
Tinggalkan Like, Komen dan Vote🤗🙏
*****
"Bagaimana? apa kamu sudah melihat videonya? kalau kamu tidak ingin kekasihmu dinodai secara beramai-ramai, atau nenekmu mati terbunuh, datanglah kesini tanpa membawa orang-orangmu."
"Lepaskan mereka brengksek!" hardik Hideo.
"Permintaanku cukup sederhana, aku ingin kamu menyerahkan tampuk kekuasaanmu di dunia bawah tanah untukku, kemudian kamu dan keluargamu menghilang dari kota ini. itu bukan permintaan sulit bukan?"
"Aku akan menghabisimu kalau sampai kamu berani menyakiti mereka,"
"Itu tergantung apa pilihanmu, kalau kamu ingin mereka selamat, datanglah kesini sendirian dan tanpa senjata apapun."
"Aku akan datang,"
Hideo mengakhiri panggilan itu secara sepihak dan ingin pergi terburu-buru."
"Bos. Jangan gegabah," ujar Yama.
"Tidak ada pilihan lain, nenek adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini. Dan Yayoi, gadis itu harus terlibat. Yama, dengarkan aku,"
Hideo mencengkram bahu pria bertubuh kekar itu.
"Sudah barang tentu saat aku kesana akan terjadi sesuatu denganku. Aku serahkan markas ini padamu, kamu harus bisa memimpin kelompok kita selanjutnya. Kamu sudah tahu semua cara kerja kita, jika aku mati nanti, jangan biarkan mereka merebut jerih payah kita dengan mudah. Apa kamu mengerti?"
"Tapi Bos...."
"Aku tidak punya banyak waktu lagi, aku pergi."
Hideo segera berlari keluar markas, namun gerak gerik yang tidak biasa itu tertangkap oleh Regent dan Sarlince yang baru tiba disana.
"Bos...." teriak Yama yang tak mampu lagi mengejar Hideo yang terlanjur memasuki mobil dan melesak pergi.
"Ada apa?" tanya Sarlince.
Yama kemudian menceritakan dengan singkat apa yang sudah terjadi sebenarnya. Mendengar itu Sarlince tidak mau tinggal diam.
"Bawa beberapa senjata dan orang-orang kalian. Kita akan menyusul Hideo."
"Tapi Hideo tidak mengizinkan kami mengikutinya," ujar Yama.
"Tujuan mereka hanya satu, yaitu nyawa Hideo. Kita kesana ataupun tidak, Hideo,nenek dan Yayoi pasti akan mati juga."
"Aku mengerti," ujar Yama yang kemudian masuk kemarkas dengan tergesa-gesa.
"Aline. Bolehkah kami ikut bersamamu?" tanya Martin.
Martin dan teman-temannya yang tidak sengaja mendengar Yayoi tertangkap, ingin ikut berjuang bersama.
"Tentu."
"Sayang. Apa kita perlu ikut campur urusan mereka?"
"Re. Kita melakukannya berdasarkan kemanusiaan. Apa kamu ingin kita diam saja, saat melihat ada orang yang ingin dibinasakan didepan matamu?"
"Tapi aku khawatir dengan keselamatanmu,"
Sarlince menyunggingkan senyum dan meraih sisi wajah suaminya.
"Sayang. Dengarkan aku! sudah berapa kali kita menghadapi kematian kemudian bangkit kembali? apa kamu percaya, apapun yang terjadi pada kita pasti memiliki sebuah alasan. Kali ini kita dituntun untuk bertemu dengan situasi seperti ini, apa kita harus menjadi seorang pengecut? bagaimana kalau yang mengalami ini semua adalah keluarga kita."
__ADS_1
Regent menyunggingkan senyumnya dan mengangguk setuju. Tidak berapa lama kemudian, Yama dan beberapa pria bertubuh besar keluar dengan membawa berbagai jenis senjata.
Dengan kecepatan penuh mereka mengejar mobil Hideo, agar tidak ketinggalan jauh. Tidak butuh waktu yang lama bagi Hideo untuk tiba di markas Harimau putih, yang pemimpinnya merupakan salah satu mantan sahabatnya
"Bos. Hideo sudah datang," ujar salah seorang anak buah Akashi."
"Apa dia datang sendiri?"
"Ya."
"Periksa dengan detail, jangan sampai dia membawa senjata apapun kemari."
"Ya."
Sementara itu Hideo yang sedang berada didepan pintu utama markas, sedang diperiksa secara detail oleh beberapa pria bertubuh besar dan bertato.
"Bawa dia masuk!" perintah salah seorang pria bertato yang sudah yakin Hideo tidak memiliki apapun ditubuhnya.
Tap
Tap
Tap
Hideo memasuki ruangan khusus yang sudah ada Akashi, Azuzi dan Yayoi.
"Hideo," seru Azuzi saat melihat sang cucu masuk kedalam ruangan yang sama dengan dirinya.
Mata Hideo berkaca-kaca saat melihat Azuzi yang sudah tua renta diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh mantan sabahatnya itu.
"Bagaimana bisa kamu melakukan ini pada orang tua yang bahkan berdiripun sudah tidak tegap lagi? apa nuranimu itu sudah mati Aksahi? apa kamu lupa saat datang kerumah, siapa orang yang suka menyuguhkanmu makanan dan teh buatan tangannya sendiri?" hardik Hideo.
Mendengar itu Akashi terkekeh, baginya ambisi adalah segalanya. Dia igin menjadi orang kaya dan sekaligus orang hebat dalam waktu singkat.
"Sekarang kamu boleh melepaskan nenek dan juga Yayoi. Mereka tidak ada hubungannya dengan hal ini. Sekarang aku sudah ada dihadapanmu, kamu boleh melakukan apapun padaku, tapi lepaskan mereka."
Akashi tertawa keras, hingga tubuh pria itu berguncang hebat.
"Hideo. Seharusnya kamu bersyukur bisa mati berkumpul bersama nenekmu dan juga kekasihmu ini. Kenapa aku harus melepaskan mereka? bukankah akan jauh lebih indah kalau kalian mati bersama?"
"Heh...seharusnya aku sudah tahu sejak awal, iblis sepertimu tidak akan pernah menepati janji."
"Akashi. Sadarlah, ingatlah masa-masa kalian bersama? jangan hanya karena urusan dunia, kalian melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah kalian lalui selama ini," ujar Akashi.
"Aku tidak perduli tentang itu semua, nenek juga sudah tua, tidak masalah mati sekarang kan?"
"Akashi!!!" Hideo yang emosi berteriak dengan begitu keras.
"Katakan! kalian ingin mati dengan cara apa?" tanya Akashi.
Hideo menghela nafas, perlahan pria itu berjalan mendekati Azuzi dan berlutut didepan wanita renta itu.
"Maaf, maaf selalu mengecewakan nenek dan tidak pernah mendengarkan apa yang nenek inginkan selama ini. Kalau ada kesempatan hidup sekali lagi, aku ingin menikah dan memberikan cicit untuk nenek. Maaf,"
Air mata Hideo sudah membasahi wajahnya, untuk pertama kalinya bagi Yayoi melihat pria yang begitu ganas dan jarang tersenyum itu mengeluarkan air mata yang sangat tulus dan membuat hati Yayoi tersentuh.
Melihat situasi haru itu, Yayoi dan Azuzi tidak tahan untuk tidak ikut menangis. Hideo kemudian menoleh kearah Yayoi dan mendekati gadis itu.
"Yoi. Aku minta maaf padamu, seharusnya aku tidak melibatkanmu dalam hal ini. Kamu masih sangat muda, tapi kamu harus ikut dalam bahaya seperti ini."
"Hideo. Kalau kita diberi kesempatan hidup, maukah kau menikahiku?"
__ADS_1
Mendengar itu Hideo tertegun. Sungguh diluar dugaannya, Yayoi mengajaknya berkomitment. Tanpa berkata apa-apa, Hideo memeluk gadis itu dengan erat.
Sreetttttttt
Srettttt
Sreeetttt
Dengan gerakan tak terduga Hideo mengendorkan tali ikatan yang mengikat kedua tangan Yayoi. Yayoi mengerutkan dahinya dan menatap Hideo dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
BOOM
Suara ledakan tiba-tiba terdengar dari arah depan markas. Mendengar itu Akashi sangat murka dan mengira Hideo telah menipunya.
"Kamu berani membohongiku?" hardik Akashi yang sudah menodongkan sebuah pistol ke arah Hideo.
"Apa maksudmu berbohong?"
"Apa kamu pikir aku bodoh? itu pasti ulah orang-orangmu bukan?"
"Aku tidak membawa orang-orangku, aku datang sendiri kesini."
"Bedebah! seharusnya aku tidak perlu bicara panjang lebar denganmu. Harusnya aku menghabisi kalian sejak tadi."
"Bos. Orang-Orang dari naga hitam menyerang kita," lapor salah seorang anak buah Akashi.
"Kalian urus mereka, habisi semuanya."
"Baik Bos."
"Kalau kau memang jantan, hadapi aku dengan tangan kosong," ujar Hideo.
"Tidak masalah," Akashi meletakkan pistolnya.
Hiaaaatttttt
Hideo dan Akasihi terlibat pertarungan sengit. Awal mulanya pertarungan itu tampak seimbang, lalu kemudian Hideo berhasil memberikan pukulan bertubi-tubi pada Akashi.
"Apa yang kalian lihat? habisi nenek si bangsat ini!"
Seorang pria bertubuh tegap menarik sebuah kursi dan bermaksud menghantamkan benda itu pada Azuzi. Namun dengan gerakkan cepat, Yayoi menjadikan dirinya sebagai tameng, hingga kursi kayu itu hancur ditubuh gadis itu.
"Yoi!" teriak Azuzi dan Hideo bersamaan.
Uhuukkk
Uhukkk
Yayoi terbatuk dan merasakan dadanya sedikit merasa sesak. Tali yang sudah terlepas dari tangannya dia singkirkan perlahan, sementara Hideo lagi-lagi terlibat pertarungan sengit dengan Akashi.
Pria bertubuh tegap itu lagi-lagi mendekati Azuzi dan bermaksud ingin membunuh wanita renta itu. Yayoi dengan sisa tenagannya, kembali bangkit dan menghadang pria itu.
"Menyingkirkah, ada masanya sendiri giliranmu!" hardik pria itu pada Yayoi.
"Dasar pria sampah! beraninya dengan wanita yang tak berdaya. Aku akan menunjukkanmu jalan menuju neraka," ujar Yayoi.
Pria itu begitu emosi mendengar ucapan Yahoi, dia langsung menyerang Yayoi dan terlibat perkelahian sengit pula. Karena merasa kalah, pria itu mengeluarkan sebuah pistol dan menembakkan sebuah peluruh kearah Azuzi.
Door
Lagi-Lagi peluru itu Yayoi hadang dan mengenai bahu gadis itu. Tubuh kecil itu ambruk dilantai, kesadarannya mulai menurun saat Hideo berteriak dan menghampiri tubuhnya yang bersimbah darah.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏