SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
94. Desa Karang Sunyi


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Whusssssh


Tap


Whussssh


Tap


Grokkkk


Mehru yang sudah sembuh bergerak lincah saat memanah seekor babi gemuk. Ini merupakan hari ke 4 perjalanan mereka menuju desa seberang. Mata Mawe berbinar saat melihat seekor babi gemuk yang bertengger diatas kuda Mehru.


"Aku sudah menepati janjiku padamu, kamu ingin memakan seekor babi gemuk bukan?" ucap Mehru.


"Bagaimana bisa kamu menanggapi gurauanku terlalu serius begitu," ujar Mawe.


"Oh...Mawe bilang tidak mau memakan babinya, dia menyerahkan semua dagingnya untuk kita santap, sementara tulangnya untuk dia," ucap Galeo.


"Enak saja. Kalau kita membawa belanga, tentu saja aku bisa membuat sup tulang babi. Tapi keadaan yang memaksaku harus ikut menyantap daging babi bersama kalian," ucap Mawe.


Galeo hanya mencebikkan bibirnya, sementara Kheiren dan Mehru terkekeh mendengar perdebatan keduanya.


"Jadi sepertinya kita cuma bisa membuat babi ini menjadi daging asap," ucap Mehru.


"Mau bagaimana lagi. Kalau ada bibi Saguni, pasti dia akan membuat gulai lezat, apalagi saus darah babi yang dibuat bibi Saguni sangat lezat dan gurih," timpal Kheiren


Hati Mehru sedikit berdenyut saat mendengar nama ibunya disebut. Walau bagaimanapun ini kali pertama dia terpisahkan dengan kedua orang tuanya. Mehru bahkan masih mengingat dengan jelas, bagaimana air mata ibunya berderai saat melepas kepergiannya untuk berburu ilmu didesa seberang.


"Kamu merindukan ibumu?" tanya Galeo seolah mengerti kegelisahan hati Mehru.


Mehru hanya menganggukkan kepalanya, sembari tangannya tetap membersihkan isi perut babi untuk mereka panggang.


"Bersabarlah, kita akan cepat kembali setelah mendapat banyak ilmu disana."


"Emm." Mehru mengangguk.


"Mehru, maaf sudah mengingatkanmu tentang bibi Saguni,"


"Tidak apa-apa. Ini hal yang wajar, ini kali pertama kita berpisah dengan orang tua kita bukan?"


"Emm. Aku jadi tiba-tiba mengingat ibuku juga," Kheiren tertunduk sedih.


"Sudahlah, perjalanan kita masih sangat panjang, kalau kita selalu larut dalam kesedihan, bagaimana kita akan menyerap ilmunya dengan mudah," ucap Mawe.


"Iya Mawe benar. Jadi sebaiknya kita cepat memanggang babinya. Setelah kita santap, kita akan kembali melanjutkan perjalanan kita," ucap Galeo.


Mehru dan Kheiren bergegas membersihkan Babinya, sementara Galeo dan Mawe membuat api untuk memanggang babi itu.


Setelah matang, merekapun menyantap daging itu. Sisanya mereka akan membawanya untuk bekal perjalanan.


Drappp


Drappp

__ADS_1


Drappp


Suara derap langkah kuda yang berlari memecah kesunyian hutan. Berhari-Hari menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka menemukan tanda-tanda adanya sebuah desa. Mereka bisa menyimpulkan itu, karena tidak jauh dari perjalanan merek di hari ke 7, mereka bertemu dengan seorang warga yang sedang mencari kayu di hutan.


"Gale. Apa kamu tahu nama desa yang akan kita datangi?" tanya Mehru.


"Namanya desa karang sunyi."


"Desa karang sunyi? kenapa terdengar menyeramkan?"


Galeo terkekeh saat mendengar tanggapan dari Mehru.


"Itu hanya namanya saja. Bahkan penduduk disana lebih ramai dari desa kita."


"Benarkah?"


"Ya. Disana bahkan sudah mendirikan sebuah pasar rakyat sederhana. Mereka menjual apapun yang bisa dijual untuk keperluan rakyat."


"Pasti menyenangkan. Mereka bisa membeli apapun dengan hasil kerja keras mereka. Tidak seperti desa kita yang masih jauh tertinggal, hanya pedagang datangan yang menjual barang seadanya. Itulah sebabnya meski mendapatkan uang dari menjual hasil hutan, mereka hanya bisa menumpuk uang itu dibuntelan."


"Kamu bisa menghabiskan isi buntelanmu disana kalau begitu," ujar Galeo terkekeh.


"Tentu saja. Aku ingin membelikan kain terbaik untuk ibu dan Baba."


"Anak baik," ucap Galeo.


"Lalu apalagi yang kamu tahu tentang Desa karang sunyi?"


"Kudengar gadis dan pemuda disana sangat cantik dan tampan,"


"Kalau begitu Matamu bisa jernih disana,"


"Siapa? gadismu yang hilang itu?"


Galeo tidak menjawab pertanyaan Mehru karena dia memang tidak bisa menjawabnya.


"Baiklah jangan bersedih, bukankah disana banyak gadis yang cantik? kamu bisa mencarinya satu untukmu,"


Galeo hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Mehru.


"Lau ceritakan lagi apa saja yang ada didesa itu?" tanya mehru.


Galeo menceritakan banyak hal yang dia ketahui tentang desa karang sunyi, hingga Galeo tidak mendengar apapun lagi dari mulut Mehru. Galeo melihat Mehru kembali tertidur pulas, dengan keberaniannya Galeo mencium puncak kepala Mehru, gadis yang diam-diam sudah mencuri hatinya itu.


Mehru menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal karena terlalu lama menunggang kuda. Saat merenggangkan tubuhnya, tidak sengaja pandangannya beradu dengan Galeo. Galeo hanya menerbitkan senyumnya saat melihat Mehru yang sama sekali tidak canggung terhadap dirinya.


"Apa perjalanan kita masih sangat jauh?"


"Aku rasa tidak, tadi aku sempat melihat sebuah tugu peringatan."


"Bukankah itu artinya kita sudah memasuki wilayah pedesaan?"


"Sepertinya begitu."


Tidak lama kemudian, mereka melihat ada beberapa warga yang berlalu lalang sembari memanggul sesuatu dipundak mereka.


"Sepertinya ini adalah pasar rakyat yang kamu maksud tadi," ujar Mehru.

__ADS_1


"Sepertinya begitu."


"Aku ingin turun dari kuda. Ayo kita cari makanan enak,"


"Tentu saja."


Galeo menghentikan kudanya, dan menambangnya ditempat penitipan kuda , begitu juga dengan Mawe dan Kheiren.


"Apa ini semacam pasar rakyat?" tanya Kheiren.


"Ya. Kamu bisa membeli apapun disini, tapi ingat jangan menghabiskan semua uangmu disini. Kita masih akan lama tinggal disini,"


"Kamu tenang saja. Mehru gadis yang bisa diandalkan. Bahkan dia bisa menghasilkan uang tanpa susah payah bekerja."


"Apa maksudmu? apa dia seorang pencuri ulung?"


"Kecilkan suaramu? bagaimana kamu bisa mengatakan hal yang memalukan itu? Mehru gadis yang jujur, dia tidak pernah mencuri sesuatu yang bukan miliknya meskipun dia menemukan uang perak ditengah jalan."


"Lalu maksudmu apa menghasilkan uang tanpa bekerja?"


"Lihat saja nanti," ujar Kheiren.


Mehru, Galeo, Kheiren dan Mawe memasuki sebuah rumah makan yang menyediakan berbagai macam santapan lezat.


"Ah...akhirnya kita bisa memakan apapun yang lezat disini. Kebanyakan memakan daging pangang tanpa rasa, membuat perutku sedikit mual," ujar Kheiren.


Mereka pun memesan berbagai macam makanan lezat hingga perut mereka terasa kenyang. Sementara itu disudut meja yang lain, ada beberapa pemuda yang menatap kearah mereka.


"Sepertinya mereka warga pendatang yang kelebihan banyak uang," Papao.


"Orang-Orang polos yang belum mengerti dunia luar," timpal Gumo.


"Dan bisa dimanfaatkan sesuka hati," ujar Puna.


"Kamu lihat gadis itu Puna, gadis dengan kain pengikat kepala berwarna merah. Bukankah dia sangat manis meskipun kulitnya sedikit berwarna coklat," timpal Suli.


"Ya. Aku melihatnya, bahkan aku sudah memperhatikannya sejak pertama kali masuk." Jawab Puna.


"Sepertinya para gadis yang menaiki ranjangmu akan sakit hati setelah ini," ejek Papao.


"Kamu terlalu berlebihan. Bahkan aku tidak pernah menggunakan gadis yang sama setelah puas tidur dengannya," ucap Puna.


"Dasar bajingan," timpal Gumo sembari meninju pelan bahu sahabatnya itu.


"Bukan salahku karena aku terlahir terlalu tampan dan gagah. Siapa gadis yang tidak terpikat saat melihatku," ujar Puna.


"Apa kita mau taruhan lagi kali ini?" tanya Gumo.


"Apa taruhannya kali ini?" Tanya Papao.


"Kalau Puna berhasil mendapatkan gadis itu dan berhasil menidurinya, kita akan memberikan benda kesayangan kita untuk dia. Bagaimana?"


"Lalu bagaimana kalau Puna tidak berhasil?"


"Maka apapun barang kesayangannya akan kita ambil,"


"Sepakat." Puna menyanggupi karena dia yakin bisa menaklukkan Mehru.

__ADS_1


Setelah bersantap, Mehru dan teman-temannya mencari sebuh penginapan karena hari sudah beranjak malam. Terlebih mereka harus beristirahat, sebelum menemukan sekolah tempat tabib itu membagikan ilmunya.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2