksa membiarkan itu terjadi.
"Jadi katakan! kenapa kamu ingin menemuiku?" tanya Lucia.
"Aku setuju menikah denganmu, sebagai tukarannya kamu harus memberitahuku dimana keberadaan Sarlince." Jawab Regent.
"Lucia. Jangan melewati batasanmu. Kalau aku menikahimu hingga kamu hamil, lalu bagaimana dengan nasib Sarlince. Dia pasti sedang ketakutan sekarang," ujar Regent.
"Hanya itu saja syarat dariku. Kalau kamu setuju oke, kalau tidak setuju ya terserah saja," ujar Lucia sembari menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Hah. Baiklah, sepertinya kamu memang menang Lucia. Karena aku sama sekali tidak punya pilihan lain. Persiapkan dirimu, aku akan mengajakmu menemui pendeta besok," ujar Regent.
"Sungguh?" tanya Lucia antusia.
"Ya. Apa kamu senang?" tanya Regent.
"Tentu saja senang. Aku akan membuktikan kalau Sarlince tidak lebih baik dariku. Aku akan membuatmu tergila-gila padaku," ujar Lucia.
"Aku jadi ingin melihat aksimu itu," ujar Regent.
__ADS_1
"Kamu akan tahu setelah pernikahan kita. Karena meski aku terlihat nakal diluar, tapi aku pastikan kalau aku masih perawan," ujar Lucia.
"Selamat Akira. Kamu akan mendapatkan gadis perawan," Regent terkekeh dalam hati.
"Kalau begitu sampai jumpa besok," ujar Regent dan kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Regent melenggang pergi dari Kafe, sementara Lucia tertawa senang karena merasa usahanya mendapatkan Regent sudah berhasil. Lucia kemudian pergi dari kafe itu, untuk mencari persiapan pernikahannya dengan Regent.
Sementara itu Regent bergegas kembali ke labor dan kembali menyusun rencana dengan teman-temannya. Dan di tempat berbeda, Sarlince saat ini tengah memikirkan sesuatu sembari menikmati rujak mangga muda.
"Aku menyuruh mereka untuk membuatkanku rujak mangga muda. Antara membuat rujak dan membeli mangga muda, seharusnya waktu yang dibutuhkan untuk bolak balik dari pasar ketempat ini membutuhkan waktu cukup lama. Minimal satu jam. Kecuali markas ini berada di dekat pasar, dan itu tidak mungkin kan? dan kemungkinan satu-satunya yang benar adalah, disekitar markas ini ada pohon mangga yang tumbuh," gumam Sarlince.
"Dan kalau itu benar, artinya tempat ini berada didekat perkebunan atau hutan. Tapi kalau itu benar, apa bangunan sebagus ini tidak menarik perhatian warga? diberita manapun aku tidak pernah mendengar ada bangunan seunik dan semegah ini. Aku bisa memastikan, kalau ini terbuat dari kristal asli. Lagian kenapa mereka membuat bangunan semegah ini ditengah kebun atau hutan? ah...aku mikir apa sih?"
"Bisa aja kan mereka beli tanah hektaran, dan membangun rumah semegah ini dan dikelilingin dengan berbagai jenis pohon mangga atau buah lainnya? sepertinya ini sulit dipecahkan," gumam Sarlince.
Sruuuppp
Pintu ruangan itu kembali terbuka. Beberapa pelayan menyediakan beberapa jenis makanan sehat, pakaian dan handuk.
"Maaf mbak apa saya boleh meminjam ponsel?" tanya Sarlince.
"Maaf Ratu. Percuma saja anda meminjam ponsel, karena disini sama sekali tidak memiliki sinyal. Kecuali di ruangan tuanku." Jawab pelayan.
"Tidak ada sinyal? mana mungkin. Ini kan di tengah kota, mana mungkin nggak ada sinyal," ujar Sarlince yang sengaja mencari informasi.
"Ini bukan di kota tapi tepatnya ditengah perkebunan." Jawab Salah seorang pelayan.
"Tutup mulutmu itu. Nanti kalau tuan tahu kami memberikan informasi yang membantunya kabur, kamu tidak akan selamat," tegur pelayan lain.
"Mana mungkin dia bisa kabur. Bahkan orang diatas bumi saja tidak tahu keberadaan tempat ini," ujar pelayan itu.
"Aku tidak mau bicara denganmu. Kamu pasti akan membuat masalah kedepannya," kedua pelayan itu tampak bertengkar dan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Sementara Sarlince tampak mencerna kata-kata yang dilontarkan pelayan itu.