
Vano, Martin, Chio, dan Akira melongo, saat melihat penampilan baru Regent yang cukup membuat mereka tercengang. Bagaimana tidak? saat ini wajah baru Regent menampilkan seperti seorang pria yang berusia sekitar 40 tahunan. Dengan kulit yang sedikit gelap.
"Luar biasa," ucap Martin.
"Benar. Vano, bisakah kamu mencarikan aku calon istri seperti Megumi? kalau aku punya istri seperti dia, aku pasti akan kaya raya," tanya Chio.
"Tidak ada lagi wanita yang seperti Megumi dan juga Sarlince. Mereka berdua cuma ada dua di dunia. Kalian tidak akan menemukan lagi yang seperti dia." Jawab Vano.
"Jadi cukup menghayal saja," timpal Regent.
"Kamu yakin akan menyamar sendiri?" tanya Vino.
"Ya. Untuk sementara aku akan menyelidiki dulu tempat itu. Nanti setelah berhasil, baru kita akan bertindak bersama." Jawab Regent.
"Baiklah. Kamu harus berhati-hati Re," ujar Vino.
"Pasti," ujar Regent.
"Teman-Teman. Sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan pada kalian. Tadinya aku ingin cerita, setelah perang ini berakhir. Tapi aku rasa aku harus mengatakannya sekarang," ujar Akira.
"Ada apa?" tanya Regent.
"Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta pada Lucia. Aku tidak tahu kenapa perasaan itu muncul, tapi mau bagaimana lagi. Memang itu kenyataannya." Jawab Akira.
Suasana mendadak hening setelah Akira membuat pengakuan. Regent dan yang lain saling menoleh, dan kemudian tertawa keras secara bersamaan.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Akira.
"Itulah kalau terlalu sering menggoyang Lucia, kamu jadi ketagihan kan?" ucap Chio.
"Mana ada seperti itu. Ini tidak ada kaitannya dengan urusan ranjang. Ini murni urusan hati," ujar Akira.
"Tentu aja ada hubungannya. Cintamu itu datang dari bawah pusat, naik ke hati," ejek Martin yang membuat semua orang jadi terkekeh.
Pukkk
Regent menepuk pundak sahabatnya itu sembari tersenyum.
"Tidak ada yang salah dengan perasaanmu itu. Kamu bisa jujur dengan perasaanmu itu setelah perang ini selesai. Jadi Akira, kalau kamu ingin cepat menyatakan perasaanmu itu, kamu harus selamat dari perang ini. Jadi berhati-hatilah," ujar Abian.
"Iya." Jawab Akira penuh semangat.
"Sekarang aku harus pergi ke tempat orang yang menjual baju bekas," ujar Regent.
__ADS_1
"Baju bekas? tapi untuk apa?" tanya Vino.
"Karena aku akan menyamar sebagai warga sipil yang sedang mencari rumput untuk makanan kambing." Jawab Regent.
"Apa?"mereka terkejut saat mendengar perkataan Regent.
"Kenapa? itu penyamaran yang efektif. Aku juga rencananya mau membeli arit dan karung. Juga sepeda motor butut untuk menunjang rencanaku," ujar Regent.
"Daripada beli, sewa saja punya warga sekitar. Biar lebih meyakinkan," timpal Akira.
"Benar juga. Lagipula tempatnya lumayan jauh kalau mau bawa motor butut," ujar Vino.
"Ya sudah kalau begitu aku mau cari baju bekas dulu," ujar Regent.
"Cari yang lengan panjang Re. Soalnya wajah dan kulit tangan kamu nggak terlalu sama. Masih putih kulit tangan kamu," ujar Martin.
"Oh ya? kalau begitu terima kasih sudah mengingatkan," ujar Regent.
Regent kemudian keluar dari tempat itu, menuju pasar tradisional yang menjual pakaian bekas. Setelah mendapat apa yang dia cari, Regent segera kembali ke Labor raksasa.
Keesokkan harinya Regent mulai melancarkan aksinya. Dia pergi bersama Megumi dan Vino yang mengantarnya ke lokasi.
"Disini titik terakhirmu waktu itu. Sayang, jalannya sedikit pelan," ujar Megumi.
"Kalau itu benar. Bagaimana cara mengetahui di dalam ada rumput atau tidak? mereka tidak akan mengizinkan orang masuk sembarangan," ujar Regent.
"Sayang. Hentikam mobilnya di ujung pagar itu!" ujar Megumi.
Vino menuruti ucapan Megumi. Mobil itu berhenti di ujung pagar.
"Coba lihat itu. Disamping pagar ini semuanya lahan kosong yang ditumbuhi semak belukar. Kalau dibalik tembok ini tidak terawat, itu artinya di dalam dipenuhi semak belukar juga. Atau pohon-pohon lainnya. Kuncinya cuma satu, kamu harus pastikan dulu dibalik tembok ini ada apa? dan itu bisa dilihat lewat pintu terali itu," ujar Megumi sembari menunjuk kearah teralis bagian ujung tembok.
"Berdo'a saja tidak ada penjaga di pintu itu," timpal Vino.
"Baiklah. Aku akan pergi kesana," ujar Regent.
"Baiklah kami akan menunggumu sekitar 100 meter lagi dari sini," ujar Megumi.
"Oke." Jawab Regent.
Regent keluar dari mobil, dan mulai berjalan kearah pagar teralis. Meski pagar itu di gembok, tapi Regent bisa melihat, kalau tempat itu tidak terawat. Banyak rumput liar yang tumbuh disana, meskipun ada juga beraneka ragam pohon yang sepertinya sengaja ditanam disana.
"Apa tidak ada penjaganya ya?" gumam Regent.
__ADS_1
"Mau cari apa?" seorang pria berkulit hitam dengan rambut gondrong mengejutkan Regent.
"Permisi mas, saya mau cari rumput buat makan kambing. Boleh cari rumput di dalam ndak mas?" Regent sengaja mengubah logat suaranya sedikit lebih kental.
"Nggak boleh pak. Diujung tembok ini juga banyak rumputnya. Sampeyan silahkan cari disana saja." Jawab pria itu.
"Tapi rumputnya ndak ada yang saya cari mas. Mungkin di dalam sini ada," ujar Regent.
"Maaf pak. Tempat ini nggak boleh dimasuki sembarang orang. Jadi cari di tempat lain saja," ujar pria berambut gondrong itu.
"Oh gitu ya? ya sudah. Makasih mas, permisi." Ucap Regent.
Regent berbalik arah. Sembari berjalan dirinya sembari berpikir keras.
"Aku tidak punya ilmu peringan tubuh seperti Sarlince. Seharusnya aku membawa jangkar, agar bisa melompati pagar dari samping tembok ini. Aku bisa memperkirakan 100 langkah kebelakang. Jalan ini dipenuhi semak belukar, pasti nggak ada seorangpun yang memperhatikan," batin Regent.
"Kalau begitu aku akan diskusikan lagi dengan Megumi dan juga Vino," Regent menghubungi Megumi dengan ponsel Micro.
"Kembali lagi ketempat tadi. Misi pertama gagal," ujar Regent.
"Oke." Jawab Megumi.
Megumi dan Vino kembali ke titik dimana mereka berpisah.
"Turunlah!" ujar Regent.
"Ada apa?" tanya Megumi.
"Aku berpikir bagaimana caranya agar aku bisa melompati tembok ini. Tapi setelah aku pikir-pikir pasti akan menarik perhatian. Kalau benar kata Sarlince, itu artinya ada banyak pipa diatas tanah yang harus kita cari. 100 meter dari sini barulah bertemu dengan bangunan yang membawaku ke ruangan itu. Menurutmu selain melompat dari atas, cara apalagi yang bisa kita tempuh untuk masuk kedalam sana?" tanya Regent.
Mereka bertiga tampak berpikir keras, sesaat kemudian Megumi menyunggingkan senyuman.
"Aku tahu caranya," ujar Megumi.
"Apa?" tanya Regent dan Vino bersamaan.
"Jika memang tempat itu berada dalam bumi, kenapa kita tidak membuat terowongan saja dari bawah?" ujar Megumi.
"Ah...Megumi. Vino bolehkah aku memeluk istrimu?" tanya Regent.
"Enak aja. Apa kamu rela kalau Sarlince aku peluk?" tanya Vino.
Regent menggaruk-garuk kepalanya sembari nyengir-nyengir kuda.
__ADS_1