
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Yama. Apa kamu punya keluarga atau teman yang mempunyai usaha restaurant atau semacamnya?" tanya Hideo.
Yama tampak berpikir dan mengingat-ingat.
"Sebenarnya bukan dibilang teman atau keluarga juga bos. Tapi ada salah seorang langganan kita yang mempunyai usaha restaurant."
"Langganan yang mana?"
"Obat. Tapi dia juga pernah membeli sebuah senjata api dari kita,"
"Apa kamu bisa mengatur sesuatu untukku?"
"Katakan! apa yang bisa aku bantu untukmu,"
"Aku sudah berjanji pada nenekku untuk membawanya ke restaurant tempatku bekerja pekan depan. Bisakah kamu menyewa restaurant itu untukku? tidak lama, aku hanya butuh sekitar 1 sampai 2 jam saja untuk meyakinkan nenekku."
"Jadi...."
"Ya. Selama ini aku mengaku cuma sebagai pelayan disalah satu restaurant. Mana mungkin aku membiarkan dia tahu kalau cucunya seorang mafia, juga penjual obat dan senjata ilegal."
"Saya mengerti bos. Bos tenang saja, saya pastikan semuanya sesuai dengan keinginan bos."
"Satu lagi, kamu harus berpura-pura jadi bosku saat di restaurant nanti."
"Aku?"
"Ya. Aku sudah terlanjur mengatakan pada nenekku, kalau wajah bosku sangat sangar dan juga sangat galak. Hanya kamu yang cocok memerankan peran itu,"
Yama terdiam, dan terpaksa menerima apa yang Hideo katakan. Entah dia harus senang atau marah mendengar pujian sekaligus kata hinaan itu.
"Kapan barang baru masuk lagi?" tanya Hideo.
"Tiga hari lagi,"
"Obat?"
"Akan datang dihari yang sama."
"Seperti biasa, berhati-hatilah dan waspada. Jangan ceroboh,"
"Baik Bos."
"Aku dengar ada yang pesan senjata dalam jumlah besar dari negara I?"
"Benar bos."
"Apa mereka kelompok mafia besar disana?"
"Mungkin saja, tapi sepertinya cenderung seperti sebuah Organisasi terselubung."
"Tidak penting siapa mereka, yang penting usaha kita lancar. Setelah barang dikirim, jangan lupa untuk memesan barang itu kembali."
"Baik Bos."
Hideo kembali meninggalkan markas dan bermaksud pulang kerumahnya. Namun sebelum pulang, Hideo mampir ke salah satu toko kue langganannya karena ingin membelikan kue kesukaan neneknya.
"Bukankah dia gadis yang waktu itu?"
__ADS_1
Hideo melihat Sarlince memilih beberapa kue yang dia sukai. Sarlince juga tampak memesan kopi dan duduk disalah satu meja sembari menikmati kue yang dia beli.
"Gadis yang cantik dan menarik, tapi sayang sepertinya dia wanita simpanan pria hidung belang."
Hideo mengeluarkan selembar uang dan perlahan mendekat kearah meja yang diduduki oleh Sarlince.
Plakkkk
Hideo meletakkan selembar uang itu dengan telapak tangannya yang mengandas dimeja. Sarlince yang sedikit terkejut, mendongakkan kepalanya untuk memastikan siapa pemilik tangan itu.
Sarlince mengerutkan dahinya karena merasa tidak mengenal pria yang berada dihadapannya.
"Ini uang untuk membayar minuman waktu itu,"
Mendengar itu, Sarlince baru mengingat sosok didepannya itu.
"Tidak perlu. Aku ikhlas membelikannya untukmu," ujar Sarlince sembari menyeruput kopinya.
"Ambil saja, aku tidak mau berhutang budi pada siapapun."
"Kalau begitu aku tidak memiliki uang kembaliannya. Harga minuman itu hanya seharga 200 Yen, sementara uangmu 1000 Yen."
"Aku tidak butuh kembaliannya, ambil saja untukmu."
Hideo berbalik badan dan bermaksud ingin pergi dari situ. Namun langkahnya terhenti saat Sarlince berkata dengan lantang.
"Tapi aku juga bukan tipe orang yang suka berhutang budi pada orang lain, ataupun seorang pengemis. Jadi sebaiknya anda berikan jumlah uang yang pas dan segera pergi dengan sisa uang anda."
"Kenapa harus meributkan uang kembalian 800 Yen? tinggal ambil saja apa susahnya?"
"Bukankah seharusnya aku yang berkata demikian? kenapa anda begitu ribut dengan minuman seharga 200 Yen? sementara jumlah uang anda jauh lebih besar dari uang saya?"
Sarlince hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah pemuda yang menurutnya sangat aneh itu.
*****
"Apa ini restaurant tempatmu bekerja?" Azuzi tampak melihat-lihat suasana Restauran yang begitu besar dan bersih.
"Ya. Sekarang nenek sudah melihat tempatku bekerja, jadi nenek jangan ribut-ribut lagi tentang masalah ini."
"Kenapa Restaurantnya sepi sekali? bukankah ini sudah waktunya makan siang? kamu bekerja hingga larut malam, kalau melihat sepi begini sepertinya kamu tidak terlalu sesibuk itu kan?"
"Sial, seharusnya aku menyuruh Yama untuk mencari pembeli sewaan. Ini benar-benar terlalu sepi untuk sebuah Restaurant besar."
"Mungkin sebentar lagi akan ada pengunjung, disini ramainya memang saat akan menjelang malam,"
"Benarkah?"
"Ya."
"Kalau begitu nenek ingin bertemu dengan bosmu."
"Untuk apa? nenek jangan membuat masalah untukku,"
"Masalah apanya? nenek cuma ingin melihat rupanya saja."
"Baiklah. Nenek tunggu sebentar disini, aku ingin bicara dengan bosku dulu."
"Ya pergilah,"
Hideo pergi kebelakang untuk menemui Yama yang sejak tadi menunggu perintah. Pria berwajah seram itu keluar dari persembunyiannya untuk memerankan perannya dengan baik.
__ADS_1
"Jadi kamu adalah bos cucuku?"
"Ya Nyonya. Apa ada yang ingin anda makan siang ini? biar nanti pelayan kami siapkan."
"Ya, aku ingin makan menu terbaik disini. Oh ya, bagaimana kerja cucuku selama disini? apa dia bekerja dengan baik?"
"Ya. Dia sangat rajin dan juga disiplin,"
"Itu bagus. Jadi jangan pernah pecat cucuku ya? kamu akan sulit mendapatkan pegawai seperti dia."
"Tentu nyonya."
"Ternyata kamu sangat baik, meskipun wajahmu sedikit sangar dan seram, tapi kamu juga sangat ramah. Akan lebih baik wajahmu lebih banyak tersenyum lagi, pasti restauranmu akan sangat ramai."
"Terima kasih atas masukkannya nyonya."
"Ternyata kepandaian meninggikan dan menjatuhkan seseorang berasal dari sang nenek, pantas saja," batin Yama.
"Ya sudah, hidangkan makanannya segera untukku,"
"Baik Nyonya. Silahkan tunggu sebentar,"
"Emm." Azizu mengangguk.
"Bagaimana dengan akting saya? apa sudah cukup bagus bos?"
"Ya lumayan. Kamu akan mendapatkan bonus nanti,"
"Terima kasih Bos."
"Sekarang hidangkan makanan yang dia mau,"
"Baik bos."
Para koki restaurant mulai sibuk membuat menu yang diinginkan oleh Azizu. Hideo cukup lega karena dia sudah mewujudkan keinginan sang nenek, meskipun harus berbohong.
"Bagaimana? enak?"
"Emm. Sangat lezat, jangan lupa bungkus untuk dirumah."
"Nenek tenang saja. Bosku bilang, nenek bisa makan sepuasnya dan juga bawa pulang, semuanya akan di gratiskan."
"Sungguh?"
"Tentu saja."
"Apa nenek bilang, kamu mengatakan nenek buat masalah, tapi kenyataannya bosmu menyukai nenek, bahkan memberikan makanan gratis untuk kita."
"Nenek memang yang terbaik,"
"Ayo cepat habiskan makanannya, kapan lagi bisa makan gratis."
"Baiklah, habiskan sepuas nenek."
Azizu makan dengan begitu lahap, Hideo tersenyum melihat kebahagiaan diwajah sang nenek. Hideo dan Azizu sesekali saling menyuapi satu sama lain.
Yama menatap pemandangan itu dari kejauhan, dia tidak menyangka Hideo yang terkenal bengis dan tanpa ampun bisa mempunyai sisi hangat saat bersama keluarganya. Yama jadi teringat akan istri dan seorang anak semata wayangnya yang sudah lama dia tinggalkan dikampung halaman.
Melihat pemandangan itu hatinya terketuk, sejauh-jauhnya dia pergi dan berlari, hanya dengan keluarga tempat ternyaman untuk berbenah diri.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1