SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
96. Perkenalan Murid


__ADS_3

Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏


"Terima kasih Seo," ucap Galeo setelah pemuda itu mengantarkan mereka.


"Emm." Seo mengangguk.


"Kalian bisa menggunakan gubuk berbeda, untuk bagian pria sebelah sana dan bagian wanita disebelah sana," Seo menunjuk arah sisi kanan dan kiri dari tempatnya berdiri.


"Emm." Galeo dan teman-temannya mengangguk.


"Siapa nama kalian? kita belum sempat menanyakan nama satu sama lain," tanya Seo.


"Namaku Galeo, dan ini Mawe. Itu mehru, dan disebelahnya Kheiren."


"Mehru? apa kamu sakit? wajahmu sedikit pucat," tanya Seo.


Mendengar pria itu memanggilnya, tubuh Mehru bertambah tegang. Bayangan masa lalu yang menyakiti hatinya membuat tubuhnya jadi bergetar.


"Dia memang sedikit kurang sehat. Itulah sebabnya dia butuh segera istirahat."


"Bolehkah aku memeriksamu? aku akan memberikan obat yang cocok untukmu," tanya seo.


"Ti-Tidak usah. Aku hanya butuh istirahat saja, mungkin karena perjalanan jauh, jadi aku sedikit lelah." Jawab Mehru.


"Baiklah. Kalau begitu beristirahatlah,"


"Terima kasih," ujar Mehru.


"Kalian bisa menggunakan dapur umum yang ada disana, jika ingin memasak sesuatu disana. Setiap hari akan ada orang yang mengantar bahan makanan kemari. Itu memang disediakan oleh kepala suku agar sekolah tabib ini bisa terus berjalan demi kemajuan desa."


"Baiklah." ujar Galeo.


"Aku undur diri dulu,"


"Emm." Galeo mengangguk.


Galeo melirik kearah Mehru yang terlihat lega saat melihat kepergian Seo.


"Mehru. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Galeo.


"Ya aku baik. Aku ingin istirahat saja,"


"Ya. Kami juga." Jawab Galeo.


Mehru dan Kheiren segera memasuki tempat tinggal mereka. Mehru tampak duduk disebuah kursi sembari merenung.


"Aku tahu apa yang kamu fikirkan, wajahnya memang sama, tapi apa dikehidupan ini dia juga akan bersamamu?"


"Apa ada sebuah kebetulan seperti ini Khei? kenapa wajahnya sama persis. Melihat dia, bayangan masa lalu berkali-kali melintas dipelupuk mataku."


"Mungkin dikehidupan ini dia akan menebus kesalahannya dimasa lalu."


"Dia pasti tidak kenal kita. Kalau dia mengingat semuanya, tentu sikapnya tidak akan seperti itu."


"Ya sudah. Sebaiknya lupakan saja pria itu, terlebih dikehidupan ini dia sudah menjadi orang baik dengan mengabdikan diri menjadi seorang tabib desa. Itu artinya para leluhur sudah memberikan pelajaran penting untuk dia."


"Benar juga. Setiap perbuatan pasti akan ada balasan. Mungkin dikehidupan sebelumnya dia sudah dihukum cukup keras, sehingga dikehidupan ini dia sudah menjadi orang baik."

__ADS_1


"Semoga saja benar," timpal kheiren.


"Ah...aku sangat lelah. Berhari-Hari menunggang kuda membuat tubuhku terasa remuk," ujar Mehru sembari berbaring diatas tempat tidur.


"Aku juga. Mari kita tidur," ucap Kheirwn.


Baru saja mereka akan terlelap, sebuah ketukan dipintu mengganggu mata mereka yang masih ingin terpejam. Mehru dengan langkah enggan membuka pintu dan mendapati Seo berada diepannya. Seketika itu juga mata Mehru mendadak segar kembali.


"Maaf. Aku pasti mengganggu tidurmu ya?" tanya Seo.


"Ada apa?"


Seo menggeser tubuhnya sedikit, dan Mehru melihat seorang wanita cantik ada dibelakang pria itu. Wanita yang berkulit bersih, dengan dada yang membusung.


"Ada seorang murid pendatang dari desa yang lain. Aku ingin dia bergabung digubukmu agar dia tidak sendirian. Apa kamu tidak keberatan?"


"Tentu tidak. Silahkan masuk," ujar Mehru.


"Namaku Mesa. Senang bertemu kalian,"


Gadis itu memberikan senyum terbaiknya, dan masuk dengan membawa buntelannya.


"Aku undur diri dulu," ujar Seo.


"Emm." Mehru mengangguk dan menutup pintu.


"Apa dia temanmu?" tanya Mesa sembari menoleh kearah Kheiren yang tengah mendengkur.


"Ya. Dia temanku dari satu desa yang sama. Kamu kesini sendiri?"


"Tidak. Keluargaku sedang menjual barang dagangannya kedesa ini, jadi aku ikut serta."


"Ya. Tubuhku terasa letih sekali," Mesa berbaring ditempat tidur.


"Siapa namamu dan nama temanmu? aku hampir lupa menanyakannya."


"Namaku Mehru, dan temanku namanya kheiren."


"Mehru seperti apa desamu itu?"


"Mungkin desaku tidak sebagus desamu. Peradabannya masih jauh tertinggal, jika dibandingkan dengan desa ini. Terutama tentang ilmu pengobatan. Didesaku bahkan tidak memiliki Tabib dan dukun, untuk membantu warga yang terkena penyakit."


"Pasti sangat sulit hidup disana,"


"Bisa dibilang begitu. Bahkan pedagangpun sangat jarang datang kesana. Kami bisa menghasilkan uang, tapi tidak bisa membelanjakannya."


"Kalau begitu, bisa dibilang desa kalian yang terkaya dari desa lain. Apa yang kamu katakan sangat bertolak belakang dengan desa kami. Desa kami rata-rata pedagang, rumah-rumah disana lebih bagus dari disini. Cara berpakaian juga berbeda,"


"Iya. Aku melihat kain yang kamu gunakan sangat halus dan cantik."


"Orang-Orang mengatakan kain ini terbuat dari sutra. Aku tidak tahu bagaimana cara orang membuatnya, tapi ini memang sangat nyaman saat dipakai."


"Emm. Aku percaya. Lalu apa yang keluargamu jual?" tanya Mehru.


"Berbagai macam pernak pernik seperti yang kupakai ini, keluarga membelinya dari negeri seberang, dan menjualmya kembali ke desa-desa."


"Kulitmu juga halus dan cantik"

__ADS_1


"Ya. Didesaku para gadis memang berlomba menonjolkan kecantikkannya. Bahkan kami tidak pernah keluar rumah untuk berburu seperti para gadis desa lain pada umumnya."


"Eh?" Mesa melirik kearah busur dan panah Mehru dan Kheiren.


"Apa Itu milik kalian?"


"Ya. Didesaku tidak jauh berbeda dengan desamu. Para gadis memang suka berdiam diri dikamar dan bersolek. Mungkin hanya aku dan Kheiren yang tidak suka melakukan hal itu. Aku lebih suka dialam bebas, karena aku suka berburu."


"Maaf. Aku tidak bermaksud,"


"Tidak apa. Setiap orang memiliki kegemaran masing-masing."


"Apa kamu sudah memiliki kekasih?"


"Tidak ada."


"Tidak ada? bagaimana kamu bisa menghabiskan waktu belajar, sementara saat pulang tidak ada yang merindukanmu,"


Mehru terkekeh mendengar ucapan mesa.


"Aku belum menemukannya, bukan berarti aku tidak mau. Suatu saat jika sudah tiba waktunya, jodohku pasti akan datang juga. Kamu sendiri sudah memilikinya?"


"Tentu saja. Didesaku, bagi seorang gadis yang tidak memiliki kekasih, itu artinya dia harus lebih meningkatkan kecantikkannya. Jadi para pria bisa memilihnya."


"Sungguh unik desamu itu. Kalau aku yang ada disana, pasti tidak akan ada yang memilih gadis berkulit coklat sepertiku."


Mesa terkekeh dan Mehrupun ikut tertawa.


"Meskipun berkulit coklat, tapi kamu sangat manis."


"Terima kasih, jangan memujiku. Takutnya aku jadi tidak tahu diri," ujar mehru terkekeh.


"Baiklah Mehru. Aku ingin tidur sejenak, kita bisa bicara lagi nanti."


"Emm." Mehru mengangguk.


Mehru yang rasa kantuknya sudah menghilang, mencoba keluar gubuk untuk melihat-lihat wilayah sekitar tempat tinggal mereka. Tidak sengaja dia Melihat Seo yang seperti sedang memungut sesuatu.


"Apa yang kamu ambil?"


"Cendawan."


"Cendawan? apa itu bisa dimakan?" tanya Mehru.


"Untuk jenis ini bisa. Tapi ingat, tidak semua cendawan bisa kita makan. Ada juga cendawan yang beracun."


Mehru mengambil setangkai cendawan berwarna putih dari dalam keranjang. Mehru juga melihat batang pohon yang ditumbuhi banyak cendawan yang serupa.


"Bagaimana rasa Cendawan?"


"Malam ini aku akan membuatnya menjadi sup. Kamu bisa merasakannya sendiri."


"Lalu seperti apa jenis cendawan yang beracun?"


Seo menoleh kekiri dan kekanan, dan mendapati beberapa cendawan berwarna jingga menempel disebuah pohon yang sudah mati.


"Itu salah satu contoh cendawan beracun."

__ADS_1


Mehru mendekati cendawan itu dan memegangnya. bentuk dan tekstur cendawan itu memang sangat berbeda. Selain warnanya yang mencolok, teksturnya juga keras.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2