SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
106. Beracun


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Sejak kejadian Mehru membantu orang melahirkan, permintaan untuk menolong orang melahirkan dan mengobati penyakit terus berdatangan ke balai pengobatan tabib Cheng. Hingga membuat Mehru dan teman-temannya yang lain sangat sulit membagi waktu antara belajar dan menangani pasien. Sehingga karena kelelahan, Mehrupun jatuh sakit.


Uhukkkkkk


Hoeeekkkk


"Mehru?"


Mata Kheiren terbelalak saat melihat Mehru muntah darah setelah meminum ramuan obat yang dia bawa.


"Khei-Kheiren...apa yang kamu berikan padaku?" Mehru terbata sembari menunjuk kearah sahabatnya.


Kepala Kheiren menggeleng panik dengan wajah yang memucat, sesaat kemudian Mehru tidak sadarkan diri.


"Mehru...Mehru..."


"Kheiren, kamu apakan Mehru? kenapa dia tidak sadarkan diri?" tanya Mesa.


"Bu-Bukan aku...aku hanya memberikan obat ramuan untuknya, tapi aku..."


"Jadi itu ramuan buatanmu sendiri?"


"Ya. Tapi aku membuatnya sesuai takaran yang diajarkan oleh suhu."


"Tidak mungkin! kamu pasti ingin meracuninya bukan?"


Kheiren tidak menggubris ucapan Mesa. Gadis itu bergegas pergi keluar untuk mencari bantuan.


Dok


Dok


Dok


"Suhu...suhu..."


Kheiren menggedor pintu kamar yang ditinggali oleh tabib Cheng.


Krekkkk


"Kheiren. ada apa? kenapa kamu gelisah begitu"


"Su-Suhu tolong Mehru, di-dia muntah darah,"


"Muntah darah? apa yang terjadi?"


Kheiren menceritakan semua apa yang terjadi hingga Mehru tiba-tiba tidak sadarkan diri.


"Ikut aku!"


Tabib Cheng bergegas pergi ketempat penyimpanan obat dan peralatan yang bisa membantu kesembuhan Mehru.


"Suhu. Apa yang terjadi?" tanya Seo.


"Mehru tidak sadarkan diri, sepertinya dia keracunan obat."


"Keracunan obat? kenapa bisa terjadi?"

__ADS_1


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Sekarang lebih baik kita langsung melihat keadaannya."


Tabib Cheng, Kheiren, dan Seo bergegas pergi menuju gubuk, dimana Mehru terbaring lemah.


Melihat Tabib Cheng, Kheiren, dan Seo memasuki gubuk itu dengan tergesa-gesa, membuat Galeo dan Mawe jadi mengikuti mereka.


Tabib Cheng segera memeriksa keadaan Mehru, dan sesuai dugaannya, Mehru memang sedang keracunan obat.


"Seo, bantu aku memegang alat ini!"


"Apa yang terjadi suhu?"


"Sesuai dugaanku, Mehru terkena racun obat, dan kita harus segera mengeluarkan racun itu dari tubuh Mehru."


Mendengar ucapan Tabib Cheng, Galeo jadi gemetar. Dia belum siap menerima kenyataan kalau Mehru akan meninggalkan dia lagi.


Tangan Tabib Cheng bergerak lincah memasangkan tiap jarum akupunture ditubuh Mehru, setelah selesai Tabib Cheng juga membuat ramuan obat yang baru untuk menetralkan kadar racun didalam tubuh Mehru.


"Suhu. Apa Mehru akan baik-baik saja?" tanya Galeo.


"Aku sedang berusaha." Jawab Tabib Cheng.


"Suhu. Tolong lakukan apa saja agar Mehru bisa selamat."


Galeo menggenggam erat tangan Mehru tak terasa pria itu menitikkan air matanya. Seo menatap kearah Galeo dengan tatapan tidak senang.


Setelah membuat ramuan obat, Tabib Cheng yang dibantu oleh Galeo langsung memberikan obat itu pada Mehru.


"Suhu. Apa Mehru akan baik-baik saja setelah meminum ramuannya?"


"Semoga saja. Apa kita memiliki susu murni?"


"Mulai besok, minta permintaan susu murni pada kepala suku. Susu murni sangat baik dalam membantu menetralkan racun dalam tubuh."


"Baik suhu."


"Suhu. Kenapa Mehru belum sadar juga?" tanya Galeo.


"Bersabarlah, tunggu obatnya bereaksi. Semoga saja pertolongan kita tidak terlambat."


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa bisa Mehru keracunan obat?"


"Kheiren yang membantu meminumkan ramuan obat, saat aku lihat Mehru sedang muntah darah." Jawab Mesa.


Galeo dan Mawe menoleh kearah Kheiren, yang wajahnya berubah jadi pias. Galeo mendekati gadis itu yang sudah gemetar ketakutan.


"Kenapa tubuhmu bergetar? apa kamu merasa sudah melakukan sebuah kesalahan?"


Kheiren menggeleng dengan cepat, secepat air matanya yang sudah terjun berbas.


"Katakan! Apa kamu berniat ingin membunuh Mehru? apa kamu yang sudah membuat ramuan obat itu?" tanya Galeo."


"Memang aku yang membuat, tapi aku..."


Uhukkk


Uhukkk


Kata-Kata Kheiren terhenti, saat tangan Galeo sudah mencekik lehernya dengan penuh kemarahan.


Pakkkk

__ADS_1


Pakkk


Mawe memukul tangan Galeo dan mendorong pria itu dengan kasar.


"Apa kau sudah tidak waras? apa yang kau lakukan? kau ingin membunuhnya?"


"Aku memang ingin membunuhnya karena dia berniat ingin membunuh Mehru."


"Terlalu cepat kamu menyimpulkan kalau Kheiren adalah pelakunya. Kheiren sahabat mehru sejak kecil, bagaimana mungkin dia ingin mencelakai Mehru?"


"Mungkin saja dia iri, karena Mehru memiliki bakat yang luar biasa."


"Kenapa harus Kheiren yang memiliki rasa iri untuk sahabatnya sendiri? ada banyak murid disini yang lebih memungkinkan melakukan hal keji ini."


"Tapi dia sendiri yang mengatakan, kalau dia yang meramu obatnya."


"Itu belum membuktikan apapun. Aku tidak suka kamu menyakitinya, sebelum kita selediki siapa pelaku sebenarnya."


"Sudah cukup!" tabib Cheng terpaksa menghentikan perdebatan sengit itu.


Galeo dan Mawe terdiam seketika saat Tanib Cheng mengeraskan suara.


"Kheiren, kapan kamu membuat ramuan obat itu?"


"Tadi siang Suhu."


"Apa waktu itu semua murid masih ada dibalai pengobatan? dan apa ramuan yang kamu buat sesuai takaran yang aku ajarkan?"


"Iya suhu. Aku membuatnya sesuai yang suhu ajarkan. Dan memang waktu itu semua murid masih ada dibalai pengobatan."


"Apa setelah selesai membuatnya, kamu sempat meninggalkannya sebelum memberikannya pada Mehru?"


Kheiren terdiam, gadis itu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Tiba-Tiba dia teringat satu kejadian yang menurutnya sangat mencurigakan.


"Aku ingat, aku memang tidak sengaja meninggalkan ramuan itu sejenak. Saat itu tiba-tiba saja ada suara batu yang terlempar dijendela. Aku kemudian keluar untuk memastikan keberadaan asal suara, karena takut ada seorang pencuri yang masuk."


"Hemm...ada kemungkinan hal ini memang disengaja. Kheiren, suhu percaya padamu kalau kamu tidak mungkin melakukan hal itu pada sahabatmu. Tapi bukan berarti kamu lepas begitu saja dari semua tuduhan. Kalau kamu memang merasa tidak melakukan hal itu, kamu harus berusaha keras untuk mencari pelaku sebenarnya."


"Suhu. Mehru adalah sahabatku sejak kecil, bahkan bisa dibilang sejak dalam perut ibu kami masing-masing. Aku pasti akan menemukan pelakunya, aku yakin yang melakukan ini punya maksud tertentu dan sengaja ingin menjatuhkanku dengan cara mengadu domba antara aku dan Mehru atau dengan teman yang lainnya."


"Mehru sudah seperti saudara bagiku, dimana ada dia, disitu pasti ada aku. Aku tidak perlu merasa iri padanya, karena aku tahu sebelum kalian tahu. Dia memang memiliki bakat yang luar biasa. Dan aku orang pertama yang menyaksikan bakatnya itu setelah kedua orang tuanya."


Galeo tertunduk, dia merasa tersentil atas ucapan Kheiren.


"Khei, aku..."


"Tidak apa. Aku bisa memaklumi jika semua orang disini menyalahkan aku, karena aku yang membuat ramuan itu."


"Aku minta maaf padamu, karena panik aku jadi hilang kendali dan tidak bisa berfikiran jernih."


"Tidak apa. Aku pasti akan menangkap basah pelaku keji itu. Aku tidak tahu apa tujuan dia, tapi mengingat Mehru akhir-akhir ini sangat menonjol dari murid yang lain, aku jadi setuju jika ada orang yang iri padanya."


"Aku akan membantumu menemukan pelakunya," ujar Mawe.


"Aku juga," timpal Galeo.


"Terima kasih."


Kheiren mengurai senyum dibibirnya, dan sesaat kemudian dia menatap kearah Mehru yang masih lemah tak berdaya.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤭🙏

__ADS_1


__ADS_2